Skip to content

Tentang Pekerjaan

cr: pexels.com/@ann-nekr-3111643

Pertengahan bulan ini cukup sedih karena seorang atasan resign. Atasan yang bukan cuma atasan biasa, melainkan atasan yang begitu berkesan. Sosok perempuan yang luar biasa. Tegas tapi mengayomi. Sangat bertanggung jawab sekaligus sangat hangat pada semua anggota timnya. Ketika ada perpisahan virtual melalui Google Meet, lalu masing-masing menyampaikan pesan kesannya, dari semua yang diucapkan rekan-rekan kerja yang lain waktu itu, jelas sekali terasa ia adalah sosok yang istimewa. Seseorang yang bekerja dengan ketulusan hati memang punya sinarnya sendiri.

Saya sangat bersyukur bekerja dengan rekan-rekan yang sudah seperti teman. Tak pernah terbayangkan saya bisa bertahan di satu “rumah kerja” selama tujuh tahun. Saya sebut “rumah kerja” karena memang kantornya adalah rumah, tapi di rumah itu ada kantor, ya begitulah pokoknya. Dulu sempat terpikir saya nggak akan betah bekerja kantoran. Sehingga pernah mencoba untuk menjadi freelancer selama sekitar dua tahun, lalu memantapkan hati untuk menjadi pengabdi gajian bulanan lagi. Saya sempat menyangka tak akan bertahan di satu kantor yang sama selama lebih dari satu tahun. Namun, nyatanya di kantor yang sekarang saya masih menetap juga.

Seseorang yang bekerja dengan hati memang berbeda. Seperti atasan saya yang memutuskan untuk resign ini. Yang diingat bukanlah soal tekanan atau target-target pekerjaan yang ia berikan, melainkan bagaimana cara ia memperlakukan anggota timnya. Mendapat kiriman kukis darinya saat bulan puasa lalu pun terasa begitu istimewa. Selalu ditraktir tiap ia ulang tahun pun menjadi momen yang selamanya tak akan pernah terlupakan. Mendapat pengalaman seperti ini di tempat kerja sungguhlah hal yang sangat disyukuri.

cr: pexels.com/@andreaedavis

Dulu sekali saya pernah berangan-angan menjalani hidup bersantai tanpa harus bekerja. Cukup menikah dengan orang kaya raya lalu tak perlu bekerja seumur hidup, hehe. Astaga, pemikiran macam apa itu? Sampai dalam perjalanannya, saya menyadari bahwa bekerja bukan cuma untuk cari uang semata.

Punya gelar sarjana pendidikan, tapi saya memutuskan untuk tidak menjadi pendidik. Tidak menjadi guru atau dosen. Sempat menjadi tentor bahasa Inggris selama beberapa waktu, tapi setelah ngantor sudah tak pernah mengajar lagi. Pekerjaan yang saya jalani saat ini tak jauh-jauh dari dunia yang memang sudah saya sukai dari dulu.

Bekerja di bidang yang disukai bukan berarti semuanya berjalan lancar. Tentu ada masa-masa stres dan tertekan. Ada saat-saat jenuh dan kehilangan semangat. Tetap ada target dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Saya rasa itu hal yang wajar. Namanya juga kerja, pasti ada capeknya juga, kan?

Lalu, terbayang lagi andai saya tidak bekerja, apa yang akan saya lakukan dalam keseharian? Pernah waktu awal-awal kembali bekerja kantoran dulu, saya malah sakit ketika hari libur. Ketika sudah terbiasa bekerja dan punya rutinitas bekerja, lalu mendapat hari libur yang terasa kosong, jadinya kok malah tambah stres, ya. Nggak ngapa-ngapain bisa terasa lebih stressful daripada yang dibayangkan, hehe.

Ada masa-masa kesibukan saya penuh dengan urusan pekerjaan. Di kantor kerja, di rumah juga kerja. Menyelesaikan target pekerjaan kantor, juga memenuhi tenggat pekerjaan sampingan. Namun, setahun belakangan ini saat harus WFH karena pandemi, fokus saya cuma di pekerjaan kantor saja. Sudah saatnya kali ini mulai mempertimbangkan rencana untuk menikah (eh, gimana?)

Semakin bertambah usia, saya makin menyadari pentingnya pekerjaan bagi seseorang. Pekerjaan yang ditekuni seseorang bisa memengaruhi banyak aspek kehidupannya. Bukan cuma soal kesejahteraan atau banyaknya penghasilan yang didapat, melainkan juga kebahagiaan dan kepuasan batin. Bukan sekadar bentuk aktualisasi diri tapi juga untuk memperluas kesempatan menebar manfaat. Saya sendiri merasa bahwa masih ada banyak hal yang perlu ditingkatkan lagi dalam rutinitas bekerja. Masih ada banyak hal yang perlu saya pelajari dan terus perbaiki dalam keseharian saya bekerja. Belum banyak manfaat yang bisa saya hadirkan. Belum banyak arti yang bisa saya tebarkan dari pekerjaan saya.

Semoga pekerjaan apa pun yang kita tekuni dan geluti bisa menghadirkan manfaat, ya. Semoga rutinitas dan keseharian kita dalam bekerja bisa menghadirkan berkah tersendiri. Cuma kalau capek kerja, ya nggak apa-apa juga istirahat.

Published inCLARITY

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *