Skip to content

Tag: how is life

Karakter

cr: pexels.com/@marta-wave

Mengenal karakter seseorang tak selalu mudah. Kadang ada banyak lapisan yang harus dibuka. Ada banyak penghalang yang perlu ditembus. Bahkan perlu melihat dari berbagai arah untuk menemukan karakter sejati seseorang.

Fokus

cr: pexels.com/@arts

Kadang saat sedang kecapekan atau (sok) kebanyakan pikiran, kemampuan untuk fokus mengerjakan sesuatu bisa menurun. Makin tidak teliti dan rasanya jadi gampang capek luar biasa. Mungkin penyebabnya bisa karena burn out juga. Seperti yang baru saya alami ini, dapat email untuk segera mengecek file yang ternyata belum saya revisi dengan benar sesuai instruksi.

Sampai Sejauh Ini

cr: pexels.com/@ann-martynova-1804168

Ya, akhir tahun sudah di depan mata. Apa kabar hari-hari yang sudah dilalui? Sejak WFH tahun lalu, rasanya waktu bergulir begitu cepat. Apakah karena menikmati semua waktu yang ada atau karena rutinitas yang cenderung monoton? Apa pun itu, bisa bertahan hingga detik ini sudah sepatutnya disyukuri.

Meraih, Melepas, Menerima, dan Alur yang Menyertainya

cr: pexels.com/@rlldied

Masih banyak yang ingin digapai. Begitu banyak hal yang ingin bisa didapatkan dan dirasakan. Hanya saja mustahil untuk bisa meraih semua hal yang diinginkan. Ada saatnya perlu melepas hal-hal yang tak bisa lagi digenggam. Serta, perlu memiliki kemampuan menerima kenyataan yang ada tanpa “tapi” dan tanpa “andai saja”. Hidup selalu disertai dengan alur dan siklusnya sendiri. Mengikuti dan mengalir berdasarkan kehendak Sang Pemilik Semesta.

Yang Disebut Rumah

cr: pexels.com/@charlotte-may

Apa arti rumah untukmu? Masing-masing dari kita pasti punya cara sendiri dalam memaknai rumah. Bisa memaknainya dalam bentuk wujud bangunannya, bisa juga memaknainya dengan kehadiran orang-orang tertentu di dalamnya.

Sudah 19 bulan ini saya merasakan tinggal sendirian di rumah. Hm, nggak sepenuhnya sendirian juga sih karena sesekali bapak ibuk juga menginap di sini. Beberapa teman pun sudah ada yang pernah bermalam di sini. Rasanya masih belum percaya saya akan mendapatkan pengalaman seperti ini: pengalaman tinggal di rumah sendiri, (sementara masih) sendirian.

Menerima Diri

cr: pexels.com/@jill-burrow

Sekitar sepekan yang lalu saat bertelepon dengan seorang sahabat, dia menceritakan soal salah satu teman kami yang baru dibelikan ponsel baru oleh suaminya. Dia pun menyebutkan nominal harga ponsel itu yang menurut kami tergolong mahal. “Wah, dengan harga segitu sudah bisa beli laptop baru plus televisi baru dan ponsel merek lain yang tak kalah bagus,” kira-kira itulah respons saya waktu itu.

Merawat Hari

cr: pexels.com/@cottonbro

“Hidup ini mempunyai irama yang janggal. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk bisa menyadari hal ini. Sekian dekade. Bahkan berabad-abad. Irama yang tidak mudah. Bagaimanapun, irama itu tetap ada. Kecepatannya berubah dan turun-naik. Di dalam struktur ada struktur, dan di dalam pola tersimpan pola. Sungguh mengagumkan.”

(How to Stop Time, hlm. 316)

Beberapa hari lalu saya membaca novel How to Stop Time. Sejak membaca karya Matt Haig yang berjudul Reasons to Stay Alive, tiap kali ia menerbitkan buku baru dan sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia, saya langsung berusaha untuk mencarinya. Sebagai penyintas bunuh diri, ia pun menulis buku (nonfiksi dan fiksi) yang temanya tak jauh-jauh dari soal kehidupan dan makna hidup. Tema yang ia angkat ini pun selalu menarik untuk diikuti.