Skip to content

Sangka Baik

cr: pexels.com/@ann-nekr-3111643

Bersangka baik (husnu al-zhan) kepada Allah lahir dari keyakinan bahwa Allah Mahabaik, Maha Pengasih dan Maha Penyayang lagi senang mengampuni bahkan secara tegas Dia sendiri menyatakan dalam hadis qudsi, “Aku menyesuaikan diri dengan sangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersama dia ketika ia berdoa/memohon kepada-Ku.” (HR. Bukhari).

Kosakata Keagamaan hlm. 382)

Sebenarnya selama kita selalu bersangka baik, kita bisa bahagia dan nyaman menjalani kehidupan. Tidak lagi mengutuk keadaan. Tidak lagi meratapi situasi. Tidak lagi menolak realitas yang ada. Tapi oh tapi… bersangka baik ternyata nggak semudah teori, ya setidaknya itu yang saya rasakan sendiri. Lebih banyak khilafnya dan bikin alasannya daripada fokus bersangka baik setiap waktu, uhuk!

Kalau diingat-ingat lagi rasanya saya lebih banyak berprasangka buruk daripada berprasangka baik. Rasanya lebih mudah menghadirkan yang buruk-buruk daripada mengundang yang baik-baik. Satu prasangka buruk bisa menguasai benak dan pikiran serta diri sendiri dalam kurun waktu yang lama. Sungguh masih harus lebih banyak belajar dan berusaha memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Ada satu hal yang semakin mengusik benak beberapa waktu belakangan ini. Sebenarnya perkara ini sudah ada sejak dulu, tapi beberapa waktu terakhir ini terasa semakin intens. Ada hari-hari yang rasanya begitu suram dan gelap untuk dilalui saat sebuah prasangka buruk muncul. Bahkan perasaan putus asa bisa yang menyelimuti bisa begitu menakutkan.

Sungguh luar biasa orang-orang yang senantiasa bisa berprasangka baik untuk semua hal. Saya masih belum bisa benar-benar konsisten untuk melihat sisi baik dari segala sesuatu. Menyalahkan situasi dan keadaan pun masih sering saya lakukan. Kalau sudah begini, yang dirasakan adalah perasaan yang semakin pahit dan getir.

Husnu al-zhann kepada Allah mengharuskan memelihara harapan kendati yang diharapkan belum tercapai, karena hilangnya harapan sama dengan berprasangka buruk kepada-Nya. Harapan itu adalah pada tempatnya, yakni dengan berusaha menyesuaikan sikap dengan keyakinannya kepada Allah.

Kosakata Keagamaan, hlm. 383

Memelihara harapan. Bila dipikir-pikir salah satu alasan yang kadang membuat kita berprasangka buruk adalah karena kita tak melihat adanya harapan baru. Tak ada harapan baru, buat apa memikirkan yang baik-baik? Mungkin kira-kira seperti itu.

Padahal harapan baru selalu ada. Kita sebagai manusia jelas punya keterbatasan dan kekurangan. Saya pun entah sudah berapa kali berprasangka buruk atas hal-hal yang terjadi. Entah sudah berapa kali saya protes soal kenapa begini dan begitu. Saya sadar itu bukan hal baik, dan karena itulah saya kini berusaha semakin keras untuk senantiasa mengingatkan diri akan pentingnya berprasangka baik.

Yang sudah, ya sudah. Yang berlalu, ya biarlah. Yang pergi, relakan saja. Yang tak bisa digenggam, lepaskan sudah.

Untuk hal-hal yang belum kita dapatkan, mungkin kita masih diberi lebih banyak waktu untuk berproses menjadi lebih baik agar bisa benar-benar layak menerima yang kita harapkan. Untuk sesuatu yang belum bisa diraih, mungkin saja memang kita masih harus melewati ujian-ujian baru agar lebih kuat ketika nantinya yang kita mau itu sudah ada dalam genggaman.

Ada Allah. Ada Sang Pemilik Jiwa.

Kepada-Nya kita perlu senantiasa berprasangka baik. Semua yang terjadi dan kita alami saat ini tentu tak lepas dari skenario terbaik dari-Nya.

Published inCLARITY

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *