Skip to content

Realitas

Ketika bengong di Bandara Ngurah Rai.

Akhir tahun 2019 membuat keputusan besar dengan membeli sebuah rumah. Jelas campur aduk rasanya, bahkan butuh waktu yang lama untuk memantapkan hati membuat pilihan itu. Meski rumah yang dibeli cuma sepetak ini, tetap saja keputusan untuk merelakan semua tabungan yang ada untuk sebuah hunian tidaklah mudah. Saat akhirnya bisa menempati rumah (yang masih seadanya hingga saat ini), memang ada rasa lega. Namun, realitas yang ada ternyata masih cukup kompleks, apalagi ketika harus dihadapi seorang diri.

Menantikan SHM untuk sampai di tangan pun ternyata prosesnya lama dan panjang. Entah sudah berapa kali rasanya saya ingin mara-mara sendiri, hehe. Belum lagi dengan proses yang terasa begitu “abu-abu”. Ini pertama kalinya beli rumah dan semua prosesnya pun begitu baru. Cukup kaget dengan hal-hal yang terjadi di luar dugaan. Sungguh ya punya tabungan dan dana cadangan itu sangat penting. Ya Allah, paringi rezeki ingkang cukup.

Semakin bertambah usia, rasanya realitas yang dihadapi tak serta merta semakin mudah. Tanggung jawab bertambah. Beban hidup tak semakin ringan. Persoalan yang tadinya terasa simpel ternyata bisa bertumbuh jadi sangat kompleks.

Realitas yang dihadapi dari waktu ke waktu bisa sangat berbeda dan jauh sekali dari dugaan. Sering kita menerka semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Akan tetapi, realitas bisa menyimpang jauh dari semua prediksi dan dugaan yang ada. Bahkan saat ada sesuatu yang berhasil diwujudkan, perjalanan berliku tak berhenti di situ begitu saja. Lengah sedikit, bisa terjatuh makin jauh.

Sepertinya salah satu keahlian atau kemampuan penting yang perlu dimiliki dalam hidup adalah perkara menerima realitas dengan ikhlas. Banyak pergolakan batin dan rasa sedih yang muncul karena kita tak bisa menerima realitas yang ada. Sebenarnya amat sangat wajar kita merasa sedih saat realitas jauh dari ekspektasi dan harapan. Lumrah saat kita merasa seakan terkhianati ketika yang kita perjuangkan ternyata tak bisa berada dalam genggaman. Namanya juga manusia, tapi bukan berarti kita terus mengutuk dan meratapi realitas yang ada. Yang sudah, ya sudah. Yang terlepas, biarkan saja. Nggak mungkin terus membebani diri dengan berbagai ekspektasi yang berlebihan lagi.

Menghadapi realitas-realitas yang ada seorang diri, benar-benar banyak sekali ujiannya. Selalu saja ada hal yang dianggap tak pas ketika sudah berada dalam suatu pilihan. Selalu saja berbagai macam pengandaian jika membuat pilihan lagi. Akan tetapi, sekali lagi dan sepertinya ini yang perlu selalu ditegaskan setiap waktu, segala sesuatunya sudah diatur sebaik-baik-Nya oleh Sang Maha Segalanya.

Bahkan kesedihan dan perasaan terluka yang kita rasakan ini tak lepas dari pemberian-Nya. Realitas yang ada saat ini mungkin tak seratus persen sesuai dengan harapan, tapi ini yang terbaik dari-Nya.

Tadinya punya impian saat punya rumah akan langsung memberi furnitur ini dan itu. Langsung mendekorasi atau mendesainnya dengan gaya tema tertentu. Tapi oh tapi kenyataannya masih ngos-ngosan untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan esensial dan paling dasar. Dapur pun masih seadanya. Duduk di ruang tamu masih melantai, hehe. Ya sudah, syukuri dulu semua (berulang kali mengingatkan diri akan hal ini tapi berulang kali juga mengabaikannya, hiks), bisa tidur tenang tiap hari sungguhlah sebuah berkah yang luar biasa. Realitas yang ada saat inilah yang terbaik dari-Nya. Ya Rabb, terima kasih.

Published inCLARITY

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *