Skip to content

Ramadan Tahun Ini

Last updated on 05/20/2021

cr: unsplash.com/@invictar1997

The events in your life are purposeful, relevant, appropriate, and nonrandom. You will experience whatever serve you best at this moment. God knows precisely what to give to you to help you return to The One.

You are exactly where God wants you to be right now. Every experience, every trial, every emotion is part of the Divine plan. The pens have been lifted, and the ink has dried.

I pray that your soul never loses faith in God.

Love, hlm. 141

Kalau ditanya apa pencapaian Ramadan tahun ini? Mungkin jawabannya adalah sebulan penuh mengendap di rumah. Hehehe. Sungguh bukan jawaban yang memuaskan, ya. Tapi memang selama Ramadan ini tidak ke luar rumah sama sekali, bahkan ke luar gang pun tidak. Benar-benar full di rumah. I think I’ve mastered the art of being a homebody.

Tahun ini merupakan tahun kedua menghabiskan Ramadan di rumah sendiri. Cuma bedanya kalau tahun lalu tiap buka puasa masih ke rumah ortu, kali ini buka puasa tetap di rumah. Jadi, memasak pun sendiri untuk buka puasa yang juga… sendiri.

Sungguh sebulan ini tidak ke luar rumah sama sekali. Stok bahan-bahan memasak nitip ke ibuk untuk kemudian diantar bapak ke rumah. Stok bahan-bahan lain beli secara online. Kalau biasanya selama WFH masih ke luar sebulan sekali untuk berbelanja ke swalayan, bulan Ramadan ini sama sekali nggak sowan swalayan atau minimarket. Mager to the max!

Masih bekerja dari rumah juga, jadi sehari-hari melekat dengan laptop. Alhamdulillah sebulanan ini Allah mudahkan untuk bangun sahur. Tidak pernah terlambat bangun sahur. Meski menu sahur pun kebanyakan pakai oatmeal yang dimasak malam sebelumnya, lalu disimpan di dalam kulkas untuk langsung dimakan saat sahur biar tidak terburu-buru saat sahur, tetap saja kadang deg-degan kalau bangun kesiangan selama Ramadan ini. Setelah sahur dan Subuhan biasanya akan tidur lagi biar pas kerja seharian tidak ngantuk. Sebenarnya bisa saja meluangkan waktu tidur siang saat kerja, tapi nanti kerjaan jadi nggak beres-beres.

Sederet alarm dan WA dari Bapak untuk bangun sahur 😀

Kalau untuk sajian buka puasa, saya nggak terlalu rewel sih sebenarnya soal makanan. Menu simpel pakai telur, sayur, dan wortel pun sudah cukup. Untuk takjil pun cukup pakai kurma, buah, atau jeli. Jadi, stok makanan nggak beda jauh sama hari-hari biasa. Dimakan sendiri ini, jadi nggak perlu ribet-ribet masaknya biar nggak ribet juga cuci piringnya, hehe.

Belum Bisa Puasa Medsos

Sungguh dilema terkait rutinitas buka medsos. Kadang ingin mengurangi buka medsos, tapi masih ada kebutuhan untuk pakai medsos. Kalau nggak kebutuhan untuk kerjaan, ya kebutuhan untuk menghalau rasa bosan, hehe.

Kalau biasanya cuma pakai Twitter buat sharing hal-hal unfaedah, selama Ramadan ini malah sering pakai IG story untuk mendokumentasikan hal-hal yang tak kalah unfaedahnya. Malah kadang pas baru bangun, yang dibuka pertama kali adalah IG, duh sungguh “optimal” sekali pemanfaatan waktu yang ada di hidup ini.

Harapan-Harapan

Tentu saja ada banyak harapan baru yang dirangkai tahun ini. Tahun lalu ada banyak hal yang diminta dengan cara ngotot. Eh, tahun ini masih ada juga sih keinginan yang ingin segera dikabulkan dengan cara ngotot juga, hehe. Masih banyak khilafnya saya ini.

Mungkin memang ini saatnya untuk lebih sabar lagi. Lebih banyak berprasangka baik lagi. Kalau memang sedih, ya sudah diterima saja rasa sedihnya. Wong tinggal nangis aja, ya kan. Kalau memang lagi marah, ya sudah diperbanyak cara untuk meredamnya. Mungkin memang teorinya lebih mudah daripada praktiknya, tapi ya sudah pelan-pelan saja. Yang penting nggak berhenti berharap. Yang penting nggak berhenti berdoa. Hiks, ini self reminder yang masih sering dilupakan sendiri, sih.

Kembali ke Dasar

Setiap sahur saya biasanya mendengarkan kajian DR.KHM.Luqman Hakim di kanal YouTube Sufi News. Daripada bengong aja saat makan jelang Subuh, mending sambil mendengarkan sesuatu biar nggak terlalu sepi suasananya, ya kan? Apalagi kajian dari beliau ini tampaknya menjadi hal yang benar-benar saya butuhkan saat ini, dan Allah perkenankan ada waktu untuk bisa mengikuti pembahasannya.

Tentu saja ada banyak kekurangan yang ada di dalam diri ini. Begitu banyak aib dan keburukan yang Allah tutupi dari diri ini. Selama ini kadang saya terlalu tinggi hati dan malah mengatur-atur rancangan dan skenario-Nya. Merasa ada takdir-Nya yang salah dan ada hal-hal yang tak semestinya terjadi atau saya alami. Padahal segala sesuatunya mengikuti skenario terbaik dari-Nya. Diri ini cuma seorang hamba yang sudah semestinya ridlo juga dengan semua ketetapan-Nya.

Tidak ada yang benar-benar kita punya di dunia ini. Semuanya tak lebih dari sekadar titipan. Jadi, nggak ada perlu disombongkan juga. Duh, langsung malu sama kebodohan-kebodohan sendiri yang kadang masih terlalu menyombongkan hal-hal yang sebenarnya bukan apa-apa.

Masih banyak hal yang perlu saya pelajari lagi, khususnya soal perkara doa. Kadang ada rasa ragu apakah setiap doa didengar? Apakah setiap doa diijabah? Apakah setiap doa akan sampai kepada-Nya? Kemudian menyadari bahwa bisa berdoa saja merupakan sebuah anugerah tersendiri. Kita ditakdirkan untuk bisa berdoa itu saja sudah sebuah keistimewaan sendiri. Hidup ini bukan kita yang punya, jadi untuk apa ragu berdoa kepada Sang Pemilik Kehidupan. Kita selalu butuh Allah, jadi kita perlu berdoa. Setiap doa pasti diijabah dengan cara-Nya, cuma seringkali saya yang terlalu ngotot mendikte-Nya untuk mengabulkan setiap doa menurut keinginan sendiri. Sungguh banyak sekali dosa yang sudah saya buat.

Memperbanyak syukur, ini menjadi latihan yang perlu dibiasakan setiap waktu. Ridlo dengan semua ketetapan-Nya, ini menjadi hal yang perlu senantiasa ditanamkan dalam diri sendiri. Segala sesuatu sudah diatur oleh-Nya. Semua mengikuti skenario terbaik-Nya. Kita cuma seorang hamba yang hanya perlu manut kepada Sang Pencipta kita.

Hati yang Tenang

Sendirian saja selama Ramadan apa nggak sedih? Iya mau bagaimana lagi, dijalani saja yang ada. Masih banyak hal yang perlu disyukuri daripada cuma fokus bersedih. Bisa tidur di kamar dan melihat langit-langit kamar sendiri (bukan langit-langit rumah sakit seperti pengalaman waktu operasi tahun lalu dan “staycation” di sana beberapa hari) saja sungguh alhamdulillah. Bisa makan cukup, bisa bekerja di rumah tanpa kepanasan, dan bisa memiliki banyak waktu untuk diri sendiri, itu semua sudah cukup saat ini.

Masih bisa terhubung dengan teman-teman meski hanya lewat pesan teks juga perlu disyukuri. Masih sempat buka bersama dengan teman SMP (meski nggak seramai tahun-tahun sebelumnya) juga perlu disyukuri. Masih bisa mendapatkan pengalaman berbeda tahun (meski kadang bikin perasaan campur aduk) juga disyukuri saja. Masih bisa berbagai story unfaedah di IG pun tetap bikin bahagia, hehe meski mungkin isi story-nya nggak jelas tapi ya udahlah ya mohon dimaklumi. Masih bisa bangun tiap hari tanpa sakit juga amat sangat disyukuri. Ya, dijalani saja semua.

Rasa gelisah, takut, dan khawatir memang masih ada. Kadang pikiran seakan sudah menjadi seonggok manusia yang useless, hopeless, dan akhlak-less pun muncul. Ada saat-saat rasanya menemui jalan buntu dan bingung harus ke mana atau melakukan apa. Kalau sudah begini, kembali bersandar kepada-Nya jadi satu-satunya penenang diri.

Berada di sini. Saat ini. Melalui dan merasakan semua ini. Tak ada yang tak mengikuti ketetapan-Nya. Kudu ridlo dengan semua yang ada biar Allah juga ridlo dengan diri kita. Kudu taat hanya kepada-Nya supaya hidup ini tenang.

Masih banyak hal yang perlu diperbaiki dari diri ini. Sungguh sangat bersyukur masih bisa berjumpa dengan bulan Ramadan kali ini. Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi dalam menjalani peran sebagai manusia dan seorang hamba. Semoga ke depannya bisa lebih kuat lagi dalam mengatasi setiap ujian kehidupan yang ada. Senantiasa berdoa, tak berhenti berharap, melakukan usaha-usaha terbaik yang diridloi-Nya, dan manut dengan semua takdir-Nya.

Tulisan ini tak ubahnya sebagai pengingat untuk diri sendiri. Pengingat bahwa masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan ke depannya. Duh, apalah saya yang masih bagai setitik butiran debu.

Tahun ini sendiri, semoga tahun depan ada yang membersamai, di-aamiin-kan saja ya, namanya juga berdoa. Jadi, apa yang akan dilakukan setelah Ramadan tahun ini berakhir?

Published inCLARITY

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *