Skip to content

Persepsi Waktu

cr: pexels.com/@15362453
sense of time = persepsi waktu

“Our most ancient clocks are inside of us,” pernyataan ini saya temukan waktu menonton episode Time dalam docuseries berjudul Explained. Beberapa waktu terakhir, selain masih setia mengikuti drama Korea dan sejumlah serial (sungguh “sibuk” ya tampaknya hari-hari belakangan ini, hehe), saya keranjingan nonton docuseries. Menyenangkan rasanya bisa mendapat banyak sisi menarik dan penjelasan dari para pakar tentang sejumlah fenomena yang ada di sekitar kita, bahkan sangat dekat dengan kita, melalui episode-episode yang menyegarkan dalam docuseries.

Ya, jam kita yang paling kuno ada di dalam diri kita. Ada ritme sirkadian di dalam tubuh kita. Pastinya kita pun pernah merasa atau sering merasa pada jam-jam tertentu mulai merasa mengantuk. Atau bahkan punya jadwal tidur dan bangun yang sama, sehingga tanpa dibangunkan alarm pun sudah melek secara otomatis. Ada “jam” tersendiri di dalam tubuh kita yang menjadi penanda hal-hal penting yang perlu dipenuhi oleh tubuh dan pikiran.

Waktu berjalan (terasa) sangat cepat. Kini, sudah memasuki tahun yang baru. 2022. Pergantian tahun, well, tidak ada perayaan istimewa seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan pada malam pergantian tahun baru kali ini, tadinya saya berniat tidur lebih awal tapi malah akhirnya “ikut begadang” gara-gara ada tetangga yang heboh bukan main jelang tengah malam. Jadinya, ya sudah saya rebahan saja sambil maraton sejumlah tontontan di Netflix.

Masih menyinggung soal Time, ada hal yang menarik terkait stres dan perasaan kita dalam melewati waktu. “Stress can make things drag out.” Stres bisa membuat keadaan terasa lama.

Jadi, kalau saya merasa waktu berjalan begitu cepat, apakah hidup saya sedang bebas stres? Hehe.

Saat stres, memang kadang kita merasa begitu tertekan dan sumpek sampai waktu terasa begitu lama. Hari-hari yang dilalui dalam keadaan tertekan bisa begitu menyiksa. Sedangkan kalau sedang hepi, waktu bisa terasa begitu cepat. Seperti ketika pergi liburan atau menghabiskan hari Minggu untuk maraton serial kesukaan, hari bisa berlalu begitu saja.

“You can’t feel sorry for yourself. Got to keep going.”

After Life

“Have you ever thought that if you could go back in time you probably wouldn’t make the same decisions?”

“All the decisions we made in the past, they take us inexorably to our future.”

Money Heist

Masa lalu nggak akan bisa diputar kembali. Nggak akan bisa kita mundur lagi ke hari-hari yang sudah berlalu. Jadi, daripada menyesali waktu yang telah berlalu, ada baiknya untuk lebih fokus jalani yang ada saat ini. Melakukan yang terbaik hari ini. Nggak sempurna nggak apa-apa, asal sudah berusaha sebaik mungkin.

Semua keputusan yang kita buat di masa lalu jelas memengaruhi masa depan kita, bahkan terasa di masa kini. Kalau pun bisa mundur lagi, bisa jadi kita masih akan membuat keputusan yang sama. Sebab ya pilihan dan keputusan yang kita buat sangat dipengaruhi oleh perasaan dan pertimbangan kita, dan yang memiliki perasaan dan pertimbangan itu tetap orang yang sama, yaitu diri kita sendiri.

Tahun berganti. Saatnya untuk kembali melangkah lagi.

cr: pexels.com/@15362453

Sepanjang tahun lalu ngapain aja? Kalau diingat-ingat, hari-hari yang berlalu selama setahun berpusat di rumah. Masih bekerja dari rumah. Masih berupaya untuk terbiasa dan membiasakan diri menghadapi dan menerima sejumlah perubahan yang ada.

Ada hal-hal yang belum bisa dimiliki atau didapatkan. Ya sudah, tidak apa-apa.

Ada harapan yang masih belum tersanding dengan kepastian jawaban. Tak apa.

Masih sering melakukan kesalahan, bahkan mengulang kesalahan yang sama. Hm, kalau yang ini sepertinya perlu segera diperbaiki, hehe.

Ada hal-hal yang memang bisa ditanggapi dengan “tidak apa-apa”, tapi ada juga yang sebaiknya ditanggapi dengan “saatnya untuk memperbaiki dan tak mengulang kesalahan yang sama”. Tentu hal ini tidak mudah, tapi masih bisa dicoba.

“Why should I always feel guilty when my life is going well?”

An Astrological Guide for Broken Hearts

Kadang ada perasaan aneh yang hadir ketika melewati hari-hari yang ada. Seperti ketika segalanya sebenarnya berjalan baik-baik saja dan tak ada masalah, tapi yang dirasakan malah rasa bersalah. Seakan ketika menjalani waktu yang ada, ada kesempatan atau peluang yang dilewatkan. Semacam ada hal yang harus dilakukan dan harus diubah saat ini juga, sekarang juga. Meski ketika melihat realitas yang ada, situasi dan kondisi yang sedang berlangsung ini sudah yang paling baik.

cr: pexels.com/@teona-swift

Ketika bertemu teman-teman lama, ada waktu yang seakan membawa kita kembali ke masa lalu. Mengenang kembali beberapa hal dan kejadian yang pernah dilalui bersama. Namun, masa kini bukanlah masa lalu. Yang terjadi masa kini jelas tidak sama dengan masa lalu. Hal-hal yang pernah dilalui sudah jadi bagian dari kenangan. Apakah waktu telah mengubah segalanya? Atau mungkin takdir dan kehidupan yang menjadikan banyak hal tak sama lagi?

“Focusing is always a trade-off. You get the power to accomplish something in exchange for blindness to the wider world.”

How to Focus, Explained

Tiap orang punya kehidupan sendiri. Semakin bertambah usia, semakin menyebar pilihan yang diambil. Ada hal-hal yang masih bisa kita kontrol dan kendalikan, tapi ada yang sudah semestinya kita biarkan terjadi apa adanya.

Perubahan yang terjadi dalam perjalanan waktu yang ada mengubah banyak hal dalam hidup. Kita pernah merasa seperti salah arah. Seakan memilih jalan yang salah atau fokus pada hal yang salah. Lalu, berandai-andai jika dulu mengalihkan fokus pada hal yang berbeda, mungkin yang terjadi saat ini akan lebih baik. Cuma (lagi-lagi) kita tak bisa mundur untuk mencapai waktu yang telah berlalu.

Saatnya untuk lebih fokus pada hal-hal yang lebih penting dan bermakna. Menjalani waktu dengan penuh syukur sekaligus berupaya untuk menjadi versi diri yang lebih baik dari hari ke hari.

Untuk tahun yang lebih baik, kita kerahkan upaya-upaya yang lebih baik juga. Serta, tak lupa untuk terus memohon panduan-Nya agar bisa menjalani hari-hari yang terbentang di depan dengan hati yang lebih kuat dan lapang.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *