Skip to content

Menerima Diri

cr: pexels.com/@jill-burrow

Sekitar sepekan yang lalu saat bertelepon dengan seorang sahabat, dia menceritakan soal salah satu teman kami yang baru dibelikan ponsel baru oleh suaminya. Dia pun menyebutkan nominal harga ponsel itu yang menurut kami tergolong mahal. “Wah, dengan harga segitu sudah bisa beli laptop baru plus televisi baru dan ponsel merek lain yang tak kalah bagus,” kira-kira itulah respons saya waktu itu.

Sahabat saya ini juga mengomentari betapa “wahnya” hidup teman kami yang bisa dibelikan ini itu oleh suaminya. Sedangkan dia sendiri masih harus bekerja sendiri untuk bisa mencukupi kebutuhannya, belum lagi dengan harus menguatkan diri dengan berbagai tuntutan dan tekanan yang ia hadapi sebagai perempuan lajang di usia kepala tiga.

Kami pun mengobrolkan hal-hal lainnya yang tak jauh-jauh dari mengomentari kehidupan teman kami yang lain. Hehe.

Obrolan mengarah pada hal-hal yang tampak menyenangkan di kehidupan orang lain. Tentang yang hidupnya nyaman setelah menikah. Tentang yang bisa mendapatkan barang-barang mewah tanpa harus bekerja. Tentang yang bisa mendapatkan jodoh tanpa harus bersusah payah galau berkepanjangan. “Kok bisa ya orang-orang hidupnya nyaman begitu,” kurang lebih itulah kesan yang dirasakan sahabat saya ini.

Ya, bagaimana ya. Hidup orang beda-beda.

Saya jadi teringat tentang sebuah obrolan dengan teman di chatroom IG. Saat itu membahas soal dirinya yang mulai ditanya soal kapan menikah oleh orangtuanya, padahal sebelumnya orangtuanya tak pernah menyinggung topik itu. Namun, dia tampaknya tak terlalu tertekan soal itu. Dia meyakini kalau nanti sudah waktunya ya pasti akan datang. Hanya saja saya kemudian melihat posisinya bukanlah sebagai perempuan, bukan sebagai anak sulung, dan bukan perempuan usia di atas 30. Jadi, tak heran jika ia tampak tenang. Namun, tentu saja itu semua hanya prasangka dan pandangan saya sendiri. Bisa jadi dia memiliki hal lain yang membuatnya tertekan, tapi bisa juga dia memang tipikal yang tidak overthinking terhadap hal-hal yang di luar kendalinya.

Seorang sahabat juga pernah menceritakan soal masa kecilnya yang tidak menyenangkan. Dia bercerita tentang bagaimana dirinya diperlakukan berbeda oleh keluarganya. Saat saudaranya ada yang dibelikan baju bagus, ia hanya diberi yang seadanya. Saat saudaranya dipuji karena kecantikannya, ia merasa rendah diri karena tak secantik saudaranya itu. Saat ada kerabatnya yang menikah di usia yang lebih muda darinya, ia merasa makin menjadi beban untuk kedua orangtuanya. Ada luka yang sepertinya belum bisa benar-benar sembuh dari dirinya.

Menerima diri sendiri bisa menjadi hal paling berat bagi sebagian di antara kita. Kita selalu merasa kurang. Kita selalu saja merasa rendah diri. Kadang kita merasa memiliki hidup yang malang. Apalagi kalau sudah melihat atau melongok kehidupan orang lain, rasanya kita seakan makin jauh tertinggal.

Kadang kita merasa ingin menjadi orang lain. Rasanya kalau bisa memiliki kehidupan yang dimiliki oleh orang lain itu, kita bisa lebih bahagia. Kehidupan orang lain tampak lebih banyak menghadirkan keberuntungan daripada kemalangan.

Kadang kita ingin keluar dari diri sendiri. Ingin keluar dari kehidupan sendiri. Ingin pindah melompat ke dimensi kehidupan orang lain yang tampak lebih menyenangkan.

Kadang rasanya kita ingin tak berada di dalam diri sendiri…

“Because one believes in oneself, one doesn’t try to convince others. Because one is content with oneself, one doesn’t need others’ approval. Because one accepts oneself, the whole world accepts him or her.”

― Lao Tzu

Namanya manusia, kita tak pernah bisa sesempurna yang kita inginkan atau harapkan. Tiap kali bercermin pasti ada saja hal-hal kita rasa kurang. Ada saja yang tampak tak sempurna. Ketika melakukan sesuatu pun, rasanya ada saja yang kurang tepat.

Apalagi saat mengarahkan cermin ke kehidupan orang lain, yang kita lihat justru semua yang serba beruntung di kehidupan mereka. Pantulan yang kita lihat penuh kebahagiaan. Namun, kita tak pernah bisa tahu atau melihat yang ada di belakang cermin itu. Kita tak pernah tahu perjuangan atau perjalanan hidup orang lain dengan benar-benar utuh.

Menerima diri sendiri menghadirkan perjalanan unik yang berbeda-beda pada masing-masing orang. Saya pun kadang masih merasa insecure. Masih sering berhadapan dengan diri sendiri dan menyalahkan banyak hal pada diri sendiri. Hanya saja kalau terus menerus menyalahkan diri sendiri, yang terjadi nantinya malah menyiksa batin sendiri. Jadi, ya sudah nikmati dan syukuri setiap kelokan yang harus ditempuh dalam perjalanan hidup sendiri.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *