Skip to content

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

Kehidupan ini tak selalu mudah untuk dijalani, bahkan akan terasa makin berat jika dalam perjalanannya kita bermusuhan dengan diri sendiri. Menerima diri apa adanya, bagi sebagian orang butuh proses dan waktu yang tidak sebentar. Saat kita sudah merasa hilang arah dan tak nyaman dengan diri sendiri, harapan dan motivasi untuk tetap hidup pun perlahan bisa pudar.

Dalam satu titik kehidupan ini, kita mungkin pernah merasa sudah sangat putus asa. Sudah tak ingin lagi melanjutkan hidup, tetapi ada hati kecil yang berbisik bahwa harapan masih ada. Harapan untuk kembali menerima diri apa adanya dan melangkah ke depan. Menumbuhkan harapan itu pun tak harus ditandai dengan perubahan besar. Sekadar masih memiliki keinginan untuk menikmati jajanan kaki lima pun sudah bisa memantik harapan hidup yang baru, seperti judul sebuah buku yang menarik ini.

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki, judul yang sangat unik untuk sebuah buku pengembangan diri. Ingin mati tapi masih ingin makan tteokpokki. Ingin mengakhiri hidup, tetapi kalau sekarang diakhiri nanti tak bisa menikmati makanan kesukaan lagi. Judul yang langsung membuat kita penasaran dengan isi bukunya.

Buku yang Ditulis dengan Cara Personal

Buku yang ditulis oleh Baek Se Hee ini berisi catatan pengobatannya yang terjangkit distimia, yaitu kondisi di mana penderitanya mengalami depresi ringan yang berkepanjangan dan terus menerus. Berisi tanya jawab Se Hee sebagai pasien dan psikiaternya dalam setiap sesi, yang ditandai dengan minggu ke-1 hingga minggu ke-12. Format tulisan berbentuk percakapan langsung tanpa narasi. Selain itu, Se Hee menulis beberapa esai pendek yang berisi refleksi diri dan catatan-catatan personal tentang perasaan serta emosinya.

Awalnya tidak mudah bagi Se Hee dalam membuat keputusan untuk berkonsultasi pada ahlinya. Saat akan memasuki ruang pemeriksaan, Se Hee merasa tegang dan takut, tetapi ia menguatkan tekadnya. Di sesi pertama, Se Hee menjelaskan alasannya datang ke sesi tersebut.

“Saya sering membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Akibatnya, saya sering memperlakukan diri saya dengan kurang baik. Kemudian, sepertinya rasa percaya diri saya sangat rendah.” (hlm. 18)

Pengalaman masa kecil, hubungan dengan keluarga, hingga soal kekasih dan ikatan pertemanan menjadi hal-hal yang Se Hee ceritakan kepada psikiaternya. Ada rasa takut, cemas, rendah diri, hingga bingung yang dirasakan oleh Se Hee. Namun, keinginannya untuk menjalani hidup yang lebih baik lebih kuat dari semuanya. Meski tampak luar dia seakan baik-baik saja, ada kebingungan dan kekalutan yang ia rasakan di dalam dirinya. Bahkan sulit baginya untuk menemukan titik tengah atas semua hal yang ia alami.

Keputusan Se Hee untuk menulis dan membuat buku ini pun butuh perjuangan sendiri. Dia merekam setiap sesi, mengetik ulang semuanya, dan melengkapinya dengan esai-esai yang berisi perasaan terdalamnya. Semua sangat personal karena ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri, dan karena sifatnya yang begitu pribadi ini, tulisan-tulisan yang ada di dalam buku ini pun terasa sangat jujur.

Buku yang Memberi Ruang untuk Refleksi Diri

            “Buku ini adalah catatan percakapan antara seorang pasien yang tidak sempurna yang bertemu dengan seorang terapis yang tidak sempurna juga.” (hlm. 192)

            Untuk perkara gangguan mental atau masalah kejiwaan, kita tak bisa mendiagnosis diri sendiri. Meski saat membaca buku ini kita merasa seakan memiliki gejala atau perasaan yang sama dengan Se Hee, bukan berarti kita juga terjangkit distimia. Untuk memastikannya, kita perlu menemui psikiater dan mendapatkan pertolongan profesional. Namun, melalui buku ini kita bisa ikut menyelami isi kepala dan perasaan seseorang yang mengalami distimia.

Se Hee dan psikiaternya bukanlah orang yang sempurna, dan tentu saja tidak ada manusia yang benar-benar sempurna di dunia ini. Akan tetapi dari ketidaksempurnaan yang ada itulah, kita bisa menemukan banyak ruang untuk kembali belajar hal-hal baru. Di setiap sesi konsultasi, selalu ada poin penting yang bisa digarisbawahi untuk menghadirkan harapan hidup yang lebih baik, terkait menerima diri apa adanya, mencintai diri sendiri, merawat diri, memaknai kebebasan dalam berpikir, mempraktikkan cara berkomunikasi melalui tulisan, menjalin hubungan dengan kekasih dan teman, serta menjalani hidup sebagai pribadi yang terus bertumbuh.

Ada baiknya membaca buku ini secara perlahan. Dalam setiap percakapan, kita bisa menemukan hal-hal menarik terkait memahami diri sendiri yang terlahir sebagai seorang manusia yang memiliki berbagai sisi kompleks.

“Karakter manusia ada yang merupakan bawaan dari lahir, tapi ada juga yang terbentuk saat tumbuh dewasa.” (hlm. 62)
“Meskipun Anda menghadapi situasi yang sama, hasilnya bisa berubah dan berbeda sesuai dengan cara Anda memandang situasi tersebut.” (hlm. 82)
“Meskipun banyak orang berpikir bahwa mereka sangat mengenal diri mereka sendiri, tapi lebih baik jika kita berpikir dan bertanya-tanya, ‘Apakah aku benar-benar mengenal diriku sendiri? Ataukah aku hanya melihat sosok diriku sesuai denga napa yang ingin kulihat saja?’” (hlm. 108)

Mengikuti percakapan Se Hee dan psikiaternya, kita pun bisa ikut digiring untuk melakukan refleksi diri. Dalam sebuah bahasan saat Se Hee menceritakan kesehariannya yang menggunakan waktu istirahatnya untuk mendengarkan rekaman, ada yang sangat mengena dengan yang saya rasakan selama menjalani rutinitas bekerja dari rumah sejak bulan Maret 2020 lalu karena pandemi COVID-19. Terkait bekerja dan beristirahat. Rutinitas bekerja dari rumah cukup menyulitkan saya untuk membagi waktu antara bekerja dan beristirahat, sebab keduanya bisa tercampur tanpa disadari karena semua aktivitas berpusat di rumah. Padahal penting untuk memisahkan dan membedakan keduanya agar terhindar dari rasa cemas dan tidak nyaman.

Buku ini sangat cocok dibaca di situasi pandemi yang membuat kita makin rentan mengalami kecemasan dan kekhawatiran. Dalam salah satu percakapan, Se Hee membahas soal kecenderungannya membanding-bandingkan dirinya di media sosial yang membuatnya makin merasa rendah diri. Sang psikiater pun memberi pandangan yang lebih luas lagi terkait persoalan yangn dihadapi Se Hee.

“Siapa pun tentu bisa merasa iri. Setiap orang punya impian maupun utopia masing-masing. Tapi, merasa iri terhadap sesuatu dan terus menerus membandingkan diri kita, bahkan menganggap rendah diri kita adalah hal yang sangat jauh berbeda.”

(hlm. 64)

Dalam perkara membandingkan diri di media sosial yang dialami Se Hee, kita pun sedang merasakannya. Sebagai contoh, ketika banyak waktu yang dihabiskan untuk melihat media sosial (terlebih selama pandemi ini ruang gerak kita makin terbatas dan ponsel menjadi sahabat setia untuk terhubung dengan dunia luar), ada kecenderungan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain. Selalu saja ada rasa iri yang muncul saat melihat kehidupan orang lain lebih baik dari kehidupan kita. Kita perlu menerima rasa iri itu, tetapi tak lantas makin terobsesi untuk membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain yang sebenarnya belum tentu kita pahami dengan menyeluruh.

Buku yang Menguatkan Diri untuk Bertahan Hidup

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki
“Jika Anda memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan memiliki pendirian yang kuat mengenai selera maupun pemikiran Anda, Anda tidak akan peduli apakah orang lain mengatakan hal buruk atau memandang diri Anda secara negatif.” (hlm. 116)
“Kehidupan memang naik turun, dari baik kemudian menjadi buruk dan kemudian menjadi baik lagi. Jika ia kembali menjadi buruk, aku pun hanya perlu menikmatinya karena kehidupan memang seperti itu.” (hlm. 178)
“Aku pun teringat akan kata-kata bahwa cahaya dan kegelapan berada di dalam satu tubuh. Hidup kita akan terus berjalan dan rasa Bahagia dan sedih akan terus hadir berdampingan. Jika aku tidak menyerah, aku pun bisa terus melanjutkan hidupku sambil tertawa maupun menangis.” (hlm. 190)

Esai-esai personal yang ditulis oleh Se Hee di buku ini sangat menyentuh hati. Dia mengutarakan setiap emosi dan perasaannya dengan jujur dan terbuka. Menulis menjadi cara tersendiri untuk bisa melihat sesuatu secara menyeluruh dan menyelami perasaan dengan lebih dalam lagi.

Dari awal hingga akhir buku, kita akan mengikuti perjalanan Se Hee untuk lebih menerima dirinya apa adanya serta lebih mencintai dirinya dengan kehidupan yang dijalaninya. Ada semangat bertahan hidup yang bisa kita rasakan dari perjalanan Se Hee. Perenungan dan kontemplasi diri yang ia tuangkan dalam tulisan pun seperti menghadirkan tepukan-tepukan lembut di bahu kita sendiri untuk bisa menjalani hidup ini dengan lebih baik dari waktu ke waktu.

Tata letak buku ini mengandung sentuhan yang agak feminin. Beberapa halaman dibuat berwarna merah muda keungunan, serta ada simbol hati yang selalu menyertai inisial A dan P di setiap percakapan Se Hee dan psikiaternya. Beberapa kalimat ada yang dipertebal dengan sapuan tinta merah muda keunguan yang tampaknya ditandai sebagai poin penting untuk diingat. Mungkin dengan tata letak seperti ini, pembaca bisa lebih rileks dalam mengikuti tulisan-tulisan yang ada di buku ini.

Bahasa terjemahan dalam percakapan Se Hee dan psikiater dibuat formal dengan adanya penggunaan “saya” dan “Anda”. Sementara dalam esai-esai personal Se Hee, penuturannya menggunakan “aku”. Meski ada beberapa saltik, tapi tidak terlalu mengganggu kenyamanan membaca. Bagi penggemar buku pengembangan diri atau ingin mendapatkan pengalaman membaca yang berbeda, buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki layak untuk dijadikan koleksi.

Perjalanan untuk menerima diri sendiri bisa jadi perjalanan yang panjang, penuh air mata, dan disertai dengan naik turunnya emosi yang tidak bisa ditebak. Tidak semua orang berani untuk membuat keputusan mendapatkan bantuan profesional dari seorang psikiater saat merasa ada yang perlu diperbaiki dari hidupnya.

Keputusan Se Hee untuk membukukan pengalamannya ini juga patut diapresiasi, sebab ia memberi ruang bagi kita semua untuk mendapatkan pandangan dan pengetahuan tentang depresi berkepanjangan serta bagaimana proses konseling menghadirkan perubahan positif dalam hidup. Karena siapa tahu di antara kita ada yang merasakan gejala-gejala yang mirip atau serupa dengan Se Hee, dan akhirnya memiliki keberanian untuk berkonsultasi ke psikiater seperti yang dilakukan olehnya.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *