Skip to content

Acak

cr: pexels.com/@vie-studio

Mungkin salah satu alasan saya masih mau menulis adalah karena perlu menguraikan isi kepala. Meski yang ditulis kadang acak, tetap saja menulis cukup membantu menjernihkan pikiran biar tidak puyeng atau nggliyeng sendiri, hehe. Lalu, kali ini mau menulis apa?

Menulis hal-hal acak saja kali, ya.

Oke, pandemi masih belum usai. Sudah sekitar satu setengah tahun bekerja dari rumah. Apakah sudah terbiasa? Bisa dibilang memang sudah terbiasa. Bahkan rasanya keseharian dan rutinitas bekerja dari rumah sudah menyatu dalam sanubari, halah!

Saya sepertinya tipe orang yang memang butuh rutinitas. Nggak bisa dikasih ruang untuk bengong terlalu lama karena karena kelamaan bengong, yang ada malah makin stres sendiri. Selama di rumah, masih melekat dengan laptop dan ponsel. Belum punya TV, dan masih merasa belum cukup urgent untuk punya TV meski pengen juga tapi masih menimbang-nimbang (hah, dasar Libra). Sudah mengungsikan buku-buku ke rumah, jadi sudah leluasa untuk buka-buka buku kapan saja (dibuka aja ya, dibacanya entah, hehe). Meski belum punya dapur, tapi sudah ada kompor yang cukup bisa diandalkan untuk bikin-bikin jajan di rumah. Pekerjaan rumah memang nggak ada habisnya, bahkan akan terus berulang. Paling kurang suka mencuci piring, tapi cukup menikmati ngepel atau menyetrika baju. Kegiatan menyikat lantai dan dinding kamar mandi yang dulu kurang disuka, kini sudah mulai dinikmati.

Mulai mencoba untuk lebih banyak bergerak. Setidaknya dua hari sekali kudu meluangkan waktu untuk berkeringat. Setahunan yang lalu setelah operasi lutut kanan, kini rasanya ada yang berbeda tiap kali menggerakkan sendi lutut ini. Setelah operasi waktu itu sempat masih kesakitan untuk menekuk lutut selama sekitar sebulanan. Kini, sudah cukup membaik dan sepertinya perlu lebih sering digerakkan biar tidak makin lemah. Rebahan perlu, tapi menggerakkan tubuh juga sama perlunya. Nah, menyeimbangkan keduanya ini yang kadang masih jadi pe-er.

Alhamdulillah masih bekerja hingga saat ini. Dahlah pokoknya Allah Maha Baik selalu mencukupkan semua kebutuhan dan mengalirkan rezeki sesuai dengan takaran yang paling tepat. Disyukuri dan dinikmati saja semua yang ada. Rasa bosan pastinya ada, tapi ya masih bisalah “diakali” dengan variasi kegiatan lain.

Sambat dan curhat masih jadi bagian keseharian. Meski belum bisa ketemu teman dan sahabat, tapi masih bisa berkomunikasi via chat. Malah kadang rasanya intensitas chatting meningkat ketika sudah lama tidak saling bersua. Berbagi cerita dan keluh kesah memang menjadi semacam “jalan ninja” untuk bertahan menghadapi peliknya drama kehidupan, hehe. Bahkan curhat dengan orang yang belum pernah ditemui atau dicurhati orang yang baru dikenal pun kejadian juga selama pandemi ini. Ya, begitulah. Nggak apa-apalah sambat dan curhat selama itu bisa bikin hati lega. Nggak apa-apa juga berbagi keluh kesah meski cuma lewat DM dan dicurahkan pukul setengah tiga dini hari, saya sih orangnya sabar, pengertian, dan baik hati, serta tidak sombong dalam menampung berbagai rangkuman kehidupan orang lain (paling cuma menghela napas panjang dan puk puk bahu sendiri, hehe).

Album yang sering diputar belakangan ini kalau nggak Sob Rock-nya John Mayer, ya Next Episode-nya AKMU. Looping terus dan senantiasa masuk on repeat playlist.

Berita sedih dan duka masih terus ada. Nggak pernah baik-baik saja dan nggak pernah bisa tenang tiap kali dengar kabar sedih. Cuma bisa menguatkan doa semoga keadaan segera membaik dan situasi bisa pulih. Meski situasi PPKM perpanjangannya ternyata dicicil-cicil begini, nggak bisa apa-apa lagi selain mengusahakan yang terbaik untuk diri sendiri dan orang terdekat.

Beberapa waktu lalu menamatkan serial Kotaro Lives Alone. Cukup menghibur, apalagi sudah cukup lama juga nggak nonton serial Jepang. Belajar ((belajaaar)) dari sosok Kotaro yang masih lima tahun, hidup sendirian ini perlu. Bahkan dalih terbaik memilih hidup sendirian adalah untuk menguatkan diri. Hiduplah sendirian biar makin setrong, gitulah kira-kira, ya.

Masih belum bisa lepas dari media sosial. Bahkan rasanya masih butuh semua ruang yang disediakan media sosial. Cuma rasanya belum cukup mengoptimalkannya untuk hal-hal yan lebih berfaedah. Kebanyakan isinya kalau nggak sambat, ya sambat (kombo sambat, hehe). Ya, kalau merasa jenuh atau terlalu sesak ketika buka medsos, tinggal jauhkan ponsel untuk sejenak (sejenak aja, karena kalau ponselnya kelamaan dijauhkan bakal nggak bisa kerja juga).

Ingin liburan. Ingin jalan-jalan. Namun, lebih ingin situasi dan kondisi membaik semua dulu. Bisa tidur nyenyak, makan kenyang, bekerja, dan beristirahat dengan leluasa sungguhlah rezeki yang amat sangat luar biasa. Kudu lebih sering mengingatkan diri sendiri biar lebih banyak bersyukur. Sambat secukupnya. Berkeluh kesah ya dikit-dikit bolehlah. Cuma habis itu tetap jalani kewajiban dengan baik. Tetap bagi prioritas dengan seimbang. Meski masih sering mleyot dalam menjalani semuanya, setidaknya kudu tetap mengusahakan hal-hal yang bisa diusahakan, yha pokoke gitu.

Sungguh tulisan yang acak sekali ini, hehe.

Published inCLARITY

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *