cr: pexels.com/@bongkarn-thanyakij-683719

Sore itu hujan baru berhenti turun. Jejak basah air masih terasa dingin di permukaan tanah. Kau duduk di balkon lantai dua. Ada segelas teh jahe hangat di mejamu. Sementara pandanganmu menyapa kejauhan. Menatap entah apa di langit yang hendak menjemput senja.

Aku menghampirimu. Begitu mendengar langkah kakiku mendekat, kau langsung menoleh. Tampak seulas senyum tipis di wajahmu sembari mempersilakanku duduk di sampingmu. Jurnal biru yang selalu kau bawa ke mana pun kau pergi kau letakkan di samping gelas tehmu. Walau kau tak pernah mengakui, aku tahu ada jiwa penyair di dalam hatimu. Tunggu saja nanti aku akan kembali mengintip halaman demi halam jurnalmu itu.

“Sedang memikirkan apa?” tanyaku begitu aku duduk di sampingnya.

“Memikirkan tentang doa,” jawabnya. Ada aroma mint segar yang tercium begitu ia membuka suara.

“Doa?”

“Menurutmu apakah selama ini kita sudah berdoa dengan cara yang benar?”

Ah, lagi-lagi kau menanyakan sesuatu yang tak biasa. “Entahlah. Memangnya kenapa?”

“Bayangkan kita berada di tengah laut. Di atas kapal besar lalu ada badai besar yang menghantam. Doa apa yang harus kita ucapkan? Berdoa agar lautan bisa segera berubah jadi daratan? Atau berdoa agar kita diberi kekuatan?”

“Berdoa kepada Tuhan.”

“Iya, aku tahu. Tapi doa apa yang harus dipilih?”

Sepertinya kali ini aku harus ikut berpikir keras. Bila ia sudah menanyakan sesuatu yang tak biasa, jelas dia sedang banyak pikiran. Dia sedang butuh seseorang untuk diajak bertukar cerita. Baiklah kalau begitu.

“Doa yang harus dipilih…,” aku diam sejenak, “Kalau kita meminta agar lautan bisa sekejap berubah jadi daratan lalu ternyata doa itu tak terkabul, kita pasti akan marah kepada Tuhan. Kenapa Tuhan tak mendengarkan doa kita? Tapi doa semacam itu jelas tak selaras. Kita meminta lautan untuk berubah tapi kenapa kita malah marah ke Tuhan saat lautan tak mau berubah, ya kan?”

Dia menyesap teh hangatnya sedetik kemudian. Matanya menerawang jauh selama beberapa saat.

“Mungkin selama ini cara kita berdoa masih kurang tepat,” kali ini dia menoleh ke arahku. Sepasang mata cokelatnya tampak membayang. Ada kehangatan misterius yang terpancar dari tatapannya.

“Kita sering bilang bahwa kita percaya Tuhan selalu punya rencana dan skenario terbaik untuk kita. Kita bilang bahwa Tuhan akan selalu mengabulkan semua doa kita. Namun, yang sering tidak kita sadari adalah seringkali kita tak sungguh-sungguh yakin kepada-Nya,” lanjutnya.

Agak sulit mencerna kata-katanya jika jantungku berdebar lebih keras seperti ini. Ah, apa yang sedang terjadi?

Dia menyunggingkan senyuman singkat lalu tatapannya kembali melayang ke kejauhan. “Seringkali kita menganggap bahwa tujuan berdoa adalah mengubah realita. Kita berlagak seperti penggerak atas segalanya untuk mengubah realita di sekitar kita. Padahal kita hanya seorang manusia biasa. Kita tak punya kemampuan untuk mengubah realita yang ada begitu saja. Tak mungkin kita bisa mengubah realita lautan menjadi daratan seperti keinginan kita,” setiap kata ia ucapkan dengan begitu pelan.

“Jadi, kita tak boleh mengubah realita? Lalu, harus bagaimana?” Akhirnya aku pun makin penasaran.

“Mungkin lebih tepatnya tidak bisa. Kita bukan pengendali segalanya. Saat kita diberi sebuah ujian dari Tuhan, kita tak bisa serta merta meminta-Nya untuk mengubah ujian itu. Ujian itu justru harus kita lewati dan atasi. Saat dihantam badai, maka kita perlu meminta kepada Tuhan untuk menguatkan diri kita melewati dan berusaha selamat dari badai itu. Kita harus yakin Tuhan akan menolong kita dan memampukan kita selama kita mau berusaha. Bahkan dari setiap ujian yang diberikan oleh Tuhan, kita akan dibawa lebih dekat kepada-Nya. Ujian hadir untuk membantu kita bisa makin mencintai dan dicintai oleh-Nya,” nada suaranya lebih kini lebih hangat dari sebelumnya.

“Tampaknya kita harus selalu mengingatkan diri sendiri bahwa kita pada dasarnya adalah seorang hamba,” kucoba untuk lebih memahami alur pemikirannya. “Kita hanya manusia. Manusia yang bergantung sepenuhnya pada Sang Pemilik Jiwa. Kehidupan kita ini tak ubahnya perjalanan yang penuh dengan ujian. Setiap ujian hadir untuk menguatkan kita. Namanya ujian, maka yang akan kita hadapi tak selalu mudah. Kita tak bisa mengubah realita tapi kita selalu bisa berdoa untuk bisa lebih kuat menghadapi dan mengatasi realita yang ada.”

Garis-garis jingga mulai bersarang di hamparan langit. Sinar matahari kian meredup. Kau menggenggam gelas tehmu yang tampaknya kini sudah dingin. Wajahmu menengadah lalu kau hempaskan napas perlahan.

“Kadang aku terlalu takut menghadapi realita. Sehingga untuk bisa membuatku merasa lebih baik adalah mengubah realita yang ada. Padahal hal itu mustahil terjadi. Mau tidak mau aku harus menerima realita yang ada. Menghadapi ujian hidup yang diberikan Tuhan. Tugasku adalah berusaha sebaik mungkin mengatasi hal-hal sulit. Lalu berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Mengencangkan doa supaya aku bisa diberi kekuatan untuk lulus ujian dengan baik. Supaya aku bisa menjadi hamba yang dicintai-Nya. Hamba yang layak dan berkualifikasi untuk mendapatkan cinta-Nya,” kini uraianmu semakin panjang.

“Kau tahu kadang aku merasa selama ini masih berpura-pura percaya kepada Tuhan. Padahal di dalam hatiku aku masih sering meragukan keagungan dan kehebatan-Nya. Agaknya aku masih harus terus belajar untuk memperbaiki diriku lagi. Berusaha untuk berdoa dengan lebih baik. Tuhan memberiku ujian karena Dia ingin aku bisa lebih dekat lagi kepada-Nya. Dia sedang memberiku jalan dan ingin aku bisa berhasil melewati anak tangga baru untuk sampai ke tempat terbaik yang Dia sediakan untukku,” dia sesap sisa teh di gelasnya sampai habis.

Kini aku mulai sedikit mengerti dengan kata-katanya. Saat kita berdoa, Tuhan langsung hadir untuk kita. Saat kita yakin kepada-Nya, Dia akan selalu menunjukkan jalan keluar dari setiap kesulitan yang ada. Untuk bisa mendapatkan kemudahan, memang kita perlu berhasil mengatasi ujian dan kesulitan-kesulitan.

“Jadi, saat kita terjebak badai di tengah lautan, doa kita sebaiknya adalah minta diberi kekuatan supaya bisa melewati badai yang ada?” tanyaku.

“Disertai dengan keyakinan yang kuat bahwa Tuhan pasti akan menolong kita dan selalu dekat dengan kita,” jawabnya.

 Inspired by: "Allah Knows Your Pain" by Nouman Ali Khan on Digital Ummah