Skip to content

Yang Disebut Rumah

cr: pexels.com/@charlotte-may

Apa arti rumah untukmu? Masing-masing dari kita pasti punya cara sendiri dalam memaknai rumah. Bisa memaknainya dalam bentuk wujud bangunannya, bisa juga memaknainya dengan kehadiran orang-orang tertentu di dalamnya.

Sudah 19 bulan ini saya merasakan tinggal sendirian di rumah. Hm, nggak sepenuhnya sendirian juga sih karena sesekali bapak ibuk juga menginap di sini. Beberapa teman pun sudah ada yang pernah bermalam di sini. Rasanya masih belum percaya saya akan mendapatkan pengalaman seperti ini: pengalaman tinggal di rumah sendiri, (sementara masih) sendirian.

Saya menghabiskan masa kecil hingga masa kuliah tinggal di komplek rumah milik negara. Lalu setelah bapak pensiun, kami pindah rumah di sebuah desa. Hingga kemudian akhir tahun 2019 lalu saya memutuskan untuk membeli rumah pertama. Bukan keputusan yang mudah sebab selain tabungan yang memang super mepet, ada prioritas lain yang perlu dikesampingkan untuk sementara waktu demi keputusan ini. Meski rumah yang dibeli baru sepetak ini, tetap saja ada beberapa kerikil dan batu sandungan yang harus dihadapi, halah.

Perjuangan dan perjalanan membeli rumah tak serta merta berhenti begitu bisa menempati rumah. Rasanya seperti harus lari maraton lagi. Masih banyak hal yang harus ditata lagi. Banyak penyesuaian baru yang perlu dilakukan. Tak hanya itu saja, masih harus makin mengencangkan ikat pinggang untuk memenuhi ini dan itu.

Masih deg-degan atap bocor lagi tiap turun hujan deras. Masih deg-degan air mampet atau saluran air meluber kayak awal tahun kemarin. Masih sering kaget juga tiap kali denger suara cicak atau suara air galon yang menggelegak sendiri, hehe.

Yang disebut rumah itu…

…tempat kita bisa menemukan dan menciptakan kenyamanan.

Bisa tidur dengan nyaman, makan dengan nyaman, beristirahat dengan nyaman, hingga bekerja dengan nyaman. Mengingat aktivitas selama pandemi ini berpusat hanya di rumah, maka mau tak mau memang harus menciptakan kenyamanan sendiri di rumah ini.

Salah satu hal yang saya syukuri selama beberapa bulan belakangan ini adalah bisa bekerja dengan lebih tenang meski di rumah saja. Rasa bosan dan jenuh pasti ada, tapi masih bisa diatasi.

Sendirian di rumah saja nggak kesepian? Kadang-kadang iya, tapi sepertinya untuk saat ini memang situasi inilah yang saya butuhkan. Daripada terlalu terobsesi memiliki sesuatu yang belum bisa dimiliki, ya sudah disyukuri saja hal-hal yang sudah ada saat ini. Menjalani hari-hari yang ada saat ini dan bisa bertahan hingga detik ini, itu sudah lebih dari cukup.

Belum ada banyak perabot. Baru ada tempat tidur, satu meja untuk kerja (yang kadang dialihfungsikan untuk meja setrika baju), rak buku, kulkas, lemari, tempat kompor, peralatan memasak seadanya, dan beberapa piring serta gelas. Sudah cukup untuk saat ini.

“I live in my own little world. But it's ok, they know me here.”
― Lauren Myracle
cr: pexels.com/@lilartsy

Yang disebut rumah, bagi sebagian orang, adalah tempat mereka bisa menemukan kehangatan bersama orang-orang yang dicintainya. Bagi sebagian orang lain, rumah adalah tempat untuk mendapatkan kembali ketenangan. Mungkin juga tempat untuk mengisi kembali energi.

Rumah bisa jadi ruang yang mengizinkan kita untuk bisa menjadi diri kita apa adanya. Tanpa harus takut dihakimi atau disudutkan. Tanpa harus takut kehilangan rasa aman dan nyaman.

Rumah… definisinya mungkin lebih banyak mengarah ke perasaan, dibandingkan sekadar bangunan.

Nggak heran kalau banyak orang yang menyebut seseorang sebagai “rumahnya”. Karena ketika bersama orang itu, ia merasa sangat nyaman dan bisa menjadi dirinya apa adanya, seperti berada di rumah yang tenang. Ehm.

“What is home? My favorite definition is "a safe place," a place where one is free from attack, a place where one experiences secure relationships and affirmation. It's a place where people share and understand each other. Its relationships are nurturing. The people in it do not need to be perfect; instead, they need to be honest, loving, supportive, recognizing a common humanity that makes all of us vulnerable.”
― Gladys Hunt, Honey for a Child's Heart: The Imaginative Use of Books in Family Life

Seorang teman, ia perempuan berusia 31 tahun yang kini bekerja di Jakarta. Tahun ini ia membeli rumah dan rencananya akan segera menghuninya dalam waktu dekat. Beberapa kali kami membahas soal perkembangan pembangunan rumahnya itu.

Demi menghemat sejumlah biaya, dia mendesain sendiri interior rumahnya, mendatangkan pekerja langsung dari luar daerah, hingga mencari vendor yang tepat untuk membuat set perabot sesuai dengan yang ia inginkan. Katanya dia sampai menemui 10 vendor sebelum akhirnya bisa menemukan yang pas.

Semua dia lakukan secara mandiri.

Saya sangat salut dan kagum dengan teman saya ini. Sejak pertama kali mengenalnya lewat sebuah kamp waktu kuliah dulu, kami terus dipertemukan dalam sejumlah persimpangan ((persimpangan)). Selepas kuliah, kami pernah sama-sama bekerja di Bandung. Kami pernah jalan-jalan di akhir pekan ke beberapa tempat di Bandung. Lalu, saat saya kembali ke Malang, dia bekarier di Jakarta. Lalu dia lanjut S2 di Jepang, kemudian lanjut bekerja lagi di ibu kota. Dia perempuan yang luar biasa. Pernah mengalami patah hati dan masih sesekali galau, tapi dia tetap punya cara sendiri untuk kuat dan tegar dengan tetap bersinar dengan caranya sendiri.

Membangun dan memiliki hunian sendiri di Jakarta bagi seorang perempuan yang bekerja jauh dari kampung halaman pastinya tidak mudah. Semoga lancar semua untukmu, ya.

Yang disebut rumah…

…mungkin adalah tempat kita bisa senantiasa mengingatkan diri untuk beristirahat saat sedang lelah. Tempat yang mengizinkan kita mengambil jeda dari berbagai hal berat yang kita hadapi. Tempat yang bisa menghadirkan kelegaan untuk bernapas setiap waktu.

Tempat yang membantu kita untuk bisa kembali tersenyum setelah menghadapi hari yang muram. Tempat yang mungkin selalu bisa menyambut kita dengan terbuka tanpa menghakimi atau menyudutkan.

Yang disebut rumah…

…mungkin juga tak sebatas soal tempat.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *