Skip to content

Titik Tertentu

cr: pexels.com/@diana-onfilm

“Saat mencapai titik tertentu dalam hidup, kau ingin kembali ke awal.”

A Thousand Goodnights

Bisa dibilang hidup ini merupakan sekumpulan titik. Dari masa ke masa, kita berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Sesuatu bisa tampak berbeda karena kita sudah berada di titik yang tak sama. Perubahan bisa terjadi karena kita tak menetap di satu titik itu lagi. Perasaan-perasaan yang hadir pun bisa direfleksikan dengan cara berbeda, tergantung dari titik mana kita berada.

Yang kita rasakan bisa berubah dari waktu ke waktu. Sebuah perasaan kecewa yang pernah dirasakan bisa dengan sendirinya luntur begitu saja. Bukannya terlupakan atau terhapuskan, tapi hanya sedikit pudar saja. Di sebuah titik kita pernah merasa seakan sudah berada di tepi jurang, dan tinggal menunggu waktu untuk terjun. Sampai kemudian kita terus mengulur waktu, perlahan menjauh dari titik tepi itu, lalu berada pada satu titik saat kita menemukan tempat yang lebih aman.

Dari satu titik ke satu titik yang lain, kita akan mengurai berbagai banyak pengalaman dan perasaan. 

Di antara kita pasti pernah mengalami hal ini. Di satu titik, kita merasa begitu sedih dan kecewa. Awalnya, kita bisa melampiaskan perasaan itu dengan menangis sepuasnya. Namun, beberapa waktu kemudian, ada semacam penahan yang membuat kita tak perlu memaksakan diri untuk menangis lagi. Bukan karena kita sudah kuat, tapi di satu titik itu kita merasa lebih berdamai dengan diri sendiri. Kita sadar ada perasaan tak nyaman yang hadir, lalu kita membuka tangan kita untuk menerimanya mengalir.

Pernah juga kita merasa sudah begitu terpikat dengan suatu citra. Benak kita dipenuhi oleh sosok itu. Seakan isi kepala hanya penuh dengan bayangannya. Rasanya kita sudah begitu dekat dengannya, dan merasa semesta akan membukakan jalan yang lebih luas untuk bisa bersatu. Lalu, waktu terus mengulur segalanya. Sampailah kita pada satu titik baru. Titik yang membuat kita menyadari ada kebodohan yang sudah kita lakukan. Ada hal yang tak semestinya kita lakukan ketika menghadapi perasaan itu. Awalnya, kita akan menyalahkan diri sendiri, tapi kita pun memakluminya. Alih-alih menghukum diri sendiri, kita menepuk bahu kita sendiri dan berkata, “Ya sudah, tidak apa-apa. Itu memang kesalahanmu, tapi ya sudah. Ya sudah.”

Untuk hal yang sama, yang tadinya begitu menyukainya, bisa berbalik tak merasakan apa-apa. Untuk perkara yang sama, yang tadinya terus mencelanya, berubah menjadi menerimanya dengan hati yang lebih terbuka. Untuk sebuah pengalaman yang sama, perasaan yang dirasakan bisa berbeda ketika mencapai dimensi waktu yang berbeda.

Perasaan yang sama bisa diartikan dengan cara berbeda saat kita mencapai titik tertentu. 

Semakin ke sini, saya mencoba untuk mengurai perasaan-perasaan. Tidak semua perasaan yang hadir menyenangkan. Banyak yang menghadirkan rona abu-abu, tapi mau menghapus dan membuangnya pun takkan pernah sanggup. Jadi, ketika segalanya terasa rumit dan sulit, maka hal pertama yang dilakukan adalah menerimanya.

Teringat beberapa hari yang lalu, jari kelingking kaki kiri terantuk tepian pintu. Benturannya tidak keras tapi rasa sakitnya aduhai luar biasa, hehe. Tampak ada segores luka di ujung jari dan kuku jari sedikit menganga seperti akan lepas. Di situasi seperti ini, tidak mungkin berbohong tidak sakit. Sakit. Tapi, ya sudah setelah itu langsung ambil betadine untuk mengobatinya. Awalnya saya kira kuku jari kelingking ini akan lepas, tapi beberapa hari kemudian, bekas memar memudar dan sembuh. Segores luka di ujung kelingking pun sudah menutup. Ternyata jari kelingking saya bisa kembali baik-baik saja.

Setiap luka pastinya menghadirkan rasa sakit. Bahkan ada yang meninggalkan bekas yang selamanya menetap. Seperti bekas luka jahitan di lutut kanan yang dioperasi tahun lalu sepertinya takkan pernah bisa dihilangkan (dengan cara biasa). Setiap luka yang baru hadir pastinya sakit, dan pada titik ini kita boleh saja sedih atau bahkan marah karena tak tahan dengan rasa sakitnya. Setelah itu kita perlahan mengobatinya. Melakukan yang terbaik untuk memulihkannya. Hingga ketika sampai pada satu titik baru, rasa sakit itu pudar. Lalu, kita tak lagi merasa sedih berlebihan karena rasa perihnya sudah hilang.

Pada titik tertentu, kita membuat titik awal  baru.

Kadang ada rasa menyesal kenapa tidak memanfaatkan waktu yang ada dengan lebih baik. Ada rasa sedih telah membuat keputusan atau pilihan yang salah, dan kita baru menyadarinya sekarang. Sudah terlambat rasanya untuk memperbaiki keadaan. Meskipun begitu, kita selalu punya kesempatan untuk membuat titik baru. Membuat pilihan dan menemukan cara baru menjalani hidup.

Kita bisa membuat awal baru. Dari mana pun titik kita berada saat ini, kita selalu bisa menghadirkan sebuah awal baru. Apakah mudah? Belum tentu. Namun, setidaknya dengan begitu kita bisa menemukan keindahan baru untuk kembali menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Published inCLARITY

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *