cr: pexels.com/@alancabello

Tahun ini sudah menyapa gerbang September. Cepat sekali waktu berlalu. Ya, mungkin kalimat itu agak klise. Cepat sekali waktu berlalu. Sudah ke mana saja detik-detik waktu yang kita punya? Sudah melakukan apa saja untuk mengisi waktu yang ada? Tahun ini jelas tahun yang berat. Tidak mudah melalui banyak hal dan ujian hingga sampai di titik ini. Persoalan pribadi, hal-hal yang terjadi pada orang-orang terdekat, dan berbagai pergumulan dalam benak menghadirkan ujian-ujian tersendiri yang tidak mudah untuk langsung diajak berdamai.

Terlepas dari semuanya, masih bisa bertahan hingga di titik ini sudah merupakan pencapaian tersendiri.

Tahun ini diawali dengan ya… bisa dibilang sejumlah kejutan. Mendapat sesuatu, memulai sesuatu, kehilangan sesuatu, dan lain sebagainya. Ada hari-hari yang waktu itu terasa begitu berat dijalani. Bahkan dalam beberapa waktu air mata bisa dengan mudahnya mengalir. Sebuah persoalan yang tadinya terasa sudah bisa diajak berdamai ternyata masih bisa memicu titik air mata baru dan mengalir begitu saja. Ternyata tidak benar-benar mudah untuk bisa berdamai dengan sesuatu.

Hal yang kita takutkan ternyata bisa benar-benar terjadi nyata. Siapa yang sangka pada trimester awal tahun ini harus menjalani hal yang selama ini dihindari. Merasakan rasa sakit yang selama ini tidak ingin kembali dirasakan. Menjalani masa pemulihan sembari menepuk-nepuk bahu sendiri untuk bisa kembali berjalan dengan baik lagi.

Sudah lebih dari enam bulan pula bekerja dari rumah karena pandemi. Rutinitas bekerja di rumah sebenarnya bukanlah hal yang asing untukku. Selepas kuliah, pernah kujalani masa-masa sebagai pekerja lepas. Setelah balik kerja kantoran pun kadang masih bekerja di rumah dengan tenggat-tenggat pekerjaan yang lain. Ketika akhirnya semua rutinitas bisa dibilang berpusat pada rumah, hanya butuh sedikit penyesuaian lagi. Meski memang tak bisa dipungkiri kali ini kondisinya berbeda. Melihat situasi pandemi yang berdampak pada banyak hal dan berbagai berita duka yang terus bersimpangan membuat hari-hari terasa kelabu.

Tahun ini memang sempat punya rencana untuk mengurangi beban kerja. Tidak terlalu banyak mengambil pekerjaan sampingan lagi. Inginnya tahun ini bisa lebih baik dari tahun lalu. Setidaknya bisa menghadirkan berbagai momen yang lebih banyak senyumnya. Ketika sudah lepas dari sebuah “pegangan”, ada waktu yang cukup lowong untuk mencoba hal-hal baru. Sempat menyelesaikan sesuatu sampai lebih dari 120 halaman beberapa waktu lalu. Dan ternyata memang tidak mudah untuk menghasilkan sesuatu yang berkualitas dengan waktu yang terlalu terbatas dan terlalu banyak tekanan. Mempunyai komitmen, kedisiplinan, fokus, dan ketenangan sepertinya adalah modal yang sangat penting untuk menghasilkan sesuatu yang baik.

Tahun ini pun berencana untuk tidak merencanakan liburan. Hm, gimana tuh berencana untuk tidak membuat rencana? Ya, karena harus mengisi ulang tabungan lagi, maka rencana untuk liburan sempat dicoret dari tahun ini. Tapi tak menyangka bahwa tahun ini benar-benar belum bisa ke mana-mana. Bahkan takut jika harus ke mana-mana karena masih pandemi. Sehari-hari hanya di rumah saja. Sesekali ke swalayan saat kehabisan sabun atau camilan.

Rasa bosan ternyata bisa sama “menakutkannya” dengan rasa tertekan. Karena rutinitas bekerja dan bersantai semua dilakukan di rumah, kadang ada rasa bosan yang melanda. Jika sudah bosan, hal-hal yang tadinya disukai bisa terasa menjemukan. Mau cari udara segar pun bingung mau apa dan mau ke mana. Tidak mudah menjangkau yang lain karena masing-masing sedang bergumul dengan persoalan sendiri.

Siapa yang sangka, siapa yang sangka
Enam bulan sekarang terasa selamanya
Siapa yang sangka, siapa yang sangka
Kita ada di sini, oh absurd rasanya
Absurd rasanya

setengah tahun ini, hindia

Absurd. Kadang ada perasaan yang membuatku merasa aneh dengan semua yang terjadi dan telah terjadi hingga saat ini. Saat mengulang kembali gambaran dan kejadian-kejadian yang lalu, ada perasaan absurd yang menyelubungi. Ternyata bisa ya ada kejadian seperti itu. Oh, ternyata bisa ya seseorang bisa membuat keputusan seperti itu. Ah, ternyata bisa juga ya ada kejadian buruk yang terjadi berturut-turut.

Terlepas dari semua hal yang tidak enak dan membuat kita tidak nyaman, tetaplah berterima kasih pada diri yang sudah dan masih akan bertahan. Berterima kasih karena masih diberi kekuatan oleh Sang Penggenggam Kehidupan untuk melewati hari-hari yang kadang rasanya begitu absurd. Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih masih bertahan dan semoga bisa bertahan dengan keadaan yang lebih baik.