Skip to content

Tentang Menyederhanakan

cr: pexels.com/@cottonbro

There’s a rhythm in rush these days
Where the lights don’t move and the colors don’t fade
Leaves you empty with nothing but dreams
In a world gone shallow
In a world gone lean

José González – Stay Alive

“Sederhana saja. Jauhi yang menjauhimu. Dekati yang mendekatimu. Cintai yang mencintaimu.” Sebuah twit baru saja melintas di linimasa tentang perihal menyederhanakan hal-hal dalam hidup. Well, it’s easier said than done. Mudah untuk mengucapkannya, tapi untuk mempraktikkannya langsung… hm, tunggu dulu.

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah tes untuk suatu project. Senang sekali waktu dapat pesan langsung dari seorang rekruiter dari Negeri Tirai Bambu via LinkedIn. Ada sebuah posisi menarik yang ditawarkan dan pekerjaannya pun bisa dikerjakan dari rumah. Lalu, berlanjutlah ke surel untuk mengikuti tesnya. Ketika mengerjakan tes tersebut, saya merasa cukup percaya diri. Tak butuh waktu lama, langsung saya selesaikan tes itu. Merasa puas sudah melakukannya dengan baik. It was a piece of cake, that was I thought.

Yang tidak saya sadari dan perhatikan adalah bidang pekerjaan itu adalah sesuatu yang benar-benar baru. Belum pernah saya menggeluti bidang itu tapi malah terlalu jumawa dengan kemampuan sendiri. Merasa selama ini pekerjaan harian saya jauh lebih sulit dari tes itu, saya malah teledor saat mengerjakan tes tersebut.

Dua hari kemudian, saya dapat kabar bahwa hasil tes saya itu buruk, disertai dengan penjelasan adanya kesalahan fatal yang telah saya lakukan dalam tes itu. Posisi yang tadinya seakan sudah dalam genggaman itu pun hilang. Pupus sudah mendapatkan project itu. Sedih? Woooh, jangan tanya lagi, hehe. Nyesek banget! Saya jadi kecewa dengan diri sendiri yang kelewat berlebihan menilai diri sendiri.

“Ya sudah, memang belum rezeki.” Semestinya begitu saya perlu menerima kenyataannya, tapi… tapi kok nggak rela? Hehe. Sebenarnya berdekatan dengan itu juga saya mengalami penolakan yang lain bahkan jadi korban ghosting dari bakal calon klien. Hal-hal tak menyenangkan yang berkaitan dengan pekerjaan terjadi pada waktu yang bersamaan, tentu bikin ngenes sendiri. Namun, sebenarnya saya bisa menyederhanakannya. Menyederhanakan seperti kalimat awal tadi, “Ya sudah, memang belum rezeki. Yang penting sudah mencoba dan berusaha, kalau memang belum rezeki ya mau bagaimana lagi.”

Perkara menyederhanakan… saya merasa masih butuh banyak belajar untuk bisa menyertakan keikhlasan dan kerelaan dalam melakukannya. Mudah untuk diucapkan, tapi bisa sulit sekali untuk dilakukan.

“When simple is more than enough, you will feel happy more than enough!”

 Mehmet Murat ildan
cr: pexels.com/@daria

Saat ada hal-hal yang berjalan tak sesuai dengan keinginan, rasanya ingin protes tentang banyak hal. Ingin menyalahkan berbagai hal. Sulit untuk bisa ikhlas jika masih ada perasaan tidak terima menghadapi kenyataan yang ada. Padahal hidup memang seperti ini. Tidak semua hal berjalan sesuai harapan dan keinginan. Namanya juga diciptakan sebagai manusia, harus sadar diri bahwa ada Pemilik Jiwa yang lebih Maha Kuasa atas segalanya.

Tahun lalu bisa dibilang menjadi salah satu tahun terberat dalam hidup. Ada masalah-masalah yang sangat sulit dicerna oleh logika sendiri. Begitu kewalahan dengan persoalan yang dihadapi seorang diri. Kata-kata seperti ikhlas, rela, dan legawa seakan menghadirkan rasa pahit tersendiri. Mudah sekali tersenyum di depan orang lain, tapi tersenyum untuk diri sendiri (saat menatap cermin) yang keluar malah air mata. Sampai sekarang pun rasanya masih belum benar-benar pulih. Namun, setidaknya sudah jauh mereda. Setidaknya sudah bisa sedikit menyederhanakan kesedihan yang ada.

Menyederhanakan sesuatu… kenapa kadang masih sulit untuk dilakukan? Apa karena belum bisa menghadirkan rasa ikhlas? Belum bisa menerima kenyataan? Atau karena masih terlalu egois dan keras kepala?

Seorang sahabat pernah curhat melalui WhatsApp. Dia mengalami sebuah masalah dan mencurahkan isi hatinya. Saya sempat mengatakan bahwa percuma saja dia curhat dengan saya, toh saya juga nggak akan bisa menyelesaikan masalahnya. Sampai kemudian saya sadar bahwa yang dia butuhkan mungkin bukan soal mencari solusi atas masalahnya, tapi ingin meredakan perasaannya. Dia butuh seseorang yang bisa mendengarnya dan merespons kesedihannya. Itu saja sudah cukup untuknya. Sejak saat itu, tiap kali dia curhat, saya berupaya untuk setidaknya “hadir” dengan merespons isi hatinya. Membantunya untuk menyederhanakan kerumitan perasaannya.

Saya sendiri kadang saat sedang jenuh bekerja, sering mengunggah hal-hal remeh di story medsos. Kadang juga bikin cuitan atau tulisan sambat dan tak berfaedah di medsos. Bukan berarti karena sedang butuh perhatian (meski iya juga sih… tapi dikit, hehe). Cuma lebih karena dengan cara itu saya bisa sedikit menyegarkan pikiran biar bisa lanjut bekerja lagi. Apalagi kalau sedang mengerjakan sesuatu yang butuh fokus lama, pasti butuh jeda-jeda untuk sekadar berbagi story receh di medsos supaya kewarasan diri tetap terjaga. Menyederhanakan kejenuhan dengan menciptakan kebahagiaan sederhana melalui medsos tampaknya menjadi sebuah jalan ninja saya biar tidak gampang burn-out, sembari berdoa semoga teman-teman di medsos tidak eneg dengan hal-hal receh yang saya share di medsos, hehe.

Mungkin salah satu hal yang sulit untuk coba disederhanakan adalah perkara jodoh. Ehm. Kalau sudah bahas soal ini, sepertinya akan panjang sekali ya.

“Simple things are the most difficult ones; they enquire much more than one thought of ordinariness.”

Laura Chouette
cr: pexels.com/@cottonbro

Sering saya membuat tulisan soal jodoh yang pasti datang tepat waktu, cinta sejati yang akan ditemukan dengan cara tak terduga, pentingnya bersabar dalam penantian jodoh, dan hal semacam itu. Mudah sekali untuk menasihati orang lain. Mudah sekali untuk merapalkan hal-hal seperti dalam kata-kata yang ditujukan kepada orang lain. Namun, untuk dihayati sendiri dan dialami sendiri, rasanya berat juga.

Tentang sosok-sosok yang berpaling ke lain hati, hubungan yang putus di tengah jalan, ketidakcocokan yang berujung perpisahan dalam hubungan, serta untuk cinta yang tak bisa diperjuangkan sampai akhir… jika diperhatikan lagi sebenarnya semua itu bermuara pada satu hal yang sama, yaitu memang belum jodohnya. Sederhana saja. Belum berjodoh. Akan tetapi, namanya manusia kadang ada saja alasan dan pembenaran yang dibuat sendiri. Ketika cinta tak bersambut, langsung saja merasa insecure. Saat seseorang yang didekati malah menjauh, langsung merasa hidup ini tidak adil. Ketika yang diperjuangkan malah memalingkan diri, langsung mengutuknya. Padahal semua itu terjadi ya karena memang belum berjodoh. Mau bagaimana lagi, ya kan?

Kenapa ada yang jodohnya datang cepat, tapi ada juga yang terlambat? Ya, sama saja dengan rezeki. Ada yang mudah dapat rezeki, ada juga yang butuh perjuangan panjang untuk dapat rezeki. Begitu kira-kira satu poin yang saya ingat dari sebuah topik yang diobrolkan Najwa Shihab dan ayahnya di sebuah video di kanal YouTube-nya.

Perkara jodoh, kadang begitu banyak hal rumit yang dipertanyakan. Tentang penantian, kesabaran, perjuangan, proses panjang, dan perjalanan untuk menjemputnya, selalu saja ada hal-hal yang terasa begitu sulit dipahami. Tapi ya sudah jalani saja. Tiap orang punya perjalanannya (dan ujiannya) sendiri.

“Escape from complicated life! Take refuge in simple life! You will find three treasures there: Healthy body, peaceful mind and a life away from ambitious fools!”

Mehmet Murat ildan
cr: pexels.com/@cottonbro

“Duh, cobaan apa lagi ini? Ya udah dicoba aja dilalui.”

“Sampai kapan begini terus? Ya udah disyukuri yang mumpung ada begini.”

“Kenapa selesai satu masalah, muncul masalah baru? Ya udah diurus saja satu per satu.”

“Kenapa nggak bisa dapat kehidupan yang seperti orang lain? Ya udah fokus dengan kehidupan sendiri saja.”

“Kenapa orang lain mudah mendapatkan sesuatu tanpa usaha? Ya udah mungkin itu memang rezekinya.”

“Sampai kapan sedih dan kesepian terus? Ya udah dijalani saja dulu.”

“Kenapa gagal terus? Ya udah mungkin ada hikmah lain yang bisa diambil.”

Menyederhanakan sesuatu mungkin bisa jadi salah satu cara untuk bertahan. Bertahan hidup. Hidup sudah rumit. Takdir bisa begitu acak. Kalau kita tak berlatih untuk menyederhanakan banyak hal, pada akhirnya cuma bikin kita capek sendiri. Banyak hal yang sudah sangat menguras energi. Jadi, kalau masih juga memperumit keadaan, cuma bikin masalah jadi makin besar.

Saya sendiri masih sering overthinking. Masih sering berpikiran negatif. Tak jarang berprasangka buruk. Masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Bahkan rasanya belum menjalani hidup ini dengan baik. Kadang rasanya capek juga dengan masalah-masalah yang datang berulang. Tapi ya udahlah. Namanya juga hidup. Ketika ada hal-hal terjadi di luar kuasa diri, ya udahlah namanya juga seorang hamba.

Bukannya cuma pasrah saja dengan keadaan. Ikhtiar tetap dilakukan. Tawakkal tetap dikuatkan. Mungkin tidak mudah, tapi bukan berarti tak bisa dilakukan.

Soal pekerjaan, pernikahan, dan kehidupan, masalah mungkin akan bergantian hadir dan menyapa. Bersedih secukupnya. Sambat sewajarnya. Menangis pun boleh saja sampai lega. Cuma setelah itu tetap perlu melangkah lagi. Hidup ya begini ini. Saat segalanya terasa rumit, ada saatnya untuk mengambil jeda sejenak. Tuangkan dan luapkan semua yang ada sampai lega.

Lalu, bagaimana cara menyederhanakan perasaan berat yang sedang dirasakan saat ini? Mungkin bisa diawali dengan bilang ini pada diri sendiri, “Terima kasih sudah bertahan dan berjuang hingga sejauh ini.”

Published inCLARITY

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *