Skip to content

Tag: how is life

Kejutan

cr: pexels.com/@nida-5079840

Pagi tadi jam 6 kaget ada seorang ibu yang mengetuk pintu rumah. Kenapa kaget? Karena pada jam itu saya masih belum bangun tidur, hehe. Tapi sebenarnya yang bikin lebih kaget bukan itu.

Baca Apa pun Suka-Suka

cr: pexels.com/@olha-ruskykh

Ada masa ketika pernah mengakui punya hobi membaca itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Mungkin itu yang pernah saya rasakan, dulu. Rasanya seseorang yang suka membaca itu tipe orang yang “membosankan.” Namun, semakin ke sini saya merasa membaca adalah sebuah kebutuhan, dan tak perlu merasa canggung memperlihatkan bacaan ke orang lain.

Acak

cr: pexels.com/@vie-studio

Mungkin salah satu alasan saya masih mau menulis adalah karena perlu menguraikan isi kepala. Meski yang ditulis kadang acak, tetap saja menulis cukup membantu menjernihkan pikiran biar tidak puyeng atau nggliyeng sendiri, hehe. Lalu, kali ini mau menulis apa?

Seimbang

cr: pexels.com/@teona-swift

Hidup ini berpikir, bekerja, dan bermain. Thinking, working, playing. Tiga-tiganya harus ada, agar manusia menjadi lengkap. Kalau tidak berpikir, maka dia bukan manusia. Kalau tidak kerja, untuk apa jadi manusia? Kalau tidak playing, serius amat jadi manusia.

– Menjadi Manusia Menjadi Hamba (hlm. 190)

Beberapa waktu lalu saya merasa makin gampang capek. Sekalipun sudah mencoba untuk memperbanyak jam tidur dan minum kopi, kadang masih saja rasanya masih ngantuk luar biasa. Belum lagi tiap mau bangun pagi, rasanya tubuh ini berat sekali. Sampai kemudian saya mencoba untuk melakukan sesuatu.

Titik Tertentu

cr: pexels.com/@diana-onfilm

“Saat mencapai titik tertentu dalam hidup, kau ingin kembali ke awal.”

A Thousand Goodnights

Bisa dibilang hidup ini merupakan sekumpulan titik. Dari masa ke masa, kita berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Sesuatu bisa tampak berbeda karena kita sudah berada di titik yang tak sama. Perubahan bisa terjadi karena kita tak menetap di satu titik itu lagi. Perasaan-perasaan yang hadir pun bisa direfleksikan dengan cara berbeda, tergantung dari titik mana kita berada.

Buku Harian

cr: pexels.com/@ava-sol-77351255

Solusi terbaik untuk menyimpan koleksi buku adalah punya rumah yang lebih besar. Sungguh. Hehehe. Ketika beberapa waktu lalu memindahkan buku-buku dari rumah orangtua ke rumah sini, agak pusing juga menatanya kembali. Beberapa buku pun saya lepaskan demi kenyamanan. Di antara ratusan buku-buku, saya kembali menemukan jurnal dan buku harian yang pernah jadi kesayangan.

Stalking & Ghosting

cr: pexels.com/@jill-burrow

Teringat sosok Joe Goldberg di serial You. Membayangkan di sekitar kita ada seorang pria seperti Joe yang diam-diam ngintilin, ngintip dari luar jendela rumah, hingga melacak semua info kita di media sosial rasanya bikin bergidik. Ada penguntit macam Joe di dekat kita memang bikin ngeri. Namun, sebenarnya kita pun punya kecenderungan juga seperti Joe. Kecenderungan stalking. Kita pun seorang penguntit meski mungkin kadar dan levelnya berbeda-beda.