cr: unsplash.com/@arttupaivinen

“Kadang aku takut menghadapi realita. Jika ada laki-laki baik yang mau ngelamar aku terus keadaaanku masih gini gimana? Aku nggak ada tabungan untuk nikah. Rumah aku di kampung masih belum jadi. Kondisi aku masih fokus nyekolahin adikku. Masih biayai ortuku.

Kadang aku ingin jadi anak durhaka yang mau egois menatap hidup aku seperti teman-teman aku. Mereka menikah, sudah nyicil rumah, mobil, dan punya keluarga kecil.

Aku sangat benci dengan keadaan ini, mbak. Cuma ya gimana lagi. Aku harus hadapi. Itulah kenapa aku pelan pupus keinginan aku untuk menikah karena harapan-harapan ini yang kadang bikin aku sakit.”

Pada suatu sore, seorang sahabat menyapaku di WhatsApp. Sapaan yang datang tepat waktu karena saat itu aku sendiri sedang “butuh perhatian”. Satu persamaan yang kumiliki dengannya: kami perempuan dan anak sulung. Dia bekerja di ibu kota, jauh dari kampung halamannya. Sudah menyelesaikan S2 di Jepang dan sudah mengunjungi beberapa di negara di Asia hingga Eropa. Kariernya juga cemerlang. Namun, di balik itu semua dia juga memiliki beban yang sangat berat di pundaknya. Ada permasalahan dalam keluarganya yang sangat menguras tenaganya.

“Sakit sekali. Anak pertama perempuan yang menanggung ini semua sendirian. Jadi anak pertama anak perempuan yang bertanggung jawab itu menyedihkan. Dan nggak ada yang mikirin kita. Nggak ada yang pikirin kita dan perhatiin kita.”

Andai kami bertatap muka, mungkin kami akan saling menepuk pundak masing-masing untuk menguatkan. Aku tak bisa menyebut masalahnya lebih berat dariku atau menyebut aku “lebih beruntung” darinya. Karena nyatanya aku sendiri kesulitan menghadapi masalahku sendiri. Apalagi kalau sudah menyangkut masalah dalam keluarga, rasanya siapa pun pasti akan berada di titik terendah jika sudah mengalami permasalahan dengan anggota keluarga sendiri. Bagi seorang anak perempuan sulung, masalahnya mungkin bisa seputar tuntutan dari keluarga hingga masalah dengan adik sendiri.

Oke, entah itu anak sulung, anak tengah, maupun anak bungsu, pasti punya masalah dan rintangan tersendiri dalam hidupnya. Tentu saja. Tak ada maksud untuk membuat kesimpulan hanya anak sulung yang menderita. Di sini, mungkin aku hanya akan menuliskan hal-hal yang kurasakan dan mungkin dialami juga oleh para perempuan sulung lainnya.

Mengalah

Mengalah bukan karena ikhlas. Seringkali memang karena keadaan dan keterpaksaan. Ada hal-hal yang sengaja kita korbankan demi kebahagiaan dan kemudahan orang tercinta kita dalam keluarga. Kita bisa rela bekerja lebih keras dari biasanya demi membahagiakan keluarga. Demi memenuhi impian-impian orang tua yang sempat tertunda. Demi kebahagiaan adik dan saudara lainnya.

Karena keadaan, kita jadi terlatih untuk bangkit dan berjalan seorang diri. Mengalah bukan karena kita pikir itu pilihan terbaik, tetapi karena kita tak ingin menjadi tambahan beban bagi yang lain. Merelakan kebahagiaan sendiri dilepas demi memberi ruang pada orang tua atau adik kita untuk bisa lebih bahagia. Mengorbankan harapan dan keinginan sendiri demi membuka ruang yang lebih lapang untuk orang-orang yang paling kita cintai. Mengalah meski harus dengan menyembunyikan kesedihan seorang diri.

Terbiasa Tertatih Sendiri

Seorang teman pernah melepas kesempatannya untuk melanjutkan S2 karena ingin menenangkan dirinya sendiri. Saat itu ada masalah hidup yang cukup berat yang baru dialaminya. Sehingga dia memutuskan untuk pergi menjauh untuk sementara dan melewatkan kesempatan untuk lanjut S2 padahal namanya sudah masuk dalam daftar penerimaan mahasiswi baru kala itu.

Dia mencari jalan dan cara untuk bisa berdamai dengan keadaan sendiri. Saat itu aku menyayangkan keputusannya untuk melepas kesempatan untuk lanjut kuliah. Bila aku jadi dia, mungkin akan langsung kuambil saja kesempatan untuk S2 itu. Namun, aku bukan dirinya. Dia punya caranya sendiri menghadapi dan mengatasi masalahnya. Entah apa ini ada kaitannya sebagai anak yang terlahir sebagai perempuan dan sebagai seorang sulung yang terbiasa melakukan banyak hal sendirian, dia berusaha untuk bangkit seorang diri.

Saat mengalami kesulitan, jika memang tidak benar-benar butuh bantuan, aku memang lebih memilih untuk menyelesaikannya sendiri. Kesulitan dan rintangan yang ada sebisa mungkin kuatasi meski harus terluka berulang kali. Menangis seorang diri bukan hal yang asing lagi. Saat tak ada yang bisa menguatkan diri kita, maka kita sendirilah yang harus membuat keputusan untuk berdiri dan mulai melangkah lagi.

So let me go
I don’t wanna be your hero
I don’t wanna be a big man
I Just wanna fight with everyone else

Your masquerade
I don’t wanna be a part of your parade
Everyone deserves a chance to
Walk with everyone else

hero, family of the year

Tak Berani Mencoba Egois

Sejak kecil, terbiasa melakukan apa-apa dengan selalu memikirkan adik. Beli jajan atau beli barang, ada sosok adik yang langsung terbayang di benak. Ketika mendapatkan sesuatu, langsung terbayang sosok adik yang akan menjadi orang pertama untuk berbagi. Demi bisa membantu orang tua membiayai adik kuliah, kita pun rela bekerja lebih keras atau bertahan di pekerjaan yang sebenarnya kita benci.

Entah apakah semua anak sulung memiliki perasaan dan pikiran seperti ini. Rasanya kita selalu takut untuk menjadi orang yang egois. Walau sebenarnya ingin mencoba untuk “hidup seenaknya”, selalu saja ada sesuatu dalam hati yang memberontak. Ketika rasanya ingin mengabaikan orang tua atau adik sendiri, selalu saja ada tali yang seperti menarik kita kembali. Tak bisa dan takkan mampu bersikap egois.

Meski ternyata mungkin adik yang kita duga sudah kita jaga dengan baik bisa melakukan sesuatu yang egois. Ternyata dia tak sepeduli yang kita kira. Atau orang tua kita mungkin belum sebangga yang kita kira. Kita sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi sedikit saja kita tak pernah perhatian dari mereka.

Terlatih untuk Terlihat Baik-Baik Saja

Saat seorang teman mengungkapkan dirinya sangat rapuh dan merasa tak pernah diperhatikan sebagai seorang sulung, dia masih mencoba menguatkan dirinya untuk terlihat baik-baik saja. Baginya, inilah kenyataan yang harus dia hadapi. Andai ada satu orang saja yang menanyakan kabarnya, mungkin dia tak akan menangis seorang diri. Andai orang tuanya bisa memberi sedikit saja pengertian dengan kondisinya yang berjuang seorang diri di ibu kota, mungkin ia tak merasa sejatuh itu.

Terlatih untuk terlihat baik-baik saja, tampaknya ini “kelebihan” yang dimiliki oleh banyak anak sulung. Walau takdir hidupnya tak sesuai dengan harapan dan keinginannya, dia berupaya untuk tetap menerima kenyataan yang ada. Berusaha untuk tetap tersenyum dan melaksanakan tanggung jawabnya yang lain, meski dalam hatinya ada luka yang masih menganga. Ada kehampaan yang ia sembunyikan dari nada bicaranya yang terdengar ceria.

Banyak hari berat yang dilalui sendiri. Berbagai masalah diatasi sendiri karena tak ingin menjadi beban orang lain. Ketika nasib baik seakan makin menjauh dari hidupnya, dia harus menguatkan seorang diri menelan pil pahit yang ada. Mau bagaimana lagi? Jika ada pengorbanan yang perlu ia lakukan demi membuat orang tua atau adiknya lebih bahagia, maka hal itu akan dilakukan.

Sesak yang dirasakan di dada ditutup dengan topeng kebahagiaan yang palsu. Di balik seulas senyum, ada mata yang menyembunyikan air mata. Begitu beratnya menjadi seseorang yang harus menghadapi segalanya sendiri. Kesulitan untuk meminta bantuan atau sedikit perhatian. Hanya berusaha untuk pelan-pelan melangkah sembari berharap ada kekuatan baru yang bisa didapat dari cobaan yang ada.

Suatu kali, aku pernah mengatakan kepada seorang temanku yang terlahir sebagai anak tunggal bahwa aku iri dengan hidupnya. Karena suatu hal, aku merasa akan lebih mudah kondisiku saat ini jika aku terlahir sebagai anak tunggal. Namun, kemudian dia mengungkapkan bahwa yang sebenarnya terjadi adalah yang pahit-pahit memang nggak dipertontonkan. Pastinya seorang anak tunggal pun punya masalahnya sendiri. Siapa pun yang terlahir ke dunia memang akan dihadapkan pada permasalahannya sendiri.

What if I had your heart
What if you wore my scars
How would we break down
What if you were me
What if I were you

What if you told my lies
What if I cried with your eyes
Could anyone keep us down
What if you were me
What if I were you

what if, five for fighting

Untuk saat ini pelan-pelan menguatkan diri sendiri. Melalui hal-hal baik yang terjadi dalam hidup ini, kita perlu menjadi orang yang lebih banyak bersyukur. Melalui hal-hal buruk dan cobaan yang kita dapat dalam hidup ini, kita perlu belajar menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa lagi. Ketika ada hal yang terjadi di luar kendali dan harapan kita, tak ada jalan yang lebih baik selain menyandarkan diri pada Sang Pemilik Jiwa untuk memberi kita kekuatan baru untuk bisa bertahan. Setidaknya kekuatan untuk bisa tetap menampakkan senyum di depan orang-orang yang paling kita cintai di hidup ini.