Skip to content

Sudut Pandang

Namun, tidak seperti emosi lainnya, kekecewaan lebih sulit untuk diungkapkan: Jika dikeluarkan, perasaan itu akan terkesan remeh dan kekanak-kanakan, tapi jika saya terus memendamnya, perasaan itu akan semakin parah. Kedua hal itu yang membuat kita sulit mengambil sikap. Jika kita merasa putus asa, paling tidak kita bisa mengatakannya dan meminta pertolongan. Demikian pula jika kita merasa sedih, kita bisa menangis. Tapi jika kecewam perasaan itu lebih sulit untuk diekspresikan karena kita harus menjelaskan kepada orang yang telah mengecewakan kita.

love for imperfect things

Satu hal yang terasa begitu berat untuk dihadapi sepanjang tahun ini adalah berdamai dengan perasaan kecewa. Menerima dan berdamai dengan perasaan itu bukanlah hal yang mudah untuk saya. Beberapa bulan belakangan ini sering merasa bingung dengan situasi yang ada. Ada rasa kesal, marah, dan sedih yang begitu dalam. Sampai ketika saya membaca buku Love for Imperfect Things, saya merasa sepertinya akar dari sebagian besar perasaan yang membingungkan ini adalah rasa kecewa.

Beberapa minggu lalu, seorang sahabat datang ke rumah. Di tengah kesibukannya yang saat itu masih bekerja di hari Minggu, dia langsung ke rumah saya dan meluapkan rasa sedihnya. Ada suatu masalah dalam keluarganya dan membuatnya saat itu tak bisa membendung air matanya. Saya tak bisa melakukan banyak hal selain berusaha untuk memeluknya dan menepuk-nepuk bahunya untuk meluapkan kesedihan yang ada melalui air mata. Tak bisa saya mengatakan masalahnya sebenarnya tidak terlalu besar. Tak bisa pula saya meremehkan kesedihannya itu. Terlebih saya tak pernah tahu sedalam apa kekecewaan yang sedang ia rasakan saat itu.

Saat seseorang sedang menceritakan kegundahannya atau masalahnya, saya mencoba untuk tidak menghakimi atau menyudutkan. Apalagi jika yang ia rasakan saat itu adalah perasaan kecewa, seperti kutipan yang saya tulis sebelumnya bahwa kekecewaan itu lebih sulit untuk diungkapkan. Saat kita berupaya untuk menjelaskan alasan di balik kekecewaan kita terhadap seseorang, kita mungkin akan dicap terlalu kekanak-kanakan dan berlebihan. Namun, jika kita hanya memendamnya sendiri, perasaan itu akan makin bercabang dan menciptakan lonjakan-lonjakan emosi lainnya.

Saya sendiri mungkin masih tanpa sadar menghakimi atau menyudutkan seseorang ketika ia menceritakan masalahnya. Bagaimana pun yang bisa menyelesaikan masalah seseorang adalah orang yang mengalami masalah itu sendiri. Sebagai “orang luar” saya hanya bisa mencoba menyuguhkan sudut pandang berbeda. Menyampaikan sudut pandang pribadi yang mungkin tak disadari oleh orang lain. Dengan begitu, pandangannya bisa lebih luas dan bisa mencoba untuk mengambil kesimpulan terbaiknya sendiri.

Sepanjang tahun ini, saya mencoba untuk menemukan sudut pandang berbeda. Ketika ada masalah atau situasi yang membuat saya begitu kecewa hingga menciptakan kesedihan dan kemarahan di dalam diri, saya mencoba untuk menerimanya lebih dulu. Meluangkan waktu sendiri untuk meluapkan semuanya dengan air mata atau apa pun yang memungkinkan. Tak lagi menolak situasi yang ada. Meski memang pada awalnya ada situasi yang membuat saya begitu keras terhadap diri sendiri dan memaksakan diri mengubah “skenario” yang ada. Menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang tak berpihak pada diri sendiri. Menumpuk rasa sedih seorang diri saat merasa dikecewakan oleh orang-orang terdekat. Masih sering merasa bingung untuk berdamai dengan rasa kecewa. Sebab untuk menjelaskan situasi yang ada pada orang-orang yang telah membuat kita kecewa jelas butuh tenaga. Padahal ketika kita sedang merasa kecewa, kita bahkan tak punya energi untuk sekadar menatap diri sendiri di cermin.

Mengubah sudut pandang. Mencari makna lain. Berupaya untuk melihat sesuatu dari sisi yang berbeda, dari tempat yang lebih terang.

Makna hidup berbeda untuk setiap manusia. Dan berbeda pula dari waktu ke waktu karena itu. Kita tidak bisa merumuskan makna hidup secara umum.

man’s search for meaning

Pada titik-titik tertentu dalam hidup ini, kita akan menemukan saat-saat kita merasa tak punya harapan. Kita merasa hidup ini tak lagi bermakna. Kita kehilangan makna hidup sehingga rasanya hidup makin sulit untuk dijalani. Tak lagi punya semangat sebab sudah kehilangan harapan dan tak lagi punya makna untuk melanjutkan hidup.

Tidak mudah untuk selalu berpikir positif. Bukan hal gampang untuk bisa melihat sesuatu dari sisi baiknya. Saya pun masih sering kesulitan untuk melakukannya. Rasanya saya tak pernah berhasil untuk berpikir dengan pikiran yang lebih jernih. Saat berada di situasi yang tidak menyenangkan, hal pertama yang muncul di kepala adalah hal buruk. Sulit sekali untuk langsung mengubah sudut pandang yang ada menuju hal yang lebih baik atau positif.

Tidak mudah untuk selalu bisa menemukan makna dari suatu keadaan. Sulit sekali untuk bisa langsung berhasil menemukan titik terang dari suatu problema.

Saya masih payah dalam menghadapi dan mengatasi masalah sendiri. Meski memang kadang terlalu sok jago dan sok bijak ketika membantu orang lain menemukan sudut pandang lain untuk mengatasi masalahnya. Namun, dari pengalaman yang ada, saya tidak mau lagi mencampuri urusan orang lain yang berkaitan dengan romansa. Ah, sudah kapok rasanya memberi saran atau nasihat pada masalah percintaan orang lain. Saat seseorang sedang jatuh cinta atau dimabuk asmara, maka dunia yang ia lihat akan sangat berbeda dari dunia lainnya. Well, saya memang tak pernah tahu isi hati seseorang. Hanya saja kadang seseorang bisa menjadi begitu egois saat hatinya sudah dipenuhi romansa. Itu satu sudut pandang yang mungkin tak disepakati semua orang. Jadi, saya mungkin tak akan lagi mau mencampuri urusan percintaan orang lain. Perasaan mencintai dan dicintai sepertinya terasa begitu pribadi pada orang yang mengalaminya, dan terasa sangat asing bagi orang-orang yang ada di luar lingkaran itu.

Tahun ini sudah akan berakhir. Mungkin dalam satu kedip mata saja, kita sudah akan menginjak tahun yang baru. Jika menengok ke belakang, ke diri saya selama beberapa bulan ke belakang, rasanya saya ingin memeluknya. Ingin menepuk bahunya dan membuatnya bisa tersenyum saat menatap di cermin. Sungguhlah mudah untuk tampak tersenyum dan bahagia di depan orang lain, jauh lebih mudah dibandingkan menatap cermin dan tersenyum untuk diri sendiri. Tersenyum saat menatap kamera jauh lebih mudah dibandingkan tersenyum saat menatap mata sendiri. Tampak kuat di depan orang lain jauh lebih mudah dibandingkan tampak baik-baik saja saat sedang sendirian.

Ada sudut pandang yang berubah dalam benak ini terkait beberapa hal. Ada gambaran-gambaran baru yang muncul dalam bayangan terkait hal-hal yang telah terjadi sepanjang tahun ini. Saat kehilangan makna akan sesuatu, mungkin yang bisa kita lakukan untuk membuat kita bertahan adalah mengubah sudut pandang. Mencoba melihat sesuatu dari titik yang berbeda. Meski yang kita temukan bukanlah yang paling positif, setidaknya kita bisa merasa lebih lapang saat menemukan titik atau sudut pandang yang baru.

Memperluas sudut pandang. Itu yang sedang berupaya sedang latih dalam diri sendiri. Setidaknya itu salah satu kesimpulan yang bisa saya ambil dari berbagai hal yang terjadi sepanjang tahun ini.

Untuk hal-hal yang tak bisa didapatkan hingga saat ini, saya masih berupaya untuk merelakan semua. Untuk hal-hal yang belum bisa diperbaiki tahun ini, saya ambil pelajarannya. Untuk hal-hal yang telah menghadirkan kekecewaan, saya perlu menerimanya. Tidak semua hal bisa diubah karena meyakini sudut pandang tertentu. Tidak semua keadaan dapat berubah dan menyesuaikan dengan keinginan kita. Saat ada kegetiran dan kepahitan menyapa, ada kalanya memang perlu menerimanya begitu saja. Tidak menolak atau berusaha untuk mengoreksinya, tapi menerimanya. Meski memang akan meninggalkan bekas luka, tapi setidaknya itu akan mendorong kita untuk menemukan sudut pandang baru. Mendorong kita untuk bisa menemukan makna baru dan bertahan lebih kuat lagi menjalani hidup.

Kadang ketika satu masalah selesai, muncul masalah baru. Kesedihan bisa menyapa selama berbulan-bulan lamanya. Rasa kecewa sulit dihapuskan dengan satu pemahaman saja.

Sering kita mendengar bahwa tak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Ya, itu adalah ungkapan yang sangat indah. Meskipun begitu, kita juga perlu menerima kenyataan bahwa memang ada hal-hal yang sudah terlambat untuk kita lakukan. Ada hal-hal yang perlu kita lepaskan karena tak memungkinkan untuk kita miliki atau coba. Seperti sudah terlambat untuk naik pesawat karena pesawat sudah lepas landas sesuai jadwal yang ada, maka kita perlu menerimanya. Tak bisa memaksakan diri untuk mulai berlari dan mengejar pesawat yang sama. Di situasi seperti ini, kita perlu cari jalan lain. Menemukan jalan lain dan solusi lain.

Satu lagi hal yang saya rasa sangat penting yang kembali saya tekankan pada perjalanan tahun ini adalah soal diri saya yang hanya seorang hamba. Saya hanya seorang hamba. Ketika segalanya terasa gelap dan tak bermakna, saya kembali menundukkan diri. Menyerahkan segalanya pada Sang Pemilik Jiwa. Terus mengingatkan diri bahwa saya hanya seorang hamba. Ada hal-hal yang terjadi di luar kuasa genggaman diri sendiri. Tugas saya hanya berupaya untuk menjadi hamba yang lebih baik dari waktu ke waktu. Berjuang untuk menjadi hamba yang lebih baik pun tidak selalu mudah, tapi saya berupaya untuk tidak lagi berharap pada selain Sang Pemilik Kehidupan ini.

Sudut pandang saya terhadap beberapa hal memang ada yang berubah, dan saya berharap perubahan sudut pandang yang ada bisa memberi kebaikan yang lebih bermakna ke depannya.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *