Skip to content

Stalking, Ghosting, dan Pusing

cr: pexels.com/@jill-burrow

Teringat sosok Joe Goldberg di serial You. Membayangkan di sekitar kita ada seorang pria seperti Joe yang diam-diam ngintilin, ngintip dari luar jendela rumah, hingga melacak semua info kita di media sosial rasanya bikin bergidik. Ada penguntit macam Joe di dekat kita memang bikin ngeri. Namun, sebenarnya kita pun punya kecenderungan juga seperti Joe. Kecenderungan stalking. Kita pun seorang penguntit meski mungkin kadar dan levelnya berbeda-beda.

Hidup di era internet seperti ini, segala sesuatunya bisa dicari dengan mudah melalui Google. Selama seseorang meninggalkan jejak di internet atau punya akun media sosial, tidaklah sulit untuk langsung mendapatkan informasi dirinya. Apalagi kalau ternyata orang tersebut kesehariannya atau malah pekerjaannya tak jauh-jauh dari internet, sungguhlah mudah untuk melacak keberadaannya.

Kadang cuma butuh nama lengkap seseorang untuk mengenalinya lebih jauh melalui internet. Nggak tahu nama lengkap? Hm, bisa pakai kata kunci seputar domisili, tempat kerja, bidang yang digeluti, atau mungkin kampus tempat kuliah. Selama seseorang itu punya akun media sosial, mudah saja mendapatkan lebih banyak info tentang dirinya.

Kita semua yang tinggal di era internet seperti sekarang ini sepertinya punya potongan karakter Joe Goldberg dalam diri kita. Namun, semoga nggak sampai jadi psikopat, sosiopat, atau sampai melukai hingga membunuh orang karena obsesi stalking, ya.

Lalu ada juga ghosting. Menghilang bagai hantu. Bagi para pengguna atau yang pernah memakai dating app sepertinya sudah sangat paham rasanya menjadi korban ghosting atau menjadi pelaku ghosting. Ya namanya berkenalan di dunia maya, kita bisa dengan cepat menghilang atau ditinggalkan begitu saja. Yang awalnya sudah sama-sama nyaman mengobrol dan bertukar pesan, bisa tiba-tiba saja putus komunikasi. Yang tadinya kita merasa oke-oke saja berkomunikasi dengan kenalan baru, bisa tiba-tiba saja nggak mood untuk lanjut mengobrol. Siapa pun bisa menghilang bagai hantu dalam perkenalan di dunia maya.

Saat membaca buku The Socrates Express, saya menemukan kalimat menarik yang menjelaskan bahwa orang-orang yang menghilang bagai hantu sudah ada sejak sebelum abad ke-21. Pada pembahasannya dijelaskan soal bagaimana orang Jepang Zaman Heian sangat menghargai seni dan puisi. Puisi yang dikirimkan pada seseorang dibuat dengan sangat jeli dan teliti, bahkan untuk pemilihan kertasnya tak bisa sembarangan. Butuh upaya yang besar untuk mengirimkan sebuah puisi pada seseorang. Bayangkan mengirim puisi yang sangat indah dengan kertas yang sangat mahal, tapi kemudian tidak mendapat balasan apa pun. Jelas sudah menjadi korban ghosting.

Yang tidak mengenakkan dari menjadi korban ghosting adalah perasaan diabaikan. Menghadapi seseorang yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar sungguhlah melukai hati. Tidak ditanggapi oleh seseorang dan didiamkan begitu saja jelas membuat kita sangat sedih. Tapi kita pun mungkin juga pernah jadi pelaku ghosting. Karena merasa tidak nyaman dengan seseorang tapi bingung untuk menyampaikan alasan, kita memilih untuk menghilang saja. Di dunia maya, fenomena ghosting tampaknya sudah jadi hal yang lumrah terjadi setiap saatnya.

Membahas soal stalking dan ghosting ini kadang bikin pusing sendiri, terlebih jika kita sendiri pernah menjadi korban sekaligus pelaku.

Menjadi korban stalking, kita merasa tak lagi aman. Rasanya ada yang terus memata-matai dan itu bisa membuat kita ketakutan dan tak nyaman. Kalau kita yang jadi pelaku, kadang ada rasa malu sendiri. Sebab saatstalking kita seperti sedang diam-diam mengintip hal-hal yang tak semestinya kita ketahui.

Menjadi korban ghosting, ada rasa percaya diri yang langsung jatuh. Ada rasa sedih karena merasa dikucilkan dan diabaikan. Sedangkan kalau menjadi pelaku ghosting, kadang kita merasa telah melukai seseorang (kalau memang kita masih punya hati, hehe). Nggak nyaman aja pokoknya.

Namanya hidup di era internet dan media sosial, kita tak bisa lepas dari stalking dan ghosting. Ada saja hal-hal yang bersinggungan dengan kedua hal itu tiap kali kita bersinggungan dengan dunia maya. Dahlah ya nggak usah macem-macem di dunia maya biar nggak bikin pusing sendiri, sembari berdoa semoga tidak ada yang berniat buruk dengan diri kita di sini.

Published inCLARITY

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *