cr: unsplash.com

Dalam sulih teks, ada aturan yang perlu diikuti terkait shot change. Hm, apa itu shot change? Bagaimana terjemahan harus disesuaikan dengan shot change dalam pengerjaan sulih teks (subtitling)?

Menurut pemahaman saya, shot change merupakan perpindahan adegan. Misal, perubahan dari adegan di perkantoran lalu muncul adegan di kamar mandi. Dalam menerjemahkan teks film, kita tak bisa begitu saja menerjemahkan kalimat tanpa memperhatikan shot change. Tentu akan tidak nyaman bila teks yang dari adegan di dalam ruang kantor masih terbawa muncul di adegan kamar mandi, sedangkan di kedua adegan tersebut ada orang yang berbeda dengan topik percakapan yang berbeda pula. Yang nonton filmnya pun mungkin akan misuh-misuh, hehe.

Selain memastikan terjemahan sesuai dengan audio (pas dengan gerak mulut atau suara dari video), kita juga perlu mengikuti aturan terkait panjangnya hasil terjemahan yang bisa ditampilkan bila berpotongan atau bersinggungan dengan shot change. Bisa jadi kita perlu sedikit memendekkan atau memanjangkan frame untuk menampung kalimat terjemahan kita supaya tetap nyaman dibaca ketika berpotongan dengan shot change. Alhasil, kita pun perlu menyesuaikan lagi panjang pendeknya hasil terjemahan supaya tetap sejalan dengan shot change.

Bagi yang sudah pernah melakukan sulih teks dengan tools atau software tertentu mungkin tidak terlalu bingung dalam memahami shot change ini, ya. Tapi bagi yang masih asing dengan kerjaan subtitling, semoga info ini bisa sedikit memberi gambaran biar tidak kaget ketika jadi subtitler. Maksudnya biar tidak kaget bila kepala mendadak pusing berkali-kali atau stres saat harus merevisi ulang penerjemahan yang perlu lebih padat karena bersinggungan dengan shot change 🙂