Skip to content

Setiap Tulisan akan Menemukan Pembacanya

Last updated on 01/28/2021

cr: pexels.com/@cottonbro

Selama sepekan lalu, saya mengikuti beberapa webinar dari Ruang Tengah. Mengikuti bincang-bincang penulis dan mengikuti berbagai pembahasan tentang dunia buku. Di tengah kondisi pandemi dan belum bisa kemana-mana (bahkan bekerja pun tetap di rumah saja), bisa mengikuti acara dengan tema yang tak jauh-jauh dari kepenulisan dan dunia buku jadi hal yang menyenangkan. Senang rasanya bisa melihat sudut pandang berbeda dari penulis-penulis yang menjadi narasumber. Satu hal yang semakin saya pahami bahwa setiap tulisan akan menemukan pembacanya.

Setiap tulisan punya pembacanya. Setiap karya punya pasar sendiri. Tentu saja agar setiap tulisan dan karya bisa ditemukan pembaca, banyak pihak yang terlibat. Perlu ada pengenalan, pemasaran, dan promosi. Ibarat harta karun yang masih terpendam, perlu ada pihak yang menggali dan menampilkannya ke publik.

Tidak jarang saat menemukan buku yang populer dan membacanya, lalu tak sesuai dengan ekspektasi sendiri, langsung bertanya-tanya, “Buku ini kok bisa sih terkenal? Kok bisa sih populer dan banyak yang membicarakannya?” Ya, memang tak bisa dipungkiri bahwa untuk urusan membaca kembali pada selera. Buku yang saya suka belum tentu disukai orang lain. Buku yang disukai orang lain pun belum tentu saya suka. Setiap tulisan punya target pasarnya sendiri. Tinggal bagaimana upaya agar tulisan itu bisa mencapai dan ditemukan oleh pembaca yang menjadi target pasar itu.

Di dunia dengan arus informasi yang begitu cepat, kita hidup dengan dibanjiri banyak hal. Banyak media daring yang menyuguhkan berbagai berita, informasi, dan artikel gaya hidup. Kita dihadapkan pada banyak pilihan. Sehingga kadang kita pun butuh rekomendasi atau filter untuk menemukan hal yang sesuai dengan keinginan kita. Perlu ada jembatan untuk memberi pembaca tulisan yang sesuai dengan keinginan mereka. Agar sebuah tulisan bisa dibaca banyak orang, tak bisa hanya sekadar menulis dan menyuguhkannya. Perlu keterlibatan pihak-pihak yang kooperatif untuk membuat tulisan ditemukan pembaca dan pembaca bisa mendapat tulisan yang diinginkan.

cr: pexels.com/@cottonbro

Yang cukup menjadi sorotan dari rangkaian acara Ruang Tengah lalu adalah tentang popularitas buku-buku dari penulis Korea Selatan. Saya sendiri pun makin tertarik untuk membaca buku-buku terjemahan dari penulis Korea Selatan. Ada rasa penasaran setiap kali menemukan buku dengan penulis Korea, meski kadang isinya pun (pada buku tertentu) tidak se-wah yang dibayangkan. Tapi memang yang bikin kagum adalah betapa gencarnya promo terhadap buku-buku Korea Selatan tersebut. Seperti pada buku-buku bertema pengembangan diri, sebenarnya penulis Indonesia pun bisa menulis buku-buku dengan tema-tema yang disuguhkan pada buku-buku dari penulis Korea Selatan. Meski mungkin dari sisi daya jual buku, pembaca akan lebih penasaran saat menemukan buku dari penulis Korsel daripada penulis Indonesia, khususnya pada pembaca yang memang menyukai budaya Korea (karena terpengaruh drama Korea, k-pop, atau halyu wave). Ditambah lagi ketika ada idol tertentu yang membuat unggahan tentang buku yang sedang dibaca, pastilah buku tersebut langsung memantik rasa penasaran para penggemarnya. Membuat para penggemar idol itu mencari tahu apakah buku yang dibaca idolanya itu sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Setiap penulis pun punya cara sendiri untuk membuat karya yang bagus. Salah satunya adalah menulis tanpa tergesa-gesa. Beberapa penulis mengungkapkan tak suka diberi tenggat saat menulis. Apalagi bila penulis punya pekerjaan tetap yang tak bisa ditinggalkan, maka pastinya harus berupaya lebih keras untuk membagi waktu. Bahkan ada yang mengatakan lebih baik tidak menepati tenggat daripada memaksakan diri menulis karena hasilnya pun bakal kurang memuaskan. Untuk menulis sebuah cerita pendek pun, revisinya bisa sampai puluhan kali. Menghasilkan karya yang bagus tentu butuh waktu. Menulis kalau dilakukan dalam keadaan capek, seringkali hasilnya malah berantakan. Apalagi kalau sudah melibatkan industrinya, maka tak bisa “melemparkan” karya yang asal-asalan begitu saja karena yang terjadi nanti malah akan ditolak oleh para pembaca.

Membuat tulisan yang bagus sepertinya memang tak bisa terburu-buru. Bisa sih dibuat dengan terburu-buru, tapi pembacanya pun nanti juga akan “buru-buru”. Buru-buru kabur dan tidak menyelesaikan membaca karena tulisan yang disuguhkan tidak bagus. Kualitas karya sangat dipengaruhi oleh kuantitas waktu dan upaya yang dikerahkan untuk membuatnya. Saat tulisannya sudah bagus, maka menghadirkannya ke pembaca pun jadi lebih mudah.

Setiap tulisan akan menemukan pembacanya selama ada perantara yang tepat. Kalau di dunia buku, saat ini ada yang namanya bookfluencer. Pemengaruh buku. Siapa saja bisa menjadi bookfluencer. Selama suka buku dan mau berbagi info atau kesan-kesan dari buku yang dibaca di media sosial, sudah bisa jadi bookfluencer. Tentang sebesar apa pengaruhnya, hm… ini bisa tergantung dari banyak hal. Tapi nggak masalah juga sih kalau punya follower cuma sedikit. Siapa tahu ada satu atau dua orang yang ikut penasaran untuk baca buku yang sedang kita bagi. Keberadaan bookfluencer ini pun bisa jadi jembatan untuk membawa tulisan menemukan pembacanya. Sebab kadang ada pembaca yang nggak baca buku tertentu bukan karena nggak suka, tapi karena nggak tahu saja.

Kalau di dunia media daring, setiap tulisan akan menemukan pembacanya jika dibantu oleh sejumlah hal seperti kualitas tulisan dan promosi yang tepat sasaran. Tulisan berkualitas akan susah ditemukan pembaca jika tenggelam begitu saja. Perlu promosi yang bagus juga. Cuma masalahnya kadang warganet ini lebih suka mengomentari judul. Belum baca tulisan secara utuh sudah berkomentar, dan komentarnya itu cuma sebatas pada lingkup judulnya saja. Kalau sudah begini, apakah tulisan akan menemukan pembacanya jika judulnya provokatif?

Published inCLARITYWRITING

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *