Skip to content

Setelah 40 Minggu WFH

cr: pexels.com/@vlada-karpovich

Sudah 40 pekan dijalani dengan bekerja penuh waktu dari rumah (work from home). Tadinya mengira rutinitas WFH hanya akan berlangsung dua pekan seperti intruksi awal dari kantor pada pertengahan bulan Maret tahun lalu. Lalu, siapa sangka WFH kemudian diperpanjang sekian pekan, hingga akhirnya sudah melebihi 40 pekan. Pandemi covid-19 yang entah kapan akan reda memang masih mengkhawatirkan di negeri ini.

Jadi, apa saja rutinitas dan hal-hal yang sudah dilakukan selama WFH ini?

Rutinitas bekerja dari rumah sebenarnya bukan hal baru untuk saya. Selepas lulus kuliah dulu, saya sempat menjadi pekerja lepas selama kurang lebih dua tahun. Dalam kurun waktu dua tahun itu, benar-benar bekerja hanya dari rumah saja. Menyelesaikan satu demi satu tenggat pekerjaan di depan komputer di dalam kamar. Sesekali diselingi dengan memberi les privat bahasa Inggris. Saat itu, kadang saya merasa tertekan juga saat dianggap masih pengangguran karena tidak punya kantor dan tidak ada rutintias keluar rumah setiap hari untuk pergi ke kantor. Padahal yang tidak banyak orang tahu, ada hari-hari saya lembur sampai subuh demi menyelesaikan pekerjaan.

Saat akhirnya kembali bekerja kantoran, saya masih menjalani rutinitas bekerja di rumah. Ada masa-masa rutinitas saya setiap harinya hanya untuk berduaan dengan komputer dan laptop. Di kantor kerja, di rumah pun kerja. Tentu saja melelahkan, tapi ketika pekerjaan yang dilakukan dan dijalani bisa memberi kebahagiaan, rasanya tak ada salahnya untuk bekerja. Bahkan beberapa project pekerjaan sampingan membuka pintu rezeki yang penuh kejutan.

Menjalani rutinitas WFH selama pandemi ini, saya lebih fokus pada pekerjaan kantor. Dalam kurun waktu 40 pekan itu, rasanya hanya bisa dihitung dengan jari saya mengerjakan pekerjaan lain. Selebihnya, saya isi waktu dengan hal-hal yang bisa membuat saya “tetap waras”. Pada saat yang bersamaan, selama kurun waktu tersebut saya memang sedang membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat. Mengingat pada tahun-tahun sebelumnya, kadang saya terlalu memaksakan diri mengerjakan banyak hal dan menumpuk stres di pikiran. Dengan lika-liku baru yang terjadi sepanjang tahun 2020 lalu, meluangkan lebih banyak waktu untuk diri sendiri ternyata adalah hal yang memang sedang sangat saya butuhkan.

Makin Menyadari bahwa Bekerja adalah Sebuah Kebutuhan

cr: pexels.com/@vlada-karpovich

Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan dan memudahkan saya untuk bekerja. Pekerjaan saat ini memang sangat bisa dilakukan tanpa harus ngantor. Selama laptop masih berfungsi dengan baik, koneksi internet lancar, listrik nyala, dan bisa tidur cukup, saya sudah bisa bekerja dengan baik.

Selama WFH ini, praktis saya tidak naik kendaraan umum seperti biasanya untuk berangkat ke kantor dan pulang ke rumah. Bahkan selama 40 pekan WFH, rutinitas keluar rumah paling hanya pergi ke swalayan dekat rumah. Pernah satu kali harus terbang ke luar pulau karena ada acara keluarga yang memang tak bisa dibatalkan (dan langsung berketetapan hati untuk tidak lagi bepergian selama pandemi jika memang tidak urgent). Sudah setahun pula tidak pernah ke mal, tidak pernah jalan-jalan ke pusat kota, tidak pernah liburan atau keluyuran, tidak pergi ke bioskop, bahkan waktu cuti pun dihabiskan untuk rebahan di rumah saja. Apakah pernah bosan? Wah, jangan ditanya. Rasa bosan rasanya sudah berulang kali menghampiri.

Satu hal yang makin saya rasakan selama WFH adalah bahwa bekerja adalah sebuah kebutuhan. Bahkan bekerja tampaknya menjadi pertahanan diri saya. Bukan berarti setiap hari saya bekerja tanpa istirahat. Tentu saja butuh istirahat, tapi saya juga butuh bekerja. Tidak melakukan apa-apa dalam kurun waktu yang berlebihan malah bikin stres sendiri, hehehe.

Bekerja dari rumah, tak perlu repot-repot harus pakai baju rapi. Saya tetap bisa bekerja nyaman dengan mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Mungkin ada yang tetap “mewajibkan diri” berpakaian rapi selama bekerja di rumah untuk meningkatkan dan tetap menjaga semangat bekerja. Ya, memang tiap orang punya cara sendiri untuk menjaga produktivitas selama WFH. Kalau saya sendiri, selama bisa duduk dengan nyaman dan mendapat cahaya matahari yang cukup saat bekerja, itu sudah cukup bisa menjaga mood bekerja.

Saat membaca berita yang bertebaran di internet, kondisi pandemi ini memang menyulitkan banyak pihak dan orang untuk bekerja. Ada yang kehilangan pekerjaan karena pandemi. Ada juga yang perusahaan atau kantornya tutup karena terdampak pandemi. Tak sedikit pula yang bisnisnya kacau hingga bangkrut karena pandemi ini. Bertahan di situasi pandemi tidak selalu mudah bagi semua orang. Semoga kita semua bisa tetap bertahan dan berjuang di tengah situasi sulit ini. Masih bisa bekerja merupakan sebuah berkah yang luar biasa.

Makin Menyadari bahwa Kebahagiaan Memang Perlu Diciptakan Sendiri

cr: pexels.com/@vlada-karpovich

Tak bisa dipungkiri ketika melihat unggahan orang-orang di media sosial yang tampak bahagia, ada rasa cemburu dan iri. Iri dengan kebahagiaan mereka. Cemburu dengan kehidupan mereka yang tampak lebih baik. Apalagi selama pandemi ini, ketika diri sendiri masih berupaya dan masih bertahan untuk tidak bepergian, lalu melihat ada orang lain yang pergi berlibur, rasanya jadi makin sedih. Saat diri sendiri bertahan untuk di rumah saja selama berbulan-bulan lalu melihat ada yang tampak masa bodoh menanggapi situasi pandemi ini, rasanya kembali sedih.

Kalau bercermin dengan kehidupan orang lain, ya rasanya bakal makin susah bahagia. Selama WFH dengan sebagian besar waktu yang dihabiskan dengan diri sendiri, saya makin menyadari bahwa kebahagiaan memang perlu diciptakan sendiri. Tak bisa terus menggantungkan orang lain. Tak bisa pula selalu membandingkan diri dengan orang lain.

Menonton drama Korea, film, serial Barat, dan berbagai macam variety shows hingga segala jenis video di YouTube sudah menjadi “jalan ninja” saya untuk menjaga takaran bahagia. Ketika sudah selesai bekerja dan butuh hiburan, cukup nyalakan laptop dan duduk manis sambil rebahan.

Buku-buku menjadi teman terbaik selama WFH. Memang kadang saya merasa bosan dan jenuh saat membaca. Tapi ketika pikiran sedang rumit, baca buku bisa mengurai rasa jenuh yang ada. Saat sedang bosan dengan menatap monitor gawai, menggenggam buku bisa jadi mood booster tersendiri.

Menguleni adonan pun jadi stres reliever tersendiri. Di rumah, saya selalu menyimpan stok tepung-tepungan. Seperti tepung terigu, tepung ketan, dan tepung tapioka. Kalau sudah jenuh dengan banyak hal, meluangkan waktu untuk sekadar membuat donat sudah bikin hati senang.

Berbelanja online pun jadi bagian tak terpisahkan selama WFH ini. Sudah ada banyak hal dan barang yang saya beli secara online. Lemari baju, wajan, panci, sprei, produk skincare, camilan, baju, sepatu, buku, vitamin, bumbu dapur, hingga kopi sachet seribuan saya beli via lokapasar. Setiap kali ada kurir datang dan meneriakkan, “Paket!” wah itu sudah bikin bahagia sendiri.

Masih belum rutin olahraga, tapi kadang masih meyempatkan untuk olahraga di rumah. Karena lutut kanan yang kondisinya tidak seperti dulu lagi (setelah dioperasi tahun lalu), kadang masih deg-degan jika harus berolahraga yang terlalu intens. Bahkan untuk jumping jack saja masih belum berani. Jadi, memang tidak terlalu memaksakan diri untuk berolahraga yang berat selama WFH ini. Tapi memang berolahraga bisa mengalirkan perasaan bahagia sendiri. Menaklukkan diri sendiri dengan berolahraga beberapa menit bisa memberi kepuasan batin.

Nyanyi sendiri sepuas hati pun kadang jadi mood booster yang cukup ampuh. Bisa menghabiskan waktu melakukan hal yang disuka tanpa khawatir dihakimi menjadi kemewahan tersendiri. Punya rutinitas nyapu, ngepel, hingga menyikat lantai kamar mandi pun bisa cukup menyenangkan.

Menciptakan kebahagiaan bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Tak harus menunggu orang lain atau situasi untuk berubah. Kalau diri sendiri tak bisa bahagia dengan cara sendiri, rasanya sulit untuk bertahan di situasi ini.

Makin Menyadari bahwa Hal-Hal yang Biasa Sebenarnya Luar Biasa

cr: pexels.com/@anderson-miranda-836630

Mengikhlaskan sesuatu tidaklah mudah. Menerima perubahan yang tak pernah diinginkan jelas sangat menyiksa. Menghadapi situasi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya memang akan membuat tertekan. Selama 40 pekan ini, rasanya ada pergulatan panjang dan berat yang dihadapi sendiri. Selain soal pekerjaan, permasalahan-permasalahan lain yang tak pernah diduga sebelumnya muncul bagai hantu yang terus bergentayangan di dalam benak. Tidak mudah menjalani dan menghadapi semuanya, tapi bukan berarti harus putus asa begitu saja. Tak bisa terus menerus menyalahkan keadaan atas hal-hal yang terjadi di luar keinginan atau harapan.

Hari-hari yang biasa memang terasa monoton. Bahkan sudah beberapa kali saya merasa bosan saat menghadapi sesuatu yang itu-itu saja. Namun, dalam beberapa kesempatan saya kembali disadarkan betapa istimewanya hal-hal yang mungkin sepintas tampak biasa-biasa saja. Masih bisa bangun di pagi hari, menjalani rutinitas tanpa harus keluar rumah, dan tidur malam dengan nyenyak adalah hal-hal yang luar biasa. Kesehatan, kenyamanan, dan ketenangan hati merupakan hal-hal yang tak bisa ditukar atau diperjualbelikan dengan uang begitu saja. Saya sendiri masih belajar. Masih terus mengingatkan diri untuk bersyukur atas setiap detik waktu yang dilalui.

Masih banyak hal yang masih perlu diperbaiki. Masih banyak proses yang perlu dilalui untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Selama 40 pekan bekerja dari rumah, sebenarnya ada banyak hal yang semestinya sudah saya syukuri. Semoga ke depannya, ada perubahan-perubahan lebih baik yang terjadi. Serta, semoga pandemi ini pun segera berakhir.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *