Skip to content

Setahun Bekerja dari Rumah

Last updated on 03/27/2021

WFH sudah setahun, aja!

Karena pandemi COVID-19, setahun belakangan ini bekerja dari rumah. Bila rutinitas harian sebelumnya dipenuhi dengan pergi ke kantor-pulang ke rumah, setahun ini rutinitasnya sebatas kamar tidur-kamar mandi, hehe. Dari Senin sampai Sabtu, bekerja di dalam kamar tidur, dengan satu meja dan kursi serta laptop. Biar nggak terlalu merasa kesepian, putar musik sepanjang hari lewat speaker mini yang dibeli online beberapa bulan lalu.

Setahun bekerja dari rumah, apa saja suka dukanya?

Rasa bosan jelas sering menghinggapi. Selama pandemi ini, saya sendiri berusaha untuk tidak bepergian bila tidak benar-benar penting. Bahkan tak punya dan tak menjadwalkan liburan, meski sangat rindu naik kereta api, naik pesawat, atau sekadar jalan-jalan keluyuran menyusuri gang-gang di tempat baru sendirian. Sungguh rindu liburan tapi lebih berharap pandemi segera berakhir dulu.

Yang disyukuri bekerja dari rumah adalah tidak repot-repot harus pakai baju rapi tiap kerja (meski waktu ngantor pun, sehari-hari juga pakai baju yang kasual bukan formal). Memang kadang penampilan tertentu bisa jadi mood booster untuk lebih semangat bekerja. Ada teman yang tetap pakai make up dan baju formal untuk bisa menjaga mood kerja di rumah. Tapi kalau saya sendiri, selama sudah mandi pagi dan pakai baju bersih, sudah siap untuk kerja di depan laptop. Setahunan ini pun “baju kerja” yang paling sering dipakai cuma kaos pendek dan celana pendek, hehe. Nggak pernah pakai celana jeans lagi. Sekalipun ada online meeting, tetap pakai baju santai. Yang penting sudah bersih semua, maka sudah bisa nyaman bekerja dari rumah.

Yang paling bikin deg-degan bekerja dari rumah adalah kalau mati listrik dan koneksi internet terganggu. Wah, kacau sudah. Nggak bisa kerja tanpa listrik karena sehari-hari pakai laptop. Tanpa internet pun nggak bisa kerja karena semua urusan pekerjaan sangat bergantung pada koneksi internet. Bikin hati nggak tenang kalau ada gangguan seperti ini sementara pekerjaan harus selalu dikerjakan tepat waktu.

Setahunan lebih banyak di rumah, jadi hafal jam-jam pedagang keliling di sekitaran sini. Kalau pagi sekitar pukul 05.30, ada yang jual sayur. Tak lama kemudian, ada Sariroti lewat. Penjual lauk pepes dan bothok mulai menjajakan dagangannya. Penjual kue serba dua ribu rupiah juga lewat. Sekitar pukul 07.00, penjual nasi krawu mulai meneriakkan dagangannya. Tak lama kemudian ada penjual bubur. Siang sampai sore pedagang bakso datang silih berganti. Sore hari kadang ada penjual siomay, lalu Sariroti lewat lagi. Sekali dalam beberapa hari ada kakek penjual kerupuk miler yang keliling. Pedagang sapu dan perkakas plastik juga kadang lewat. Penjual tanaman, kaca rias, tiang jemuran, dan penjual arbanat juga sesekali lewat depan rumah. Petugas PLN kadang sebulan sekali datang, kadang sama sekali tidak nongol. Petugas kebersihan mengangkut sampah tiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Jelang tengah hari, bapak satpam keliling. Malam hari kadang ada yang jual angsle, putu, dan bakso lagi. Sekitar pukul 22.00 petugas keamanan keliling kompleks pakai sepeda. Wah, sungguh detail sekali ini jadwalnya, haha.

Pernah dalam sebulan, saya hanya keluar satu kali untuk pergi ke Alfamart dekat rumah. Selebihnya hanya di rumah, haha sudah macam keong saja yang melekat dengan rumah sendiri. Biasanya keluar rumah untuk belanja ke swalayan dan itu biasanya langsung beli banyak untuk stok beberapa minggu. Kadang kalau benar-benar mager, mengandalkan Shopee untuk sekadar beli kopi dan teh. Awal-awal bekerja dari rumah sering jajan via GrabFood, tapi sejak beli kompor, sudah lebih berkurang jajannya. Selama masih ada stok tepung kanji, tepung terigu, ragi, dan indomie, sudah cukup sejahtera.

Setahun ini pula saya tinggal di rumah sendiri. Berawal dari akhir Februari tahun lalu setelah operasi lutut, saya langsung tinggal di rumah ini. Sempat seminggu bekerja dari rumah saat pemulihan, ngantor lagi sebentar, lalu keluar kebijakan bekerja dari rumah, jadi bablas kerja dari rumah lagi. Awalnya hanya dua minggu, lalu diperpanjang sampai Lebaran, dan terus diperpanjang sampai satu tahun lamanya. Sehari-hari lebih banyak menghabiskan waktu untuk diri sendiri. Rasanya cukup campur aduk.

Semakin saya sadari bahwa tempat bersosialisasi saya selama tujuh tahun belakangan ini ya kantor. Mengingat sebagian besar sahabat dekat sudah berkeluarga dan yang lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing, maka teman-teman kerjalah yang sekaligus jadi teman bermain (teman bermaiiin). Teman-teman kerja satu tim sudah seperti saudara sendiri. Bersama mereka, saya bisa jadi diri sendiri. Mungkin jelek buruknya saya (haha nggak ada baik-baiknya) sudah mereka ketahui. Karena selama rutinitas bekerja di kantor dengan konsep open office, sebagian besar waktu harian banyak dihabiskan berdekatan dengan mereka. Ketika akhirnya bekerja dari rumah dan sendirian, kadang ada yang terasa hilang. Oh sungguh hampa!

Karena pandemi, rapat-rapat dilakukan secara daring. Bahkan untuk liputan pun serba daring, lewat Zoom, Webex Meet, atay Google Meet. Sama sekali nggak pernah berada di kerumunan.

Menjaga mood kerja dari rumah jadi tantangan tersendiri. Kalau saya, pokoknya maksimal pukul 08.30 sudah beres mandi dan sudah menyalakan laptop. Kalau lewat dari waktu itu, biasanya mood kerja bakal susah terbentuk dan bakal memengaruhi produktivitas seharian itu. Karena tinggal di rumah juga masih sendirian, kadang kalau terasa terlalu sepi jadi nggak nyaman kerja. Pelariannya paling ke Spotify atau YouTube, diputar dengan cukup keras biar suasana rumah terasa lebih hidup.

Sebenarnya bukan hal baru juga bekerja dari rumah. Dulu saya pernah menjadi pekerja lepas selama dua tahun. Saat itu memang tidak ada kantor karena semua dilakukan serba online. Nyambi jadi tentor bahasa Inggris juga biar ada waktu untuk bersosialisasi dan biar nggak mendekam terus di rumah. Bekerja dari rumah tidak terlalu sulit tapi kali ini karena situasinya adalah karena ada pandemi, jadinya lebih banyak kecemasan yang dirasakan.

Banyak waktu yang dihabiskan sendiri. Banyak hal yang kemudian terpikirkan kembali. Kalau dirunut kembali sejak lulus kuliah, sepertinya saya menghabiskan sebagian besar waktu untuk cari uang, haha. Pokoknya kerja dan bisa pegang uang sendiri. Sebelum wisuda, sudah diterima jadi editor buku di sebuah penerbitan di Bandung, tapi setelah itu resign. Kemudian jadi pekerja lepas sebagai penulis konten, penerjemah, dan tentor bahasa Inggris selama sekitar dua tahun. Lalu, memutuskan balik kerja kantoran lagi dan bertahan sampai lebih dari tujuh tahun ini. Nggak nyangka bakal bertahan bekerja bertahun-tahun di kantor ini sampai sekarang. Selain karena lokasi kantornya yang memang nggak terlalu jauh dari rumah, bisa dijangkau dengan angkot, juga mungkin karena saya memang butuh bekerja di kantor ini. Kesibukan selain bekerja di kantor, juga bekerja di rumah, hehe. Kadang saya mengambil beberapa side jobs untuk menambah tabungan dan target untuk bisa beli rumah sendiri (waktu itu). Tapi setahun belakangan ini saya benar-benar mengurangi menambah pekerjaan lagi. Bahkan sepertinya sudah setahunan ini tidak pernah begadang untuk memenuhi deadline pekerjaan lain seperti yang tahun-tahun sebelumnya. Sempat sebelumnya ada fase hari-hari saya penuh sama urusan pekerjaan, tiap pulang ngantor, istirahat bentar, lalu kerja lagi di rumah sampai larut (bahkan pernah sampai subuh). Kalau dipikir-pikir sepertinya dalam kurun waktu enam tahun itu rutinitas saya nggak lepas dari kerja dan kerja. Prioritas utama dalam tahun-tahun itu cuma untuk kerja sampai melewatkan prioritas lain. Prioritas lain yang seperti apa? Seperti soal jodoh misalnya, hm.

Dari pagi sampai malam menghabiskan waktu sendirian, jadi makin diingatkan bahwa usia sudah tidak lagi muda. Ada banyak hal yang terlewat, ada impian tak terwujud, tapi terlepas dari itu semua bisa sampai ke titik ini sudah banyak bersyukur. Meski kadang sulit untuk menahan diri agar tidak membanding-bandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain, tapi saya sedikit demi sedikit kembali belajar untuk menerima diri sendiri beserta semua takdir yang di luar kendali diri.

Orang-orang berubah dan situasi terus bergerak. Sosok-sosok yang dulu dekat kini makin berjarak. Tapi orang-orang yang selalu ada di setiap suka duka itu selalu ada. Satu (dari banyak hal) yang makin saya takutkan adalah jatuh sakit. Sungguh sedih ketika diri kita sakit dan jadi merepotkan orangtua. Masih teringat jelas betapa lelahnya bapak dan ibu waktu saya menjalani operasi tahun lalu. Karena saya belum punya siapa-siapa lagi, jadinya hanya ibu dan bapak yang paling bisa saya andalkan waktu itu. Sungguh sedih merepotkan orangtua di saat diri sendiri sedang tidak bisa apa-apa. Semoga ibu dan bapak selalu sehat dan diberi umur panjang. Tak lupa saya juga berupaya untuk menjaga diri dengan baik biar tidak sakit atau makin merepotkan mereka.

Saya pun sangat bersyukur pekerjaan saya saat ini sangat mungkin dilakukan tanpa harus ke kantor. Jadi, tidak ada rasa was-was harus keluar rumah setiap hari selama pandemi ini. Nggak kebayang naik angkot tiap berangkat dan pulang kerja berdempetan dengan penumpang lain yang entah dari mana saja. Selama setahunan ini pun sepertinya saya tidak pernah masuk angin lagi karena tidak pernah kehujanan lagi, hehe. Karena kalau musim hujan, biasanya tiap pulang kantor selalu hujan dan bisa basah kuyup sampai di rumah karena nunggu angkot yang terlalu lama.

Setahunan ini pun mulai pakai kacamata, huhuhu. Mata kanan dan kiri mulai minus, bahkan yang kanan ada silinder sedikit. Kalau kerja di depan laptop tanpa pakai kacamata, sekarang sudah mulai gampang pusing. Dulu saya kira mata saya akan selamanya baik-baik saja. Tapi ya bertahun-tahun rutinitasnya selepas-kerja-di-kantor-masih-kerja-lagi-di-rumah-pakai-laptop-pula-sampai-begadang jadi nggak heran kalau akhirnya kondisi mata terpengaruh juga. Selain itu karena sejak zaman sekolah sering baca buku, jadinya berdampak juga ke mata. Sekarang jadi agak repot tiap kali rebahan untuk baca buku harus pakai kacamata, jadi makin susah untuk goler-goler, hehe.

Setahunan bekerja dari rumah dengan rutinitas yang bisa dibilang monoton, kadang jadi mikir lagi apa yang akan terjadi ke depannya. Rencana dan target apa lagi yang ingin dicapai. Ada keinginan besar untuk sesuatu tapi masih bingung dengan cara mewujudkannya. Makin sering memikirkan soal mau dibawa ke mana lagi hidup ini (wih, ini jadi serius sekali rasanya, hehe).

Sesekali ada sahabat datang ke rumah. Masak bareng di rumah. Bahkan teman-teman kantor pun meluangkan waktu untuk menginap di rumah. Sungguh bahagia kalau disamperin sama teman-teman baik selama setahun mendekam di rumah ini. Jadinya nggak sepi-sepi amat suasana di rumah.

Ambil cuti, waktunya dihabiskan tetap dengan di rumah saja. Bahkan pernah ambil cuti dan “liburannya” malah ke kantor. Meski rasa bosan kerap dirasakan selama setahunan ini tapi masih ada banyak hal yang masih bisa disyukuri. Ya, kalaupun sambat sih ya sambat secukupnya saja, haha.

Masih ada pekerjaan untuk dilakoni, masih ada rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup, masih bisa tidur nyenyak, masih bisa terlindung dari panas dan hujan, masih bisa makan kenyang tiap hari, bisa jajan cilok-cireng-cimol sepuasnya, dan masih bisa lihat langit tiap hari, semua itu mungkin hanya sebagian kecil dari sekian banyak hal yang perlu disyukuri.

Serta, masih terus berharap pandemi ini segera berakhir.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *