Cuaca di Kuala Lumpur saat itu panas terik pada siang hari tapi sore harinya bisa hujan sangat deras. Payung yang saya beli pun bisa digunakan untuk menghalau terik sekaligus melindungi diri dari hujan. Apalagi kalau ada rencana jalan-jalan ke Dataran Merdeka dan sekitarnya pada siang hari, setidaknya perlu bawa topi.

Pagi itu sekitar pukul 09.30, saya sempat mampir melihat Kuil Sri Mahamariamman yang lokasinya tidak jauh dari hotel. Melansir Wikipedia, Kuil Sri Mahamariamman adalah candi Hindu tertua di Kuala Lumpur, Malaysia. Didirikan pada tahun 1873, terletak di tepi Chinatown di Jalan Bandar. Pada tahun 1968, sebuah bangunan baru dibangun, menampilkan menara ‘Raja Gopuram’ yang penuh hiasan dengan gaya kuil India Selatan.

Pagi hari di Jalan Petaling.
Sri Mahamariamman.

Masjid Jamek

Masjid Jamek.

Saat itu saya memutuskan untuk naik LRT ke Masjid Jamek dari Pasar Seni. Begitu keluar dari stasiun, jalan sebentar sudah bisa langsung ketemu Masjid Jamek. Untuk masuk ke dalamnya, kita perlu mengisi buku tamu. Disediakan jubah bagi para pengunjung yang pakaiannya tidak menutup aurat.

Masjid Jamek Sultan Abdul Samad adalah salah satu masjid tertua di Kuala Lumpur. Masjid ini dibangun oleh pedagang-pedagang Islam yang berasal dari India di persimpangan Sungai Klang dan Sungai Gombak, pada zaman penjajahan Britania. Masjid ini terletak dekat dengan Dataran Merdeka, stasiun Putra LRT, dan Star LRT.

(Wikipedia)

Dataran Merdeka dan KL City Gallery

Jalan sendirian disenyumin sendirian saja, hehe.

Mengutip Wikipedia, Dataran Merdeka adalah lapangan berada di depan Bangunan Sultan Abdul Samad. Di tempat ini, bendera Union Jack diturunkan dan bendera Federasi Malaya dikibarkan untuk pertama kalinya pada tengah malam tanggal 31 Agustus 1957.

Saat itu hari Sabtu, sisi jalan dekat lapangan ditutup dan tidak dilalui kendaraan sehingga pengunjung bisa lebih bebas mengambil foto dengan latar Bangunan Sultan Abdul Samad. Saya datang saat cuaca sedang terik-teriknya, akhirnya saya pakai payung untuk melintasi lapangan menuju KL City Gallery. Bagi yang baru pertama kali ke KL seperti saya, rasanya wajib untuk berfoto di depan KL Gallery biar tampak sah sudah sampai di KL, hehe.

Sah sudah menginjakkan kaki di KL.

Untuk masuk ke KL City Gallery tak dikenai biaya. Bisa dibilang seperti museum mini. Di dalamnya kita akan disuguhi berbagai hal menarik terkait kota Kuala Lumpur dan sejumlah miniatur tengaran. Setelah puas mengelilingi galeri, kita akan disambut dengan toko souvenir. Kita juga bisa beli minuman atau kue di area tersebut.

Kasturi Walk dan Pasar Seni

Kasturi Walk.

Mau cari oleh-oleh atau sekadar cuci mata, dari Dataran Merdeka kita bisa jalan kaki menuju Kasturi Walk dan Pasar Seni. Saya mengikuti arahan dari Google Maps untuk menuju lokasinya. Sepanjang Kasturi Walk, kita akan menjumpai berbagai kedai makanan serta penjual aneka pernak-pernik. Bagi yang ingin ngadem bisa langsung masuk Pasar Seni.

Pasar Seni.

Berbelanja makin nyaman dan betah bila berada di ruangan yang sejuk. Di dalam Pasar Seni, kita bisa membeli berbagai macam oleh-oleh. Ada kerajinan tangan dan berbagai jenis makanan ringan. Saya hanya membeli susu milo, Kit Kat teh tarik, gantungan kunci, dan magnet kulkas saja untuk dibawa pulang. Nggak beli banyak-banyak karena memang hanya bawa satu ransel jadi nggak mau terlalu repot juga.

Lost in Chinatown, Jalan Petaling

Cukup sekali saja ke sini.

Sebelum berangkat ke KL, sempat browsing soal tempat yang bagus untuk dikunjungi di dekat hotel. Lalu ketemulah dengan Lost in Chinatown ini. Waktu lihat website-nya, kelihatannya tempatnya besar tapi ternyata tempatnya adalah di dalam sebuah ruko. Jaraknya hanya sekitar tiga menitan dari tempat saya menginap, Lantern Hotel.

Kalau tidak salah sebelumnya tidak dipungut biaya untuk masuk ke Lost in Chinatown. Saya waktu itu langsung nyelonong masuk karena saya kira nggak perlu tiket. Namun, ternyata harus bayar 8 ringgit untuk masuk dan kita dapat gelang yang menyala dalam gelap sebagai “tiketnya”.

Saat itu hanya saya sendirian yang masuk ke dalamnya. Bisa dibilang areanya seperti labirin, disekat dengan dinding triplek. Letaknya di lantai 2 sebuah ruko. Lebih didominasi berbagai foto dan pojok-pojok untuk foto-foto. Tempatnya sempit, sih. Nggak kebayang kalau ada dua orang lagi di dalamnya, rasanya mungkin akan sesak. Cukup sekali saja sih ke sini sebagai pengalaman.

Bukit Bintang dan Jalan Alor

Setelah makan siang dan balik ke hotel sebentar, saya lanjut ke Bukit Bintang. Sampai di Bukit Bintang, saya hanya menyusuri jalannya tanpa masuk ke malnya. Penasaran saja dengan suasana dan nuansanya. Setelah itu, saya lanjut ke Jalan Alor. Sore hari itu, area di Jalan Alor mulai ramai dengan para pedagang yang menggelar dan menjual dagangannya. Beberapa pedagang ada yang langsung menawarkan menunya.

Bukit Bintang.

Setelah menyusuri Jalan Alor, saya kemudian menuju Alor Street Art. Kalau lihat di internet, ada banyak mural bagus di gang tersebut. Begitu saya tiba di gangnya, berbagai mural cantik langsung terpampang. Karena saya jalan sendiri jadinya nggak bisa mendapatkan foto yang bagus. Cukuplah menyusuri gangnya biar nggak penasaran lagi.

Sebelum balik ke hotel, saya mampir ke McD Bukit Bintang. Bengong selama lebih dari satu jam sambil makan dengan menikmati cuaca yang tiba-tiba turun hujan deras, hehe.

Kwai Chai Hong

Kwai Chai Hong.

Lokasinya dekat dari Stasiun Pasar Seni. Untuk menuju Kwai Chai Hong, tinggal turun di Pintu A, kemudian jalan kaki sekitar 7 menit maka sampailah di depan lorongnya.

Dari info yang saya tahu, dulunya lorong ini kumuh dan terbengkalai. Sampai akhirnya sekelompok pengusaha membuat Project Kwai Chai Hong dengan memperindah lorong tersebut. Ada berbagai mural yang bisa kita temui di sana. Selain itu, di samping setiap mural ada QR Code yang bisa langsung kita pindai untuk mengetahui info lengkap mural tersebut. Waktu saya datang, selain QR Code ada juga petikan puisi di setiap gambar mural.

Hong adalah gang atau lorong, sedangkan Kwai Chai punya tiga arti berbeda. Ada yang mengartikan anak-anak karena area tersebut menurut para penduduk alam tempatnya aak-anak berlarian saat hujan. Ada yang mengartikan sebagai bisnis terlarang karena area itu dulunya tempat penjudi, pemabuk, dan penjahat. Ada juga yang mengartikannya sebagai anggota dari kelompok penjahat. Di dekat lorong ada sebuah restoran non-halal. Dinding restoran yang berwarna kuning cerah menjadi spot foto yang banyak diminati oleh para pengunjung.

Wajib foto deh pokoknya.

Kwai Chai Hong buka mulai pukul 09.00. Saat saya datang bertepatan dengan acara Urbanscapes 2019. Ada pembacaan puisi di lorongnya. Anak-anak muda penggiat sastra menyemarakkan teriknya panas siang itu.

Perdana Botanical Garden

Karena bosan melihat mal dan gedung tinggi, akhirnya melipir ke Perdana Botanical Garden. Melihat pepohonan dan menjauh sejenak dari keramaian kota. Jika saya tinggal di Kuala Lumpur, mungkin taman ini akan jadi tempat favorit untuk melepas stres.

Amankah Jalan-Jalan Sendirian di Kuala Lumpur?

Berangkat satu ransel, pulang kudu satu ransel juga.

Waktu yang saya habiskan di Kuala Lumpur lebih banyak digunakan untuk jalan-jalan selow. Mengandalkan Google Maps dan lebih jeli melihat setiap penanda dan tengaran yang dilewati. Tadinya sempat khawatir aman tidak ya jalan-jalan sendirian? Syukurlah selama jalan-jalan sendirian, tak ada hal-hal yang terlalu menakutkan. Meski memang masih ada saja ya yang catcalling. Waktu itu saya menyusuri Jalan Alor, ada om-om yang slamekom-slamekom. Hm, mungkin karena melihat saya berkerudung dan dikiranya orang Melayu, jadinya mereka sok kenal nggak jelas. Dicuekin saja.

Sempat ketemu dengan seorang perempuan dari Medan yang baru pertama kali ke Kuala Lumpur. Dia yang menyapa saya duluan waktu jalan menuju Stasiun Pasar Seni. Baru saja kenalan, dia langsung menanyakan usia. Ha, langsung saja saya menyuruhnya menebak daaan… dia mengira usia saya baru 23 tahun. Iya, 23 tahun tapi itu tujuh tahun yang lalu, hehe. Dari situ, kami sempat ke KLCC dan Perdana Botanical Garden bersama. Dia menceritakan pengalamannya waktu baru sampai di KL dan dalam perjalanan menuju hostel ada gelandangan yang melemparinya dengan botol minum. Dia pun tidak terlalu memusingkan hal tersebut dan langsung cepat-cepat menuju hostel tempat menginapnya.

Meski sempat merasa cemas saat jalan-jalan, ternyata tidak terlalu buruk menikmati waktu melihat-lihat kota. Sehari sebelum pulang ke Indonesia pada sore harinya, saya sempat jalan sebentar melihat Masjid Jamek pada petang hari. Di tengah perjalanan, ada kerumunan dan terdengar lagu Ilir-Ilir disenandungkan. Waktu saya lihat, ternyata sedang ada pertunjukan Kuda Kepang sebagai bagian dari Urbanscapes 2019 juga. Pertunjukannya mirip Jaran Kepang hanya saja minus bau menyan, hehe.

Kuda Kepang.
Masjid Jamek pada petang hari.

Waktu baru selesai mengunjungi Masjid Jamek, ada bule yang menanyakan stasiun terdekat. Saya pun langsung mengarahkannya ke Stasiun Masjid Jamek, Mungkin dikiranya saya penduduk lokal kali ya, jadinya dia menanyakan hal itu. Padahal itu juga baru pertama kalinya saya ke Stasiun Masjid Jamek.

Selama liburan empat malam di KL, saya menginap di Lantern Hotel. Awalnya bingung mau menginap di mana, lalu dapat info dari teman kalau mending cari penginapan di dekat Pasar Seni yang lokasinya lebih strategis. Saya pun memilih hotel yang ada di Jalan Petaling. Kalau pagi hari bisa menikmati sarapan dari lantai dua dan melihat lalu lalang orang di Jalan Petaling. Malam harinya bisa menikmati ramainya pedagang yang memenuhi kedua sisi jalan.

Kita bisa belanja berbagai barang murah di Jalan Petaling dan sebaiknya memang harus pintar-pintar menawar. Saya tidak berbelanja apa-apa sih, cuma sempat membeli air mata kucing, kacang berangan (chestnut), dan buah apel di perempatan dekat hotel saja.

Ais air mata kucing, blueberry, dan chesnut. Camilan waktu mager di kamar hotel.

Liburan ke KL ini memberikan pengalaman berkesan tersendiri. Tidak terlalu istimewa tapi memberi kelegaan tersendiri. Ada semacam rasa lega telah mencapai sesuatu. Berbagai hari buruk dan hari melelahkan yang pernah dialami pada bulan-bulan sebelumnya seakan terobati dengan liburan singkat yang sepenuhnya bisa dinikmati sendiri. Alhamdulillah, semoga ke depannya bisa diberi kesempatan dan rezeki untuk melangkah lebih jauh lagi.