Kuala Lumpur.

Enaknya jalan-jalan sendirian adalah bisa bebas menentukan pilihan mau melakukan apa dan mau ke mana setiap waktunya. Bisa menuruti keinginan sendiri tanpa drama. Mau jalan-jalan seharian atau sekadar leyeh-leyeh di kamar hotel pun bisa dilakukan sesuka hati. Selama liburan ke Kuala Lumpur beberapa waktu lalu, saya berusaha untuk tidak terlalu ngoyo harus melihat dan melakukan banyak hal sekaligus. Mencoba senyaman mungkin menikmati setiap waktu yang ada.

Berangkat dari Malang

Pesawat berangkat sekitar pukul 8 pagi dari Bandara Juanda, Surabaya. Sebelum subuh, saya sudah berangkat pakai jasa travel dari Malang. Saya sudah melakukan mobile check-in dari aplikasi Air Asia lima hari sebelumnya. Waktu itu saya mencoba untuk mencetak boarding pass dari mesin self check-in yang ada di bandara, tapi tidak bisa karena waktu itu sudah melampaui kuota. Entah saya lupa detail notifikasi yang muncul waktu itu, pokoknya waktu mau mencetak boarding pass tidak bisa. Lalu, saya tanya ke petugas di sana. Katanya kalau sudah check-in dari aplikasi langsung, tak perlu lagi mencetak boarding pass. Baiklah, saya pun hanya perlu memindai QR Code dari aplikasi untuk masuk ke terminal keberangkatan.

Sampai di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2)

KLIA2.

Sebelumnya saya sudah mencari informasi tentang KLIA2. Banyak yang bilang jalannya sangat jauh untuk sampai ke pos imigrasi dari tempat turunnya pesawat. Bagi yang pertama kali menginjakkan kaki di KLIA2 saya rasa tak perlu bingung. Sudah ada penanda yang cukup jelas untuk sampai ke Balai Ketibaan. Tinggal ikuti saja.

Perjalanan menuju Pos Imigrasi lumayan panjang.

Di pos imigrasi, waktu itu saya hanya ditanya keperluan selama di Malaysia, akan pergi ke mana, berangkat dengan siapam dan tinggal di hotel apa. Dijawab singkat dan jelas saja. Petugasnya waktu itu bertanya pakai bahasa Melayu, saya cukup menjawab pakai bahasa Indonesia. Tak butuh waktu lama sampai paspor distempel dan akhirnya saya bisa langsung keluar.

Menukar Voucher untuk SIM Card

Cukup bisa diandalkan selama traveling.

Sebelum berangkat, saya sudah beli SIM Card via Klook. Begitu sampai di KLIA2, tinggal cari kios Digi. Waktu itu, saya sempat salah masuk kios karena kiosnys sama-sama warna kuning dan ada keterangan Digi. Lalu, oleh mas di kios itu diarahkan ke tempat yang benar. Pokoknya, kios untuk menukarkan SIM Card ini di Digi Counter dekat gerai Jaya Grocer. Tinggal tunjukkan mobile voucher dan paspor, nanti kita bisa langsung mendapatkan SIM Card-nya. Bisa dibantu untuk dipasangkan langsung ke ponsel. Setelah dinyalakan, langsung bisa dipakai deh. Saat itu kalau tidak salah, saya beli SIM Card dengan paket data untuk tujuh hari dengan harga 36K setelah menggunakan kode voucher ketika pemesanan via aplikasi Klook. Selama pakai kartu itu, internet lancar selama di Kuala Lumpur.

Membeli Kartu Touch ‘n Go

Siapa tahu bakal balik lagi ke KL, jadi nanti tinggal top-up saja 🙂

Mengutip Wikipedia, Touch ‘n Go atau kartu pintar TnG adalah sebuah kartu pintar nirkontak dan sistem pembayaran elektronik berbasis kartu pintar non-sentuh pertama serta menjadi pelopor pengenalan kartu kredit Visa Wave dan PayPass MasterCard di Malaysia. Karena saya akan mengandalkan transportasi LRT, MRT, dan KTM selama di Kuala Lumpur, saya memutuskan untuk beli kartu ini. Sebenarnya tanpa beli kartu pun bisa tetap naik transportasi umum dengan membeli tokennya di setiap stesen. Namun, saya ingin yang lebih praktis saja.

Saya membelinya di mesin yang ada di dekat Car Park KLIA2. Harga kartunya sendiri 10 ringgit dan kita bisa mengisinya dengan nominal sesuai kebutuhan. Waktu itu, saya mengisi 30 ringgit, jadi totalnya 40 ringgit. Saya memasukkan uang 100 ringgit, langsung dapat kembalian dan kartu langsung keluar dari mesin untuk bisa digunakan.

Menuju KL Sentral dari KLIA2

KL Sentral.

Saya sempat membeli air minum dan onigiri di Family Mart sebelum menuju loket untuk beli tiket bus ke KL Sentral. Buat jaga-jaga kalau lapar di jalan. KL Sentral adalah stasiun kereta api utama di Kuala Lumpur. Untuk menuuju ke KL Sentral dari KLIA2 kita bisa naik bus atau KLIA Express. Saya memilih naik bus karena lebih murah. Butuh waktu sekitar satu jam menuju KL Sentral dari KLIA2 dengan bus, sementara kalau naik KLIA Express kabarnya butuh waktu hanya 30 menit saja karena memang lebih cepat meski harga tiketnya lebih mahal.

Beli onigiri.

Sampai di pemberhentian bus, naik satu lantai untuk ke KL Sentral. Dari KL Sentral ini kita bisa menuju berbagai destinasi. Karena saya menginap di Jalan Petaling, saya pun naik LRT menuju Pasar Seni. Dari LRT Pasar Seni, keluar di Gate A lalu jalan sekitar sepuluh menit untuk sampai ke Jalan Petaling. Saat itu cuaca mendung. Begitu tiba di hotel, tak lama kemudian hujan turun sangat deras disertai petir. Wah, nggak kebayang kalau masih di jalan waktu itu, pasti basah kuyup karena tidak bawa payung. Karena badan capek dan hujan, saya pun akhirnya menghabiskan waktu sore itu di kamar hotel saja. Sempat keluar sebentar untuk beli payung dan air mineral di salah satu kedai serba aneka di dekat hotel.

Menuju Batu Caves

Setelah sarapan di hotel, saya pun pergi ke Batu Caves. Naik LRT ke KL Sentral lalu lanjut naik KTM ke Batu Caves. Saat itu hari Jumat, cukup banyak juga yang menuju Batu Caves. Bahkan ketika menunggu kereta datang, orang-orang di sekitar saya ngobrol pakai bahasa Indonesia. Ada rombongan keluarga, ada juga yang bersama teman-temannya. Ada yang pakai bahasa Sunda hingga ada yang pakai bahasa Jawa. Banyak juga wisatawan dari Indonesia.

Saat itu, KTM datang agak terlambat. Keretanya nyaman. Cukup duduk manis dan nikmati perjalanan sampai stasiuan terakhir. Batu Caves adalah stasiun terakhir. Dari stasiun, langsung naik satu lantai lalu keluar. Tidak jauh dari situ, kita langsung memasuki kawasan Batu Caves.

Perjalanan naik turun tangga bermula dan berakhir di sini.

Mengutip Wikipedia, Batu Caves adalah sebuah bukit kapur, yang memiliki serangkaian gua dan kuil gua, terletak di distrik Gombak, Selangor, Malaysia. Tempat ini dinamai dari Sungai Batu, yang mengalir melewati bukit. Batu Caves juga merupakan nama desa terdekat.  Gua ini adalah salah satu kuil Hindu di luar India yang paling populer, yang didedikasikan untuk Dewa Murugan. Situs ini adalah titik fokus festival Hindu Thaipusam di Malaysia.

Suasana di dalam gua.
Mendung.

Rasanya kurang pas kalau ke Kuala Lumpur tapi belum mampir ke Batu Caves. Ada 272 anak tangga warna-warni yang bisa dilalui untuk bisa memasuki area gua. Kita bisa melihat area kuil di dalamnya. Ada yang beribadah juga di dalamnya. Oh iya, sebaiknya pakai baju panjang setidaknya sampai di bawah lutut ketika akan memasuki area gua. Jika tidak, maka akan diharuskan untuk menyewa (atau meminjam ya?) kain dari pintu masuk. Waspada juga dengan makanan atau minuman yang dibawa, sebab banyak monyet yang berkeliaran. Beberapa wisatawan ada yang dibuat kaget botol air minumnya direbut monyet karena tidak dimasukkan ke dalam tas.

Boleh masuk tapi harus lepas alas kaki dan tetap saling menghormati.
Ada yang ibadah juga di dalamnya.
Selalu sedia payung sebelum hujan.

Karena saya jalan-jalan sendirian, agak susah untuk mendapatkan foto diri yang bagus. Saat itu tiba-tiba ada mbak-mbak Malaysia yang mengatakan sesuatu kepada saya. Mungkin dikiranya saya orang Malaysia jadinya dia bicara pakai bahasa Melayu. Saya nggak begitu paham kalimatnya, tapi saya mengerti maksudnya. Dia minta gantian foto. Dia akan memotret saya dengan imbalan saya membantunya memotretnya dengan kedua temannya. Lumayan lah ya ada sedikit dokumentasi pribadi.

Menuju KLCC

Kapan-kapan naik sampai ke atas sana, ya.

Siang itu hujan turun dengan cukup deras. Dari Batu Caves kembali ke KL Sentral naik KTM Komuter. Sudah ada jadwal keberangkatan yang bisa dicek. Jadi, tinggal duduk manis saja di dalam gerbong. Saat menunggu kereta berangkat, ada mbak-mbak dari Indonesia yang tanya apa benar ini menuju KL Sentral. Begitu saya iyakan, dia langsung berterima kasih dan menyuruh temannya masuk. Hehe, mungkin dia nggak tahu kalau orang yang ditanya ini juga baru pertama kali ke Batu Caves. Tak lama kemudian, eh ada lagi mas-mas sama mbak-mbak yang langsung nodong, “Orang mana?” Duh, nggak sopan banget ini orang, begitu batin saya. Begitu saya jawab saya orang Indonesia, dia tanya lagi apa benar ini menuju KL Sentral. Selesai saya iyakan, dia pun berlalu dan dari logatnya ini mas-nya orang Jawa.

Dari Batu Caves, setiba di KL Sentral saya sempat keliling-keliling di NU Sentral. Lalu, makan siang di KFC. Di luar masih hujan, sempat ingin langsung balik ke hotel tapi kemudian saya putuskan untuk ke KLCC. Melihat Menara Kembar jelas jadi hal wajib yang harus dilakukan bagi yang baru pertama kali ke KL.

Gerimis di KLCC Park.

Sampai di KLCC, saya mampir ke Galeri Petronas yang ada di Suria KLCC lantai 3. Galeri ini buka dari pukul 10.00 hingga 20.00. Masuknya gratis, hanya perlu registrasi saja di pintu masuknya. Saat itu tema pamerannya Crafting Artistry. Saya menemukan ada wayang dan batik Madura di dalam galerinya. Setelah puas melihat isi galeri, saya langsung keluar dan menuju KLCC Park. Dari KLCC Park kita sudah bisa melihat Twin Towers. Tinggal jalan ke balik mal, pemandangan Twin Towers langsung menyambut kita.

Galeri Petronas di dalam mall Suria KLCC.
Cantik-cantik.
Ini batik dari Madura.
Ada wayang juga 🙂

Lanjut ke bagian 2, ya 🙂