Skip to content

Sadar Ejaan

cr: pexels.com/@suzyhazelwood

Ada pengalaman yang bikin ketawa sendiri beberapa waktu lalu. Waktu itu, saya mencoba aplikasi Tinder karena saat itu lagi cari ide untuk bikin konten tulisan. Bikin satu akun baru, lalu tak lama kemudian match dengan seseorang. Kemudian, berlanjutlah pada sebuah obrolan.

Dalam obrolan singkat itu, tiba-tiba saja tulisan saya “dikomentari”. Katanya saya cukup sadar ejaan. Alasannya karena saya menulis kalimat “ke luar kota” dengan benar, ha! Ini cuplikannya. Semoga yang ngirim pesan ini nggak baca, ya biar nggak dituntut copyright, tapi semoga nggak baca sih soalnya dia juga nggak kenal saya.

Belum tahu dia kalau pekerjaan sehari-hari adalah memelototi ejaan hingga mendeteksi sal tik. Kalau ngobrol di chatroom sih saya jarang sekali pakai bahasa yang baku dan kaku. Kecuali kalau memang orang yang dikirimi pesan adalah orang-orang yang berhubungan dengan pekerjaan dan urusan resmi.

Cuma memang beda sekali rasanya mengobrol dengan orang yang peka dengan bahasa dan dengan yang tidak. Kalau ada buku yang membahas soal menebak kepribadian dari cara orang menulis pesan atau mengobrol di chatroom, mau deh saya beli. Saya sendiri cukup kesal bila ada orang yang mengirim pesan dengan singkatan-singkatan yang terlalu irit. Ya, kalau dulu pakai SMS dengan batasan karakter, wajar untuk membuat banyak singkatan dalam tulisan. Tapi zaman sekarang dengan adanya What’s App dan lainnya, rasanya kok ya kebangetan bila ada orang yang menulis pesan dengan singkatan yang terlalu irit.

“G” untuk tidak/nggak. “Y” untuk ya. “K” untuk oke. Singkatan-singkatan seperti itu yang saya tidak suka. Karena seakan pengirim pesan cuma main-main dan terlalu meremehkan pesan kita. Bikin tersinggung nggak, sih? Hehe.

Dalam sebuah webinar yang pernah saya ikuti, ada yang menyinggung soal sopan santun generasi milenial dalam berkomunikasi. Sesederhana berkomunikasi via pesan teks. Masih saja ada anak muda yang terlalu seenaknya sendiri dalam berkirim pesan. Mungkin istilah Jawanya, ora nduwe unggah-ungguh. Mengirim pesan teks ke orang yang lebih tua untuk urusan pekerjaan misalnya, masih saja seenaknya seakan mengirim pesan ke teman main. Padahal beda keperluan, semestinya tata bahasa yang digunakan juga berbeda.

Kembali lagi soal sadar ejaan. Kadang kalau saya menerima pesan dari teman yang terlalu banyak sal tik atau salah penggabungan katanya, rasanya gatel dan ingin langsung menyuruhnya untuk mengeditnya. Tapi ya nggak mungkin juga sedikit-sedikit mengedit pesan yang masuk ke ponsel. Cuma kadang kebiasaan kerja (yang berhubungan dengan penulisan dan penyuntingan) terbawa juga ke kebiasaan harian.

Bahkan pada calon klien pun, saya selalu memperhatikan isi pesannya sebelum memutuskan untuk menerima tawaran kerja atau mencoba untuk mengikuti tes untuk pekerjaan yang ditawarkan. Dari cara menggunakan bahasa, menata ejaan, pemenggalan kata, hingga pemenggalan kalimat yang digunakan seseorang dalam pesan teks yang ia buat, bisa terlihat sedikit karakter atau kepribadiannya. Keseriusan klien untuk mengajak kita bekerja sama pun bisa terlihat dari caranya merangkai pesan atau tulisan.

Saya sendiri memang kadang masih keliru dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar. Kadang masih keliru dalam pemenggalan kata dan kalimat. Apalagi kalau sedang banyak pekerjaan dan stres, kacau sudah tulisan yang saya buat. Rasanya untuk bisa menggunakan bahasa yang baik memang perlu pembiasaan. Bisa dimulai dari cara menulis pesan teks singkat yang benar, sesederhana bisa menulis “ke luar kota” dengan benar dan bukan “keluar kota”.

Published inWRITING

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *