Tadinya hari ini berencana untuk agak lebih santai. Mumpung tanggal merah, inginnya bisa lebih santai. Tidak lagi terbebani rutinitas kerja pagi, siang, dan malam seperti beberapa waktu belakangan. Tapi kemudian sebuah notifikasi masuk ke surel. Ada pekerjaan baru yang menunggu untuk dikerjakan dengan tenggat waktu 48 jam dari sekarang. Baiklah, akhir pekan ini ternyata masih harus kembali ke rutinitas bekerja dan menepati tenggat waktu baru.

Rutinitas. Dulu, saya berpikir tak akan sanggup bertahan pada rutinitas yang monoton. Tapi ternyata saya tak sepenuhnya benar. Rutinitas itu tetap diperlukan dengan semua hal monoton yang menyertainya. Rasa bosan dan lelah pastilah ada. Rutinitas tetap diperlukan agar setidaknya kita tahu waktu yang akan kita habiskan tidak terbuang sia-sia. Ya, walau rutinitas itu sendiri sebagian besar dipenuhi dengan berbagai pekerjaan. Beralih dari satu tenggat waktu ke tenggat waktu lainnya. Dari satu urusan ke urusan lainnya.

Setiap kali menonton acara ragam All the Butlers, saya melihat setiap orang yang sukses dan menjadi pakar di bidangnya pasti punya rutinitas tertentu. Ada yang punya rutinitas harus sarapan dengan menu tertentu, harus tidur dengan persiapan tertentu, dan harus bekerja dalam kurun waktu tertentu setiap harinya tanpa bolos sehari pun. Mungkin bukan sekadar rutinitas tapi juga ritual. Demi menjaga ritme hidup dan menjaga kualitas dari kemampuan atau keahlian yang dimiliki, diperlukan upaya hingga kadar tertentu dalam rutinitas yang dibangun. Does it mean that we have to be hard on ourselves all the time?

Saat jalan-jalan di Singapura kapan hari itu dengan menggunakan MRT, saya melihat orang-orang di sana yang berjalan begitu cepat naik turun tangga. Bergantian keluar masuk MRT. Ada juga yang tampak terburu-buru. Masing-masing orang sibuk dengan rutinitasnya masing-masing. Berusaha semaksimal mungkin menepati setiap jadwal yang ada. Semua orang sibuk. Kesibukan membuat semua orang harus mengikuti rutinitas tertentu. Atau karena rutinitas yang ada itu setiap orang jadi tampak sibuk?

Setiap orang tampaknya memang butuh rutinitas. Sesederhana rutinitas rutin mandi pagi. Saya sendiri sudah sangat terbiasa harus mandi pagi untuk memulai hari. Baik sedang libur atau tidak, mandi pagi itu wajib, kecuali saat sedang sakit atau mungkin bepergian. Kalau belum mandi pagi rasanya ada yang kurang pas di hati, hehe.

Bekerja pun butuh rutinitas. Dulu saya berpikir nggak bakal kuat bertahan bekerja kantoran dengan jadwal yang terlalu ketat. Tapi lama kelamaan saya yang malah membuat aturan sendiri dalam rutinitas bekerja biar bisa tetap produktif. Sebisa mungkin saya berangkat kerja pada pukul tertentu. Walau mungkin bisa saja berangkat agak siang, tapi saya sendiri malah merasa tak nyaman kalau berangkat kesiangan karena akan sangat memengaruhi mood bekerja. Bahkan kadang kalau kesiangan jadi malas buat ngapa-ngapain. Tapi kalau bekerjanya kepagian, energi bisa habis duluan sebelum waktu makan siang, hehe.

Saat ini saya juga nyambi melakukan pekerjaan sampingan. Ada deadline yang harus dipenuhi dari waktu ke waktu. Untuk menepati setiap deadline jelas harus bisa menciptakan rutinitas yang pas. Pada hari-hari bekerja yang padat, sebisa mungkin saya pulang kantor tepat waktu, istirahat sebentar di rumah, sebelum lanjut mengerjakan pekerjaan sampingan hingga malam. Kadang saya harus membuat jadwal sendiri dan memastikan estimasi waktu bekerja yang saya buat bisa memudahkan saya menyelesaikan setiap pekerjaan. Ini juga yang jadi alasan kadang saya bisa uring-uringan kalau ada hal yang terjadi di luar rencana. Misalnya saja, ada hal tak terduga yang terjadi di kantor dan membuat saya telat sampai ke rumah. Situasi seperti ini bisa membuat saya harus kembali menata energi dan mengatur ulang jadwal untuk memastikan bisa tetap menepati deadline yang sudah menanti. Setiap menit sungguhlah sangat berharga kalau sedang dikejar-kejar deadline, hehe. Mode senggol bacok rasanya selalu berlaku saat juggling antara pekerjaan kantor dan project sendiri.

cr: imdb

Beberapa waktu lalu saya menonton dokumenter Street Food. Saya selalu menyukai serial dokumenter yang seperti ini. Bisa banyak belajar dari pengalaman orang-orang di berbagai belahan negara. Sosok Mbah Satinem jelas jadi yang paling favorit. Mengikuti kisahnya dan rutinitasnya benar-benar menjadi inspirasi sendiri. Mulai dari tengah malam sudah sibuk di dapur demi membuat jajanan pasar yang melegenda. Aktivitas berbelanja, memasak, dan berdagang menjadi rutinitasnya sehari-hari. Usia sudah senja tapi tetap semangat untuk menjalani rutinitas yang mungkin bagi sebagian orang tampak membosankan. Tapi kalau tidak melakukan rutinitas itu, sosoknya mungkin tak akan seistimewa sekarang.

Dalam serial dokumenter tersebut juga mengangkat sejumlah profil orang-orang yang dengan penuh semangat menjual hidangan terbaik mereka. Yang paling bikin mbrebes mili adalah kisahnya Izakaya Toyo.

“Don’t be a bull’s tail, be a chicken head.”

izakaya toyo

Menekuni sesuatu selalu membutuhkan sebuah rutinitas. Sebelum berhasil memiliki kedai sendiri, Toyo harus bekerja keras siang malam untuk menabung. Masa kecilnya yang berat sampai pernah makan rumput yang ditumis karena saking laparnya tapi tak punya apa-apa untuk dimakan membuat Toyo mau tak mau harus keras pada dirinya sendiri. Tapi begitu ia sudah punya cukup uang untuk memulai usahanya sendiri, ayahnya meninggal dan ia harus merelakan tabungannya untuk memberikan pemakaman yang layak untuk ayahnya.

Dulu Toyo punya impian ingin bisa membangun keluarganya sendiri dan punya anak. Tapi realita yang dihadapinya berbeda. Sehari-harinya ia sibuk dengan kedainya. Menyapa pelanggan, bercanda dengan para pelanggan, membuat hidangan terbaik, dan memastikan setiap pekerjaan dilakukan dengan baik. Walau tinggal seorang diri di apartemen, Toyo tetap bahagia. Dia punya pelanggan dan karyawan yang sudah ia anggap keluarganya sendiri. Rutinitas bekerja membuatnya selalu bersemangat menyambut hari. Bahkan dia punya satu keinginan. Kalau ia nantinya meninggal dunia, ia ingin meninggal saat sedang bekerja. Pekerjaan dan rutinitasnya memberi arti yang begitu penting dalam hidupnya. Saat menonton episode Kakek Toyo ini, duh benar-benar terharu. Di balik tawa dan humornya yang bisa bikin orang terbahak-bahak, ada kepedihan yang dipendamnya sendiri. Tapi dia tak menyerah begitu saja pada hidup. Dia mengisi hari-harinya dengan sebaik mungkin melalui rutinitas yang sudah sangat ia cintai.

Ah, jadi teringat film dokumenter Jiro Dreams of Sushi. Film dokumenter ini juga sangat berkesan dan menjadi salah satu favorit saya.

cr: imdb

“Once you decide on your profession, you must immerse yourself in your work.”

jiro dreams of sushi

Kehidupan dan keseharian Jiro benar-benar memberi banyak inspirasi. Hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk membuat sushi yang sempurna. Bahkan dia hampir tak pernah ambil libur. Rutinitasnya tak lepas dari bekerja, bekerja, dan bekerja. Berbelanja bahan-bahan berkualitas terbaik, mengolah setiap bahan setahap demi setahap dengan sangat detil, dan menyajikan sushi terbaik di restorannya. Barrack Obama sewaktu masih menjabat sebagai Presiden AS pun pernah makan sushi di restorannya. Tak sembarang orang bisa menikmati sushi Jiro. Setidaknya perlu reservasi dari satu bulan sebelumnya untuk bisa makan sushi buatannya dan itu pun tidak murah.

“I do the same thing over and over, improving bit by bit. There’s always a yearning to achieve more. I’ll continue to climb, trying to reach the top, but no one knows where the top is.”

jiro dreams of sushi

Melakukan hal yang sama setiap hari. Mengikuti rutinitas yang itu-itu saja setiap waktu. Bagi sebagian orang mungkin tampak membosankan. Tapi bagi sebagian orang lain yang punya kebutuhan bahkan kebahagiaan sendiri dalam menjalani hal-hal yang tampak monoton, menjalani rutinitas sudah jadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Saya mungkin tak “seekstrem” Jiro dalam menekuni profesinya. Saya pun tak sekuat Toyo dalam menghadapi kerasnya hidup dengan tetap memasang wajah tersenyum dan menghadirkan tawa di depan orang-orang yang ditemuinya. Bahkan, belum tentu saya masih bisa selalu punya tenaga seperti Mbah Satinem yang masih begitu semangat membuat jajanan pasar terbaiknya dengan rutinitas bangun tengah malam.

Belakangan ini saya merasa perlu membuat rutinitas baru. Begadang setiap malam jelas nggak baik buat kesehatan. Jam kerja dan jam istirahat kudu dibuat sesuai kebutuhan. Beberapa waktu terakhir selalu kesulitan bangun pagi. Makin nggak pernah olahraga, badan makin sakit semua. Waktu trekking ke Bukit Pangonan di Dieng beberapa waktu lalu saja, dengkul rasanya sudah mau copot, hehe. Badan nyeri di mana-mana dan sebungkus koyo jadi penyelamatnya waktu itu. Butuh lebih banyak piknik dan melihat alam semesta. Nggak terus-terusan kerja di depan komputer atau laptop setiap hari.

Sekitar tiga minggu lalu ada seseorang yang menghubungi saya. Dia kenalan dari seorang klien yang dulu pernah bekerja sama dengan saya. Dia menawarkan sebuah pekerjaan tapi saya memilih untuk tak menerimanya. Saya merasa tidak sanggup memberi hasil yang terbaik bila menerima tawaran itu karena masih harus membagi waktu dengan prioritas lainnya. Daripada nekat menerima pekerjaan itu tapi hasilnya nggak maksimal, saya memilih untuk tidak menerima tawarannya. Kalau dulu, untuk tawaran pekerjaan seperti yang ia tawarkan itu, saya mungkin langsung menerimanya. Tapi kini saya berusaha untuk nggak terlalu keras pada diri sendiri. Bekerja secukupnya sebaik mungkin, jangan sampai mengorbankan kesehatan.

“It’s just about making an effort and repeating the same thing everyday.”

jiro dreams of sushi

Menjalani rutinitas tak lepas dari melakukan sesuatu yang sama setiap harinya. Bisa jadi harus bekerja pada jam yang sama setiap hari, melakukan “ritual” yang sama, memenuhi standar yang sama, atau menjaga ritme kerja yang sama agar produktivitas terjaga. Eh tapi istirahat dan liburan juga penting. Setiap rutinitas ada baiknya selalu diseimbangkan dengan plesiran. Kerja itu penting, tapi piknik juga perlu, iya kan ya?

Apapun rutinitas yang kita jalani dan tekuni saat ini, semoga selalu bisa memberikan hasil yang terbaik untuk hidup kita. Yang tak kalah penting adalah semoga kita bisa selalu bisa merasakan kebahagiaan dan mendapat kepuasaan dari rutinitas yang kita kerjakan. Kalau sambat seperlunya, pokoknya jangan lupa bahagia.