cr: unsplash.com/@temp_69

Kadang rasanya ingin menghilangkan hal-hal negatif yang ada di dalam pikiran. Ingin membersihkan ruang dalam benak. Membebaskannya dari berbagai hal buruk dan tak menyenangkan yang pernah terjadi. Sungguh, jika saja bisa, ingin rasanya menyiramkan air dingin ke dalam pikiran supaya debu-debu dan segala macam kotoran bisa hilang. Membersihkannya dari berbagai momen buruk yang masih melekat. Meluruhkan berbagai mimpi buruk yang dialami beberapa waktu belakangan ini.

Tiada hari tanpa mengeluh. Tak ada habisnya berbagai pikiran negatif menyelimuti diri. Bahkan sampai bingung apakah yang dirasakan ini memang benar-benar sekadar pikiran buruk atau memang karena sedang terluka. Saat sedang sendiri, semua hal yang tak ingin diingat seringkali menyeruak begitu saja. Hal-hal yang tadinya dianggap sudah usai ternyata masih terus menghantui. Luka yang dikira sudah sembuh ternyata masih terasa sakit jika disentuh.

Sengaja mengambil jarak untuk sementara waktu. Mengambil ruang untuk diri sendiri. Mencoba untuk lebih dalam mengenali diri sendiri. Walau memang konsekuensinya harus berteman dengan perasaan sepi. Tapi ini juga jadi cara untuk bisa memahami perasaan orang lain. Mencoba untuk mencerna dan coba memahami keputusan yang diambil orang-orang terdekat. Hidup pun terus bergulir. Meski rasanya terjebak dalam ruang ini sendiri, tapi kesempatan untuk bisa memiliki ruang sendiri ini tak bisa dikeluhkan.

Selama ini banyak keputusan yang memang sepertinya salah untuk diambil. Ada penyesalan atas hal-hal yang terjadi selama ini. Walau memang ada situasi-situasi yang berada di luar kendali diri, tapi ada rasa sedih saat menyadari ada kesalahan yang seharusnya tak dilakukan. Yang paling menyakitkan adalah saat masih belum bisa memaafkan diri sendiri. Saat terus menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang seharusnya sudah bisa dimaklumi.

Saat sedang bersama diri sendiri, yang muncul kadang perasaan kasihan. Kasihan karena harus berupaya menyelesaikan banyak hal seorang diri. Kasihan hanya bisa mengalah saat seharusnya bisa mendapatkan dukungan. Seakan hanya bisa mengandalkan diri sendiri saat dunia ternyata malah berpaling.

Bahkan kepada Sang Pemilik Semesta, muncul perasaan buruk sangka. Apa selama Dia mengabaikan semua pinta dan doa? Apa Dia sengaja mempermainkan takdir hidup ini? Ya, pemikiran seperti itu memang tak elok. Sebisa mungkin perlu diredam sebab hanya kepada Dia kita semua bergantung. Hidup ini milik-Nya. Semua yang kita miliki dan dapatkan adalah pinjaman dari-Nya. Segala yang ada dalam genggaman pun pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Kita hanya makhluk-Nya.

Dalam ruang ini, tak jarang muncul keinginan untuk menyerah dan pasrah. Benar-benar mengikuti air yang mengalir saja. Tak lagi membuat rencana. Tak lagi memaksakan diri untuk mengejar impian-impian yang dulu digantung tinggi-tinggi. Bahkan merelakan diri untuk tak bahagia. Tapi mau sampai kapan? Hidup entah akan berada pada ujung yang keberapa. Hidup pun hanya sekali. Hanya sekali tapi ya susahnya minta ampun, hehe. Sampai sempat pula muncul di benak soal imajinasi apa yang akan terjadi jika diri ini tak pernah terlahir ke dunia? Apa yang terjadi jika tak pernah mendapatkan kehidupan? Apa yang akan berubah dan terasa saat tak pernah merasakan udara dunia?

Mungkin saat ini memang sedang butuh ruang. Ruang baru. Ruang untuk mencoba menyatukan lagi kepingan-kepingan yang mungkin selama ini salah bentuk. Belajar sedikit demi sedikit lagi untuk mengambil langkah-langkah kehidupan yang baru. Meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatunya sudah diatur sebaik-sebaiknya. Dengan Dia yang akan selalu memberi kekuatan dan menguatkan jiwa untuk bisa kembali melangkah. Melangkah pelan-pelan. Dimulai dari ruang yang ada saat ini terlebih dahulu. Belajar menerima keadaan. Berdamai dengan semua ketetapan. Berusaha untuk menjadi seseorang yang tak menyakiti hati orang-orang terdekat. Tak membebani orang-orang yang sudah sungguh-sungguh berjuang melindungi dan menjaga hati ini.

Dari dalam ruang ini, tak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi di luar sana. Tak tahu dengan pasti momen-momen apa lagi yang akan terjadi di depan sana. Semoga sudah tak ada lagi momen-momen menyakitkan dan menyedihkan yang terjadi. Semoga situasi-situasi yang tadinya memberi banyak luka, bisa membaik. Walau bekas luka tak bisa hilang sepenuhnya, tapi semoga rasa sakitnya sudah tak lagi terasa.