Skip to content

Rezeki-Rezeki

Sarapan pagi kala itu 🙂

“Rezeki ada yang bersifat material dan ada juga yang bersifat spiritual,” tulis M. Quraish Shihab dalam buku Kosakata Keagamaan. Pada bab pembahasan soal rezeki di buku tersebut, saya kembali diingatkan bahwa setiap makhluk telah dijamin Allah rezeki mereka. Bahkan kembali diingatkan untuk lebih banyak bersyukur.

Pada suatu waktu saya pernah kewalahan mengerjakan sejumlah pekerjaan. Stres dengan tenggat waktu yang datang silih berganti. Lalu, pada waktu yang lain saya pernah merasa terlalu santai. Tak banyak pekerjaan yang perlu dikerjakan, bahkan waktu terasa begitu lowong.

Kadang merasa, “Kenapa sih proyek-proyek pekerjaan besar bisa datang bersamaan? Kan jadi nggak ada waktu untuk istirahat.”

Kadang juga merasa, “Kenapa sih kalau lagi punya banyak waktu, proyek-proyek yang kecil pun tidak dapat?”

Ketika kembali dipikirkan, sepertinya saya yang terlalu banyak mengeluh. Ketika sedang lagi ada banyak pekerjaan, sebenarnya pada saat bersamaan saya memang sedang butuh lebih banyak penghasilan. Saat ada sedikit pekerjaan, sebenarnya saya sedang diminta untuk lebih banyak beristirahat. Rezeki tak melulu soal uang atau materi semata. Bisa istirahat cukup dan bersantai sebentar pun juga bisa jadi rezeki tersendiri.

Kata “rezeki” terambil dari bahasa Arab (rizq). Kata ini pada mulanya berarti pemberian untuk waktu tertentu seperti gaji bulanan atau harian. Makna ini berkembang sehingga dipahami dalam arti semua perolehan yang dapat digunakan dengan bermanfaat, baik untuk waktu tertentu maupun tidak, material atau spiritual.

(Kosakata Keagamaan, hlm. 431)

Material dan spiritual. Bentuk rezeki dapat mewujud dalam dua hal tersebut. Saya sendiri kadang masih lupa untuk lebih banyak bersyukur atas semua hal yang saya peroleh hingga saat ini. Rasanya lebih banyak mengeluhnya dibanding bersyukurnya. Apalagi kalau sudah membanding-bandingkan diri dengan orang lain, wah rasanya makin lupa untuk bersyukur (ceples diri sendiri).

Dari beberapa kejadian yang saya alami setahun belakangan ini, saya makin menyadari bahwa satu kenikmatan sebenarnya mengandung lebih dari satu hal. Misal, saat bisa makan kenyang tanpa harus repot memasak, ada banyak hal yang perlu disyukuri di baliknya. Seperti mensyukuri masih bisa menikmati masakan ibu, masih bisa bertemu bapak yang membawakan makanan, masih bisa mengunyah dan menelan dengan mudah, masih bisa mencerna makanan tanpa sakit perut, masih bisa beraktivitas tanpa kelaparan, dan banyak lagi. Saat bisa bangun pagi, maka perlu mensyukuri masih dikaruniai waktu untuk hidup di dunia, masih diberi tubuh yang bisa bergerak dengan leluasa, masih bisa bernapas tanpa merasa kepayahan, dan bisa mendapat tidur yang cukup.

Kata rizq juga berarti syukur. Ini agaknya mengisyaratkan bahwa setiap rezeki harus disyukuri.

(Kosakata Keagamaan, hlm. 431)

“Setiap rezeki harus disyukuri,” kalimat ini perlu berulang kali saya garisbawahi mengingat saya masih lebih sering mengeluh akan banyak hal. Kadang kalau sudah terlalu berpikiran negatif, saya sering mengabaikan betapa melimpahnya nikmat yang sudah Allah beri untuk saya. Bahkan ketika ada satu hal yang tampak tidak beres, langsung mengeluhkan banyak hal.

Lalu, ada penjelasan bahwa jaminan rezeki yang dijanjikan Allah bukan berarti memberinya tanpa usaha. Manusia dikaruniai sarana yang lebih sempurna seperti akal, ilmu, dan pikiran. Allah menjamin rezeki setiap manusia. Tapi bukan berarti manusia bisa bermalas-malasan begitu saja. Bahkan sepertinya berkah dari rezeki adalah upaya yang dikerahkan untuk mendapatkannya.

Syukuri semuanya, sebelum terlambat. Lakukan upaya terbaik untuk menjemput rezeki. Selalu libatkan Allah dalam setiap upaya yang kita lakukan. Kata-kata ini pun pada akhirnya menjadi pengingat untuk diri sendiri agar bisa menjalani hidup dengan lebih bermakna.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *