Skip to content

Rasa

cr: pexels.com/@karolina-grabowska

Jika dalam sebuah wadah terdapat sesuatu yang bercampur dengannya, maka upaya mengeluarkan yang mencampurinya dinamai mengikhlaskannya.

Kosakata keagamaan, m. quraish shihab

Ternyata belajar ikhlas itu butuh proses yang tak sebentar. Setidaknya itu yang saya rasakan. Menerima sesuatu dengan ikhlas, merelakan sesuatu dengan ikhlas, dan memposisikan hati pada titik seimbang yang ikhlas ternyata bisa cukup berliku.

Saya sangat salut pada orang-orang yang bisa dengan ikhlas menerima setiap ujian dan cobaan hidup. Orang-orang yang tetap tersenyum saat baru mengalami hari buruk dan ditimpa masalah berat punya hati yang begitu teguh, dan saya rasanya belum bisa mencapai tahap itu.

Ketika baru dihadapkan pada suatu ujian, langsung saja diri ini berontak, “Kenapa begini, Tuhan? Kenapa harus seperti ini, Tuhan?” Lalu, Tuhan menjawab, “Kenapa tidak?”

Sering sekali belum bisa ikhlas menerima semua ketetapan dari-Nya. Masih sering protes atas hal-hal yang terjadi di luar keinginan sendiri. Bahkan kadang kesombongan ini membuat diri yang bukan siapa-siapa ini mengoreksi skenario-Nya. Ada rasa kesal dan marah setiap kali diberi sesuatu yang tak sesuai harapan. Meski mungkin yang terjadi adalah rasa kesal dan marah itu hanya kamuflase dari rasa sedih yang disimpan dalam-dalam. Jelas sangat sedih saat ada sesuatu yang terjadi di luar harapan sendiri. Namun, diri ini hanya seorang hamba.

Menakar rasa sepertinya tidak akan pernah ada habisnya. Bahkan belajar menerima kenyataan yang sebenarnya simpel saja kadang masih saja mencari-cari alasan untuk tak melakukannya. Belajar menerima rasa, ikhlas menerima semua yang menyertai kehidupan, semua itu ternyata membutuhkan proses sendiri.

Rasa yang paling saya takutkan mungkin adalah rasa marah. Saya tidak suka dengan diri saya sendiri saat marah. Saya benci diri saya yang dikuasai rasa amarah. Karena saat sedang marah, seakan segala hal buruk bisa dilakukan. Saya sungguh tidak suka dengan rasa marah. Sungguh takut jika kemudian rasa itu membuat saya berubah makin buruk. Namun, rasa marah adalah bagian dari diri saya. Walau tidak bisa langsung meredakan amarah, setidaknya saya perlahan berusaha untuk menjinakkan peraaan itu. Supaya hati lebih lapang dan ada ruang yang lebih luas untuk menerima perasaan-perasaan yang lebih baik.

Mengolah rasa. Menerima rasa. Berdamai dengan rasa. Ada rasa-rasa yang bisa hadir bersamaan dan membuat segalanya terasa memusingkan. Jika ada rasa yang terasa begitu menyesakkan, maka hanya bisa memohon kepada Sang Penggenggam Kehidupan untuk melapangkan hati yang mungkin sudah terlalu tertutup.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *