cr: pexels.com/@tirachard-kumtanom-112571

Kadang hidup terasa begitu melelahkan. Rasanya ingin berhenti sejenak tapi kita terus didorong dan didesak untuk melangkah ke depan. Mau tak mau kita pun harus terus berjalan. Walau kadang harus terseok-seok, terjatuh, terluka, tapi tetap harus bergerak. Ada masa-masa yang rasanya terlalu berat untuk ditanggung sendiri, tapi karena situasi dan kondisi terpaksa berjalan mengandalkan diri sendiri.

Saat dihadapkan pada suatu masalah atau keadaan, kadang kita memikirkan banyak kemungkinan atau probabilitas. Apakah keadaan akan membaik dari sekarang? Atau justru keadaan akan lebih buruk dari sekarang? Berbagai kemungkinan muncul di benak kita. Katanya kita tak boleh terlalu tenggelam pada kemungkinan buruk sebab belum tentu kemungkinan buruk itu yang terjadi. Namun, pada kenyataannya kadang yang terjadi justru adalah kemungkinan terburuklah yang jadi kenyataan.

Awal tahun ini terasa begitu melelahkan. Masalah demi masalah datang silih berganti. Seorang teman pun bahkan bilang bahwa energinya rasanya sudah habis padahal ini baru awal tahun. Rasanya ada banyak begitu hal buruk, masalah, dan cobaan yang sangat menguras hati dan energi. Aku pun secara pribadi menyadari dan merasakan betul betapa beratnya awal tahun ini. Begitu banyak hal tak terduga hingga beragam luka yang harus kualami. Menelan sejumlah pil pahit dan merasakan langsung beberapa kemungkinan buruk ternyata bisa jadi kenyataan.

Seringkali kita mendengar bahwa badai pasti berlalu. Setelah ada badai, akan muncul pelangi. Setelah kesulitan, akan datang kemudahan. Ya, kita memang perlu untuk menjaga perasaan kita untuk positif agar bisa mendapatkan energi baik. Namun, kadang yang terjadi dalam hidup ini adalah setelah satu badai berlalu, muncul badai baru. Setelah sebuah masalah muncul, muncullah masalah baru yang lebih berat. Cobaan dan ujian bisa datang silih berganti. Saat sebuah luka hampir sembuh, ada luka baru yang muncul.

Memikirkan berbagai kemungkinan. Sebuah cedera pada beberapa waktu lalu membuatku harus masuk ruang operasi. Harus bolak-balik ke rumah sakit untuk pemulihan. Merasakan kembali perih dan tajamnya jarum. Merasakan lagi dinginnya ruang dokter. Merasakan lagi pengalaman yang selama ini selalu kutakutkan dan kuhindari. Ketika tahu ada yang tidak beres dengan sendi lutut, aku memikirkan berbagai kemungkinan. Mungkin hanya cedera kecil, mungkin akan diobati meski akan butuh waktu lama untuk pemulihan, mungkin perlu dirawat sedemikian rupa oleh dokter, dan berbagai “mungkin” lain. Namun, tak terbayangkan yang terjadi dan menjadi kenyataan adalah kemungkinan untuk operasi. Ah, di dunia ini, kemungkinan terburuk selalu saja bisa terjadi.

Memikirkan berbagai kemungkinan atas keputusan yang diambil oleh seseorang. Kita bisa memikirkan banyak kemungkinan atas pilihan seseorang melakukan sesuatu. Termasuk kemungkinan terburuk tentang bagaimana seseorang mengambil keputusan dan pilihan yang menurut kita adalah yang terburuk. Kemampuan kita dalam menemukan dan merangkai berbagai kemungkinan kadang tak bisa menembus kemungkinan yang dipilih orang lain.

Kita berharap orang yang kita sayangi, khususnya saudara kandung dan keluarga bisa menyayangi kita sebesar rasa sayang kita kepadanya. Minimal kita berharap ada kemungkinan mereka bisa memberi sebentuk perhatian sebagai bukti sayang mereka kepada kita. Sayangnya, pada kenyataannya kita tetap tak bisa memastikan yang terjadi adalah kemungkinan terbaik. Bisa jadi kemungkinan terburuklah yang menjadi kenyataan. Kita tak bisa menuntut orang yang kita sayangi untuk mencintai kita tanpa syarat. Kemungkinan mendapat cinta yang lebih besar pun rasanya menjadi hal yang mustahil terjadi.

Setiap kali mengalami sebuah masalah, tentu saja kita berharap keadaan segera membaik. Kita membayangkan berbagai kemungkinan akan hal-hal baik yang akan terjadi setelah hal buruk ini berlalu. Kita pun menjauhkan pikiran buruk soal akan keadaan yang jauh lebih buruk dari keadaan kita sekarang. Sayangnya, kadang hidup ini seakan mengajak kita bercanda. Ada saatnya setelah sebuah kejadian buruk, akan ada kejadian yang lebih buruk lagi. Kadang aku pun berpikir bahwa saat kita diberi masalah, sebenarnya kita sedang dipersiapkan untuk diberi masalah yang lebih besar lagi. Ibarat ujian, setelah berhasil menyelesaikan sebuah soal mudah, kita akan diberi soal yang lebih susah lagi. Things never get any easier.

Mungkin untuk saat ini aku akan menahan diri dari memikirkan berbagai kemungkinan. Saat sedang diberi masalah atau dihadapkan pada situasi sulit, aku akan lebih fokus menyelesaikan masalah dan melewati masa sulit itu sebaik-baiknya. Entah apakah ke depannya keadaan akan makin membaik atau memburuk, tak perlu lagi kupusingkan. Beberapa hal pada awal tahun ini membuatku kadang sulit bernapas. Di lingkup terkecil, ada masalah yang benar-benar membuatku seakan sempat kehilangan akal sehat. Tak pernah terbayangkan bisa merasa terlukai sedalam ini. Ketika mulai bisa sedikit menata hati, cobaan baru datang lagi. Tak hanya hati yang terluka, tapi anggota badan pun ikut terluka. Rasanya tak ada habisnya kesulitan dan masalah yang kuhadapi saat ini. Di sini aku perlahan belajar untuk menenangkan diri di saat-saat sulit. Tak terlalu membebani diri dengan memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Tentu saja aku berharap ke depannya segalanya akan lebih baik. Namun, aku juga tak bisa memungkiri akan adanya kemungkinan bahwa jalan ke depannya akan lebih terjal dan sulit dilalui. Ada hal-hal yang sama sekali di luar kemampuan dan kendali kita. Ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengatur segalanya.

Setiap hal mengandung berbagai kemungkinan sendiri. Ada kemungkinan baik. Ada kemungkinan buruk. Positif dan negatif. Lebih baik atau lebih buruk. Kita berharap keadaan akan membaik atau lebih baik dari keadaan yang kita jalani saat ini. Tentu saja kita selalu berupaya dan berdoa segalanya akan jauh lebih baik. Memperbesar probablitas untuk mendapatkan kondisi yang lebih positif. Tapi kita juga perlu sadar diri akan munculnya kemungkinan yang lebih buruk yang harus kita hadapi. Menyerahkan segalanya kepada Sang Pemilik Jiwa. Tugas kita berusaha sebaik-baiknya dalam segala hal. Berupaya untuk membujuk Sang Pemilik Semesta menguatkan kita dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang ada di hidup ini.

Semoga kita selalu bisa mendapatkan keteguhan hati, ketegaran, dan kekuatan untuk menghadapi berbagai situasi. Apa pun kemungkinan yang akan kita alami dan hadapi, semoga kita selalu menemukan cara terbaik melewati semuanya. Bagi yang sedang sakit, semoga proses pemulihan bisa dijalani dengan baik. Bagi yang sedang terluka, semoga penawar dan penyembuhnya bisa segera didapatkan. Bagi yang sedang mengalami masa-masa sulit, semoga bisa bertahan. Tak apa menangis, izinkan diri bersedih atas situasi berat yang harus kita jalani, tapi tetap jaga napas kita. Tarik napas dalam-dalam. Berbaik hati pada diri sendiri. Tak perlu membebani diri dengan berbagai kemungkinan. Kita mengharapkan segalanya akan segera membaik, tapi kita juga perlu mempersiapkan diri menghadapi yang terburuk. Jelas itu tak mudah, tapi kita bisa mencoba melakukannya selangkah demi selangkah.