Skip to content

Persona

cr: pexels.com/@jill-burrow

per.so.na /pêrsona/
orang; pribadi
n Ling orang atau benda yang berperanan dalam pembicaraan (persona I, pembicara; persona II, orang yang diajak bicara; persona III, orang yang dibicarakan)
n Ling topeng, wajah, ciri khas seseorang, identik dengan pribadinya

kbbi.kemdikbud.go.id/entri/persona

Sekitar sebulan lalu saat sedang mencoba sejumlah aplikasi kencan sebagai bahan konten pekerjaan, saya sempat lelah. Lelah mental. Hehe. Sebenarnya nggak ada yang nyuruh juga untuk mencoba fitur-fitur aplikasi kencan, cuma karena saya penasaran akhirnya langsung mencoba sendiri. Melelahkan juga menjumpai berbagai profil yang entah benar atau tidak. Foto-foto yang entah asli atau palsu. Hingga obrolan yang kadang susah untuk dibuat mengalir dalam chatroom. Sampai kemudian dalam sebuah obrolan, ada yang menyebutkan soal persona. Entah kenapa sampai sekarang, saya terus kepikiran dengan istilah itu. Persona.

Sebenarnya sudah lama menyadari bahwa di dunia maya, setiap orang bisa menjadi apa saja. Masing-masing individu bisa menampilkan citra diri sesuai keinginan. Dalam aplikasi kencan daring misalnya, tiap orang bisa menonjolkan persona yang mereka inginkan. Menonjolkan kelebihan masing-masing yang sekiranya paling memikat atau menarik perhatian.

Berkenalan dengan seseorang baik di dunia maya maupun di dunia nyata, pastinya ada persona tertentu yang ditampilkan. Kesan pertama yang ditangkap adalah dari persona yang paling menarik dari seseorang tersebut. Cuma memang kalau di dunia maya, karena kita tak bisa melihat seseorang dari segala dimensi, kadang “daya pandang” kita terbatas pada dimensi foto, video, atau teks yang ditampilkan.

Dalam sebuah obrolan, saya sempat bertukar pesan dengan seseorang. Ketika saat itu saya menyebutkan soal betapa lelahnya menggunakan aplikasi kencan (yaiyalah ya karena waktu itu mencoba 9 aplikasi sekaligus, hehe), dia menyinggung soal banyaknya persona yang dipakai tiap user. Mungkin karena saya tak benar-benar menyadari soal persona ini, jadinya kadang ada hal-hal yang terlalu dimasukkan ke dalam hati saat mencoba aplikasi kencan. Seperti ketika chat tidak ditanggapi, match yang kadang begitu acak, hingga soal obrolan yang sama sekali tidak etis (sebenarnya sudah sering dengar dan tahu soal ini, tapi ketika mengalaminya langsung, kok kesel ya). Meski, sebenarnya saat itu mencoba aplikasinya untuk kebutuhan konten, tapi tetap saja ketika interaksi dunia maya membuat diri sendiri tidak nyaman, jadinya capek sendiri.

Kalau dilihat di KBBI, salah satu definisi persona adalah topeng. Seseorang bisa punya topeng dalam dirinya. Masing-masing topeng bisa ditampilkan di media atau ruang berbeda-beda. Kita bisa memakai topeng yang berbeda tergantung kebutuhan atau kepentingan.

Potongan persona seseorang juga bisa dilihat dari media sosialnya. Tiap orang pastinya punya kebebasan sendiri soal postingan apa yang ingin ditampilkan di akun media sosialnya. Terserah dan suka-suka. Saya rasa tiap orang punya lebih dari satu persona dalam dirinya. Persona yang ditampilkan di Instagram, Twitter, dan LinkedIn misalnya, bisa beda-beda. Tapi ada juga yang konsisten menegaskan satu persona kuat dalam semua akun media sosialnya.

Saya sendiri masih belum benar-benar optimal memanfaatkan media sosial untuk membangun persona yang bagus. Untuk LinkedIn, tentu saja saya membuatnya sesuai dengan pengalaman di dunia kerja. Untuk Instagram, biasanya hanya mengunggah foto-foto yang berkaitan dengan momen-momen tertentu atau hal-hal yang masih bersinggungan dengan pekerjaan, meski untuk story kadang masih suka posting hal-hal receh, hehe. Untuk Twitter, di sini kadang saya menuliskan atau menumpahkan hal-hal yang saya alami sehari-hari, dengan sesekali menjadikannya media untuk sambat (sungguh membantu meringankan beban hidup ketika bisa mencurahkan isi kepala lewat sebuah twit, beneran!)

Sebuah persona bisa menyembunyikan persona lainnya. Satu topeng bisa menutup topeng lainnya. Misal, di aplikasi kencan saja deh, ada yang lebih menonjolkan personanya sebagai world traveler dengan mengunggah foto-foto di berbagai negara. Tapi personanya sebagai seseorang yang workaholic tidak ditampilkan karena takut mengurangi daya tariknya. Bukan berarti itu adalah sebuah kejahatan, haha. Hanya saja memang tiap orang bisa punya banyak pilihan dan keputusan dalam menampilkan personanya di berbagai media.

Dengan ruang di dunia maya yang begitu luas dan sangat tak terbatas, siapa saja bisa bebas mengisi dan menggunakan setiap media yang ada untuk mempertegas personanya. Sepertinya ini saatnya saya untuk lebih mengoptimalkan ruang-ruang di dunia maya untuk membangun persona yang lebih baik.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *