cr: pexels.com/@cottonbro

Tidak selalu baik-baik saja. Tidak selalu bisa tersenyum dengan jujur dan benar-benar tulus. Tak apa. Hari-hari pun selalu berganti. Hari yang sebelumnya cerah dan gerah bisa berubah menjadi hari yang sangat kelabu dengan mendung berkepanjangan. Tahun ini sudah akan berakhir. Mungkin dalam “satu kedipan” saja sudah akan menginjak tahun yang baru.

Banyak hal yang berubah dan berganti pada tahun ini. Pergantian rutinitas kerja hingga perubahan dalam menjalani keseharian. Sudah lebih dari sembilan bulan bekerja dari rumah dan sudah selama itu pula tinggal di rumah sendiri. Banyak waktu yang dihabiskan dengan diri sendiri.

Pergantian cara berkomunikasi dan upaya menahan diri. Berkomunikasi lebih banyak melalui pesan teks dan panggilan video. Bahkan masing-masing sudah terlalu sibuk dengan berbagai komunikasi daring. Terasa semakin jauh dengan yang dulu dekat. Pandemi ini entah sampai kapan akan berakhir. Ingin rasanya bisa bepergian dengan leluasa seperti dulu. Ingin rasanya bisa menjelajahi jalan-jalan baru seperti tahun lalu. Tahun ini benar-benar menahan diri untuk tidak terus menyalahkan keadaan. Sepanjang tahun ini tidak pernah berlibur ke luar kota. Bahkan jalan-jalan di dalam kota sendiri pun sudah tidak pernah. Jalan-jalan yang paling jauh mungkin hanya ke swalayan terdekat. Bepergian yang jauh cuma berani satu kali karena suatu hal yang memang tak bisa dibatalkan.

Pergantian perasaan pun terjadi. Masih ingat dengan jelas waktu itu seperti berada di situasi yang terasa sangat absurd. Perasaan dan emosi saat itu begitu campur aduk. Ingin marah tapi merasa tak berhak marah. Ingin berusaha memaklumi tapi rasa sakit hati sudah terlalu dalam. Perasaan kecewa yang begitu aneh sampai menghadirkan banyak kebingungan sendiri. Sampai-sampai sempat menyebabkan kesulitan untuk menguasai diri sendiri. Bahkan terbersit beragam “andai-andai”, termasuk andai diri ini tak pernah dilahirkan ke dunia mungkin akan ada banyak hal yang akan lebih baik. Tak mau menyimpan dendam tapi kekecewaan yang sudah mengendap ini tak kunjung hilang. Mencoba untuk memaafkan tapi kenyataan-kenyataan baru yang menghampar terus saja menghadirkan rasa perih. Berupaya menyembuhkan luka, tapi terus saja menggores luka itu dengan tangan sendiri. Sungguh absurd sebuah situasi ini yang membuat tahun ini menghadirkan serangkaian pengalaman yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Pergantian pemahaman dan sudut pandang juga menghampiri. Rasanya sungguh sebuah pembelajaran seumur hidup untuk bisa memiliki kemampuan dalam menghadirkan makna baru dalam setiap fase kehidupan. Ketika ada situasi yang memang tak bisa diubah, maka ya sudah. Saat ternyata ada kondisi-kondisi yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan, maka ya baiklah. Mungkin kesannya pasrah, tapi pada situasi tertentu tampaknya “menyerah” jadi kondisi yang lebih baik untuk membuat diri lebih tenang. Sehingga dengan begitu, bisa lebih fokus pada prioritas atau hal-hal lain yang lebih penting.

Sebentar lagi pergantian tahun. Tentu saja ada banyak harapan baru yang ingin digantungkan. Namun, sebelum itu, agaknya tak kalah penting untuk berterima kasih pada diri sendiri yang sudah bertahan melewati sepanjang tahun ini. Terima kasih sudah berusaha untuk tetap bertahan. Terima kasih sudah melakukan yang sebaiknya. Meski segalanya belum sepenuhnya sempurna dan lebih baik, setidaknya terima kasih sudah mau mencoba. Tidak semua hal terjadi sesuai harapan, tapi sudah berupaya melakukan yang terbaik adalah sebuah pencapaian. Terima kasih sudah melewati pergantian demi pergantian yang terjadi hingga titik ini.