cr: pexels.com

Bulan Ramadan kali ini benar-benar berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya ada larangan mudik Lebaran tahun ini. Saya sendiri tidak ke musala atau ikut salat berjamaah di musala selama Ramadan. Semua dilakukan dari rumah. Selain itu, untuk pertama kalinya juga selama sebulan ini saya sahur sendirian tapi setiap sore tetap buka puasa bareng ibuk dan bapak di rumah. Tahun 2020 belum mencapai separuh tapi rasanya energi sudah habis tak karuan. Selama bulan Ramadan ini pun karena bekerja dari rumah, saya manfaatkan sela waktu yang ada untuk mengeksplorasi berbagai topik tentang Islam. Rasanya masih banyak hal yang belum saya pahami betul dari agama saya sendiri ini. YouTube pun jadi media untuk bisa kembali belajar soal banyak hal, khususnya soal yakin dan percaya akan kebesaran Allah SWT.

Berbagai video tausiyah dari sejumlah pembicara saya tonton. Mulai dari topik-topik yang disampaikan oleh Ust. Adi Hidayat, AA Gym, Ust. Hanan Attaki, Gus Baha, Emha Ainun Najib, Quraish Shihab, hingga Nouman Ali Khan. Ternyata memang ada banyak hal yang belum saya pahami dengan baik. Masih ada banyak hal yang belum saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Selama menonton dan mendengarkan setiap topik yang disampaikan, memang saya tak mencatat setiap poinnya dengan khusus. Tapi ada beberapa hal yang sepertinya bisa saya garisbawahi. Sebagai pengingat supaya urip luwih setrong lagi.

Yakin kepada Allah SWT

Saya kembali mempertanyakan seberapa yakin sebenarnya saya selama ini dengan Allah SWT? Masih sering saya meragukan rencana-rencana terbaik-Nya. Masih sering saya berburuk sangka atas takdir yang Ia tetapkan. Bahkan pernah juga saya merasa Dia mengabaikan saya. Padahal justru sayalah yang selama ini mengabaikan-Nya. Saya belum benar-benar yakin akan kekuasaan dan kehebatan-Nya. Padahal hidup ini semua milik-Nya. Saya ada di dunia ini juga karena-Nya.

Saya masih sering sombong akan hal-hal yang saya lakukan. Seakan amalan-amalan saya yang telah menyelamatkan saya. Padahal sebenarnya rahmat dan karunia Allah-lah yang senantiasa melindungi saya. Ampunan dan keagungan-Nya yang senantiasa menyelamatkan saya. Amalan dan kebaikan yang saya lakukan rasanya belum ada seujung jari. Tapi Allah dengan luar biasa selalu membantu saya mengatasi setiap kesulitan yang ada. Yang selalu memberi saya kekuatan saat saya berada di titik terendah.

Sejumlah masalah hadir di awal tahun ini. Rasanya berbagai kejadian buruk datang berurutan. Ada saat-saat saya benar-benar tidak punya energi untuk melanjutkan hidup. Benar-benar putus asa dengan semua hal. Bahkan marah pada Allah karena tidak “menuruti” keinginan saya. Rencana-rencana yang batal terlaksana. Ujian demi ujian yang tak pernah disangka-sangka kembali menerpa. Kesedihan dan air mata yang terus menyapa dari hari ke hari. Di balik semua kesedihan dan masalah itu, Allah masih mengizinkan saya untuk bisa kembali bersujud. Masih bisa mencurahkan isi hati kepada-Nya. Memampukan saya untuk masih bisa mengobrol dengan-Nya. Dia kembali menguatkan saya di saat-saat sulit. Menuntun saya ke jalan yang lebih lapang.

Maaf

Ternyata untuk bisa benar-benar ikhlas memaafkan itu tidak mudah, setidaknya itu yang saya rasakan. Sekarang bisa saja bilang, “Iya saya memaafkannya,” tapi keesokan harinya bisa kembali teringat akan kesalahan yang ia lakukan. Lalu, kembali muncul perasaan marah, kesal, dan sakit hati. Ternyata untuk bisa memaafkan memang perlu belajar.

Sampai saya kemudian mendengar nasihat bahwa untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain, sampaikan ke Allah. Maafkan kesalahan orang lain supaya kesalahan kita juga dimaafkan Allah. Jadi, memaafkannya melalui “langit”. Tidak mudah. Sungguh. Namun, bisa dilakukan pelan-pelan. Setidaknya bisa sedikit meredam rasa marah yang kadang masih muncul tenggelam. Memperbanyak istigfar dan mendoakan kebaikannya.

Ah, saya juga punya banyak kesalahan. Kesalahan kepada orangtua, keluarga, sahabat, dan orang lain. Bahkan saya punya banyak kesalahan kepada Allah. Masih sering saya tidak mematuhi aturan-Nya. Berulang kali saya masih melanggar perintah-Nya. Rasanya amalan-amalan saya belum cukup menebus semua kesalahan yang saya punya. Saya hanya bisa mengharapkan kemurahan hati-Nya untuk memberi ampunan. Sungguh indah rasanya saat bisa mendapat ampunan dari-Nya dan menjadi hamba yang dicintai-Nya.

Eksistensi

Kenapa saya dilahirkan? Kenapa saya harus hidup? Kenapa saya dihadirkan ke dunia? Pertanyaan itu kadang muncul juga dalam benak. Sampai kemudian saya mendengar penjelasan yang intinya kurang lebih begini. Daripada terus stres dan pusing dengan mencari alasan kenapa kita dihadirkan ke dunia ini, mending fokus melakukan perbuatan-perbuatan baik. Mending fokus memperbanyak amalan. Kita bukanlah nama kita. Bukan sosok fisik dan tubuh kita. Melainkan kita adalah perbuatan-perbuatan kita. Hidup ini pun bukan punya kita. Daripada stres terus memikirkan eksistensi diri, mending pelan-pelan mulai menabung perbuatan-perbuatan baik.

Tak ada manusia yang sempurna. Tiap orang pernah berbuat salah. Saya kadang terlalu keras pada diri sendiri dengan menghakimi diri sendiri sebagai seseorang yang tak berguna. Ada dan tidak adanya saya di dunia sepertinya tak akan memberi pengaruh apa-apa. Namun, jika terus tenggelam dalam pikiran itu, rasanya juga sia-sia. Kita dianugerahi waktu dan kesempatan oleh Allah hidup di duni ini. Hidup yang hanya sekali dalam rentang waktu yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Hanya kepada-Nya kita meminta panduan terbaik dalam hidup supaya tidak tersesat. Menguatkan niat melakukan berbagai perbuatan untuk mendapatkan rida-Nya.

Ujian dan Cobaan

Saya sudah rajin melakukan ini dan itu tapi kenapa Allah malah memberi ujian-ujian baru? Pikiran ini pernah terbersit dalam diri. Sampai kemudian saya diingatkan bahwa para nabi dan rasul pun memiliki ujian dalam hidupnya. Rasulullah SAW juga harus menghadapi banyak ujian dan cobaan dalam hidupnya padahal beliau adalah manusia yang paling mulia. Banyak sekali cobaan dan ujian berat yang dialami oleh para nabi dan rasul.

Kenapa harus ada ujian dan cobaan? Saya disadarkan bahwa pada dasarnya saya adalah seorang hamba. Saya adalah seorang hamba. Hanya Allah SWT-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia yang mengatur semuanya. Dia memberi ujian dan cobaan pada hamba-Nya untuk menguji keimanan. Saat sedang dilanda kesulitan atau masalah yang begitu berat, hanya kepada Allah kita memohon diberi kekuatan. Saat rasanya dunia sudah runtuh dan harapan hilang, hanya Allah yang bisa menghadirkan cahaya baru. Saat energi tubuh dan pikiran sudah terkuras habis, hanya Allah yang bisa membantu untuk kembali berdiri pelan-pelan.

Berulang kali saya mendengar bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan. Tapi saya sempat protes sebab beberapa waktu lalu saya merasa seakan setelah ada kesulitan, bakal ada kesulitan yang lebih berat. Rasanya keadaan tidak membaik dan tidak menjadi mudah setelah melampaui sebuah kesulitan. Yang terjadi malah rasanya hidup jadi makin terpuruk tak karuan. Tapi dari situ saya kembali belajar untuk tidak bergantung pada makhluk-Nya. Tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain. Belajar untuk kembali bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT. Iman saya ternyata tak sekuat yang saya duga. Saya masih sering limbung dan tersesat. Masih sering menentang-Nya dan malah menjauhi-Nya. Padahal justru pada saat-saat itu sebenarnya Allah sedang menunggu saya untuk lebih mendekat kepada-Nya.

Allah Itu Maha Baik

Banyak sekali pemaparan yang membahas soal betapa baiknya Allah SWT. Setiap kali kita memohon ampunan-Nya, Allah akan langsung menyambut kita. Setiap kali kita berdoa, Allah langsung berada sangat dekat dengan kita. Allah tak pernah mengabaikan hamba yang menengadahkan tangan kepada-Nya. Allah Maha Baik. Allah akan selalu ada dan bersama kita. Dia yang akan memandu kita. Membimbing setiap langkah kita.

Saat kita berzikir kapan pun dan di mana pun, Allah akan senantiasa di hati kita. Sudah banyak kenikmatan yang Ia berikan kepada kita. Tapi kita masih saja sering merasa tidak cukup. Selalu meminta lebih padahal apa yang sudah kita dapatkan sebenarnya sudah cukup. Saya diingatkan kembali untuk bisa lebih baik dan berhati-hati dalam menjaga semua titipan Allah. Menguatkan doa semoga semua rezeki yang Allah berikan bisa saya jaga dengan baik. Semoga bisa menghadirkan keberkahan dan barokah yang berlimpah.

Rasanya lebih sering saya menghadapkan wajah kepada-Nya dengan perasaan sedih dan kesal. Protes ini itu. Marah akan ini itu. Menggugatnya atas ujian-ujian yang seakan “tak pantas” diberikan kepada saya. Hadir di depan-Nya dengan perasaan-perasaan negatif. Betapa tak tahu dirinya saya ini. Sampai kemudian saya belajar untuk bisa lebih banyak bersyukur lebih dahulu. Bisa dan mampu bersyukur nyatanya adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa. Masih bisa berzikir dan menyebut nama-Nya setiap waktu adalah keberkahan yang istimewa. Apa yang hilang dari genggaman, pasti akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Allah akan hadirkan keberkahan dari setiap kesulitan yang kita alami. Pasti akan ada pahala dari setiap kesabaran yang kita teguhkan dan jalani. Iman saya mungkin masih akan sering menipis. Bahkan mungkin masih akan limbung lagi. Namun, saya akan terus berusaha untuk hanya bersandar kepada-Nya. Menyerahkan semua perkara kepada-Nya. Melakukan semua hal terbaik yang bisa saya lakukan dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Percaya

Tampaknya beberapa waktu belakangan ini saya menjadi orang yang peragu. Saya seperti kehilangan kepercayaan tentang segalanya. Tak ada lagi rasa percaya kepada siapa pun dan kepada apa pun. Saya benar-benar diselimuti perasaan ragu. Sungguh tidak nyaman dan membuat hidup makin gelisah. Ada malam-malam yang membuat saya terjaga karena berbagai pikiran yang begitu menyesakkan sampai sulit membuat saya bernapas dengan tenang. Kini, saya berusaha untuk meneguhkan hati saya.

Ada Allah yang saya percaya. Ada Allah yang pasti bisa mengatasi segalanya. Bisa membantu saya melewati masa-masa sulit. Ada Allah yang selalu hadir bersama saya setiap waktu. Saya percaya Allah akan memudahkan semua urusan selama saya menyertakan-Nya dalam setiap tindakan dan perbuatan. Allah Maha Baik. Allah Maha Besar. Allah satu-satunya Tuhan yang percaya akan menjaga semua hal dalam hidup saya. Hanya Dia yang menciptakan segalanya di muka bumi. Dan hanya kepada-Nya nanti saya akan kembali.

Saya percaya Allah akan menjaga semuanya.