Skip to content

Perbaikan

cr: pexels.com/@emrecan

Masih teringat dengan jelas hal-hal yang saya rasakan tepat setahun lalu. Tahun lalu pada tanggal-tanggal ini saya sedang merasa “terburu-buru” untuk bisa segera beli rumah. Saat itu ada hari-hari saat saya tidak bisa tidur semalaman karena terus mencari info rumah untuk dibeli. Mulai dari harga hingga lokasi rumah. Sempat sangat pesimis karena harga rumah sungguh jauh dari bayangan sebelumnya. Nggak kebayang harganya semahal ini. Saat itu juga merasa sangat bingung bahkan ragu apakah, “Ini memang saat yang tepat untuk beli rumah?”

Entah apa yang membuat saya tahun lalu merasa terdesak untuk bisa segera beli rumah sendiri. Padahal waktu itu uang tabungan belum cukup-cukup amat dan ada invoice yang belum cair. Yang ada di pikiran saat itu adalah pokoknya target beli rumah sudah harus tercapai tahun itu juga.

Hingga ketika akhirnya duduk di depan meja notaris setelah melunasi pembelian rumah, rasanya bukan yang benar-benar lega tapi ada perasaan campur aduk yang baru. Apa sudah benar keputusan untuk membeli rumah? Apa rumah yang dibeli memang benar-benar sepadan? Bagaimana jika nanti ada hal-hal mendesak lain sementara tak punya dana darurat atau tabungan yang cukup?

Tadinya ketika berencana membeli rumah, sudah terbayang akan memiliki hunian yang sesuai dengan bayangan di kepala. Ada ruang tamu dengan sofa yang nyaman, ada rak buku besar di tengah ruangan, ada dapur yang bersih, ada kamar tidur yang nyaman dengan pencahayaan alami yang menenangkan, dan halaman yang luas untuk ditanami aneka bunga serta tanaman. Namun, realita bisa sangat jauh dari yang bayangan yang ada di kepala.

Bukan rumah besar dan luas yang saya punya. Meski begitu, sungguh sangat bersyukur bisa memiliki ruang untuk berlindung dari panas dan hujan. Satu hal yang terlewat dari perhitungan adalah anggaran untuk renovasi dan membeli perabot. Hm, ternyata biaya renovasi dan harga perabot tidak murah. Saya tak menyiapkan anggaran khusus untuk itu. Bahkan dapur pun belum benar-benar ada. Baru sekitar satu bulan lalu saya beli kompor. Beberapa sudut pun masih sering bocor saat turun hujan. Pagar pun belum punya. Belum ada kanopi. Bahkan belum juga memperbaiki cat dinding atau lantai yang belum lengkap. Mau beli kulkas pun masih mikir-mikir lagi. Mau beli televisi pun masih nanti-nanti. Rasanya ingin melengkapi setiap sudutnya dengan lebih apik, tapi untuk saat ini mungkin yang terbaik adalah mensyukuri yang sudah ada lebih dahulu.

Hari pertama saya menginap di rumah ini adalah hari saat saya baru pulang dari rumah sakit. Mungkin bukan hari yang “benar-benar baik” untuk menempati rumah baru, tapi saat itu bisa dibilang “darurat”. Pertimbangan untuk pindah pada hari sepulang dari RS saat itu adalah supaya bisa istirahat dengan lebih baik dan bisa lebih mudah menggunakan toilet. Karena yang dioperasi bagian lutut, maka setelah operasi masih sulit untuk menggerakkan sendinya. Jadi kalau pakai WC jongkok (seperti yang ada di rumah orang tua), akan sangat kesulitan. Sedangkan di rumah ini ada kloset duduk jadi lebih memudahkan untuk urusan “ke belakang” tanpa takut merasakan nyeri saat menekuk lutut. Hari pertama menginap di rumah ini, tidurnya pakai kasur tipis beralas tikar. Bisa dibilang bukan kenangan pertama yang menyenangkan menginap di sini, tapi kemudian ada saat-saat saya merasa, “Ah, syukurlah sudah ada rumah ini.”

Tidak pernah menyangka beberapa hari setelah pulang dari RS dan menempati rumah ini, kebijakan WFH diberlakukan. Setelah beli tempat tidur, saya pun meminta tolong orang tua untuk membantu membelikan meja dan kursi yang bisa digunakan untuk bekerja menggunakan laptop. Sebelumnya untuk menggunakan laptop, saya “melantai” beralas karpet seadanya. Tak disangka selama sembilan bulan kemudian rutinitas saya lebih banyak dihabiskan di rumah. Andai belum ada rumah ini, mungkin saya akan makin kesulitan untuk bekerja di rumah orang tua karena lingkungan di sana yang kurang kondusif untuk bisa bekerja dengan fokus dan tenang.

Karena pertemuan dan pergerakan dibatasi selama pandemi, seringkali saya memilih belanja online. Saya sendiri pun sebisa mungkin menghindari kerumunan dan tempat ramai. Punya rumah dengan alamat yang mudah ditemukan jelas sangat memudahkan saya untuk belanja dan menerima paket. Sudah lama punya impian bisa menerima paket dari rumah sendiri. Jadi, pada pengalaman pertama ada kurir yang datang mengantarkan paket, rasanya bahagia sekali. Karena kalau pakai alamat rumah orang tua, akan sulit untuk menerima paket bahkan mungkin kurirnya akan sering nyasar.

Ada saat-saat menyepi dan menyendiri adalah hal terbaik untuk saya pada sepanjang tahun ini. Kejadian demi kejadian yang rasanya sulit untuk dipahami pun membuat saya kembali merenungkan banyak hal. Punya banyak waktu dengan diri sendiri sepanjang tahun ini di rumah sendirian pun memang tak selamanya menyenangkan. Tapi setidaknya ada ruang yang bisa saya pakai untuk bisa menenangkan diri. Kembali mencoba untuk memperbaiki hal-hal yang terjadi di luar kendali diri. Walau belum sempurna, tapi setidaknya sudah bisa berjalan hingga sejauh ini. Perbaikan-perbaikan yang dibuat memang belum benar-benar baik, tapi sudah cukup untuk membuat segalanya berjalan.

Impian untuk beli rumah sudah ada jauh ketika saya masih berseragam biru putih. Sejak SMP, saya sudah punya keinginan untuk bisa beli rumah sendiri. Lalu ketika ada pengalaman yang sangat tidak menyenangkan pada beberapa tahun lalu, saya makin bertekad untuk bisa beli rumah. Walau memang sempat sangat pesimis untuk bisa beli rumah karena harga properti yang “di luar nalar”, pada akhirnya saya sampai juga ke titik ini.

Satu hal penting yang saya sadari setelah tinggal di rumah ini adalah ada tanggung jawab yang lebih besar dari sesuatu yang lebih besar. Sesederhana seperti kalau sebelumnya selalu bergantung pada orang tua untuk biaya listrik dan air, kini setiap bulannya harus menyiapkan anggaran sendiri untuk membayar tagihan di rumah ini. Karena tinggal sendirian, maka harus lebih jeli untuk memastikan semuanya aman di sini. Saat ada yang rusak atau bermasalah, nggak boleh gampang panik. Bahkan ketika mati lampu, kudu bisa lebih tenang.

Ke depannya rasanya masih ada banyak perbaikan yang perlu saya lakukan di rumah ini. Bukan rumah besar atau megah yang saya tempati saat ini. Sungguh masih jauh dari impian dan bayangan sebelumnya. Namun, itu bukan masalah. Masih banyak hal yang bisa saya syukuri dari semua ini.

Ini semua berkat Sang Maha Pemurah. Dia yang memberikan semua. Dia yang memudahkan semua. Dia yang membuka jalan ini semua. Bukan karena banyaknya tabungan yang saya punya, tapi karena Dia yang begitu pemurah membukakan pintu rezeki untuk saja. Bukan semata-mata karena bantuan dari orang terdekat bisa berada di sini, tapi karena Dia yang menghadirkan dan menggerakkan sosok-sosok luar biasa itu ada di dekat saya. Semoga keluarga saya pun senantiasa sehat dan hidup dengan nyaman.

Masih banyak perbaikan yang perlu saya lakukan. Rumah ini pun belum sepenuhnya sempurna, tapi sungguh sudah sangat mencukupi banyak kebutuhan yang ada. Semoga ini semua pun bisa saya jaga dan pertanggungjawabkan dengan baik. Semoga ada manfaat-manfaat lain yang bisa saya hadirkan ke depannya. Masalah-masalah baru pun mungkin akan menghampiri, tapi semoga saya bisa lebih baik mengatasi semuanya. Semoga ada perbaikan yang lebih positif lagi ke depannya.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *