cr: pexels.com/@monstera

Akhir Februari lalu, saya masuk ke ruang operasi. Itu pengalaman kedua dioperasi setelah tahun 2013 lalu juga pernah dioperasi tapi di rumah sakit berbeda dengan penyakit yang berbeda. Karena tahu rasanya dan suasananya ruang operasi itu kayak apa, tentu saja masuk kembali ke ruang operasi bikin takut. Khususnya takut dengan proses anestesi. Injeksinya itu lho bikin trauma sendiri, hehe.

Di pengalaman kedua itu, saat sudah ganti baju operasi dan menunggu dokter, deg-degannya jelas nggak karuan. Ketika dikabari operasi akan segera dimulai, salah satu dokter di sana pun bilang, “Banyak-banyak berdoa, ya.” Diomongin begitu, rasanya lha kok tambah ndredeg.

Begitu bersiap untuk dianestesi, dokter anestesinya seperti mencoba mencairkan suasana. Saya sempat ditanya banyak hal, sampai akhirnya lebih banyak ditanya soal pekerjaan. Yang tadinya saya sempat deg-degan nggak karuan, begitu ditanya-tanya langsung saja otak ini memproses untuk memberi jawaban-jawaban. Sejenak pikiran seakan teralihkan dan injeksi yang diberikan pun meski tetap sakit tapi tidak sepedih yang sempat pernah saya rasakan dulu. Berbagai pertanyaan dan obrolan basa-basi itu tampaknya cukup ampuh jadi pengalih perhatian dari perasaan takut dan cemas yang sempat saya rasa.

Tampaknya memang kita butuh pengalih perhatian agar bisa sejenak terlepas dari situasi yang tidak mengenakkan. Tahun 2020 baru berlangsung sekitar seperempatnya, tapi rasanya sudah babak belur. Dari mulai masalah pribadi hingga berbagai kabar buruk membuat awal tahun ini sungguh berat. Rasanya sudah nggak sanggup lagi untuk sedih karena stok sedihnya sudah habis. Rasanya air mata ini terasa perih jika harus dikeluarkan untuk menangis.

Saat satu situasi mereda, muncul badai baru. Saat hati terasa cukup membaik dan mulai berdamai dengan realita, muncul sakit baru yang bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Malam-malam yang dilalui terasa begitu melelahkan tapi susah untuk dimanfaatkan untuk istirahat sejenak. Saat baru saja jatuh dan mulai mengambil langkah baru, eh malah tersandung lagi. Sudah ada hal yang kita kira akan memberi sesuatu yang menjanjikan, ternyata harus berhenti di tengah jalan. Begitu banyak hal tak terduga yang terjadi beberapa waktu belakangan.

Rasanya tidak ada keadaan yang benar-benar baik-baik saja selama beberapa waktu belakangan ini. Berbagai kemungkinan terburuk terjadi begitu saja. Setiap kali merasa mendapatkan jeda akan sesuatu, muncul hal lain yang menyesakkan dada. Saat ini mungkin sedang butuh sedikit pengalih perhatian.

Sedang butuh pengalih perhatian yang membuat hari-hari terasa lebih berwarna. Menulis blog ini mungkin jadi salah satu cara untuk sejenak mengalihkan perhatian. Mengalihkan perhatian dari suatu project yang ternyata belum bisa dilanjutkan tahun ini. Mengalihkan perhatian dari sebuah realita yang ternyata belum bisa diterima dengan cukup lapang dada. Mengalihkan perhatian dari keriuhan media sosial. Mengalihkan perhatian dari kegagalan-kegagalan yang telah berlalu. Mengalihkan perhatian dari berbagai tuntutan dan tekanan yang ada.

Mungkin ada saatnya kita butuh sedikit pengalih perhatian biar rasa sakit yang dirasakan bisa sedikit berkurang. Mungkin nggak berkurang sih ya, tapi lebih ke tidak-cukup-dirasakan karena energi teralihkan untuk hal lain. Begitu, bukan?