cr: pexels.com/@jeffrey-czum-254391

Harga rumah ternyata mahal! Lokasi rumah pun sangat menentukan murah mahalnya harga rumah. Itu yang beberapa waktu lalu saya sadari. Tentu saja rumah itu mahal, tapi nggak pernah membayangkan semahal itu. Tadinya saya pikir uang “segini” sudah bisa dapat rumah besar, tapi ternyata butuh uang “segitu” untuk bisa memilikinya. Belum lagi dengan harganya yang terus naik dari tahun ke tahun. Sempat pesimis nggak bakal bisa beli rumah seumur hidup. Hehe, lebay? Mungkin saja.

Akhir tahun 2018 saya sempat membuat cuitan yang berisi tentang target untuk beli rumah. Iseng saja, meski sebenarnya itu adalah target yang cukup serius. Intinya ya ingin bisa beli rumah sendiri yang lebih nyaman. Cuma waktu itu belum tahu bagaimana caranya, khususnya bagaimana cara bisa mengumpulkan lebih banyak tabungan untuk bisa membelinya. Tak bisa dipungkiri bahwa masalah utamanya adalah soal uang.

Nggak mungkin saya minta dibelikan rumah oleh orang tua. Sebab saya tahu betul hal itu terlalu sulit bagi mereka. Saya pun nggak mau makin membebani mereka. Jadi, saya pun mengusahakan yang saya mampu. Alhamdulillah, Allah mudahkan dengan membuka pintu rezeki yang luar biasa sepanjang tahun 2019 lalu. Bekerja siang malam saya lakoni. Bekerja tiap hari dengan akhir pekan yang tetap mendekam di dalam kamar mengejar berbagai tenggat. Sempat juga mengambil cuti demi menuntaskan pekerjaan lainnya. Menyisihkan penghasilan untuk ditabung saya lakukan. Sisihkan sebagian penghasilan untuk disimpan di reksadana. Ditambah lagi ada bantuan dari adek yang punya rezeki lebih. Pada penghujung tahun 2019, dengan izin-Nya, akhirnya bisa sampai ke meja notaris untuk menyelesaikan akta jual beli rumah.

30 Desember 2018 & 26 Desember 2019

Beli yang Kecil Dulu

cr: unsplash.com/@greg_nunes

Dengan sejumlah pertimbangan, saya putuskan membeli sebuah rumah di kompleks perumahan. Bukan di dalam kampung. Sebenarnya faktor utamanya adalah lokasi. Cari yang lokasinya tidak terlalu jauh dari jalan utama dan tidak jauh dari kantor tempat saya bekerja sekarang. Selain itu, lokasinya pun tak jauh dari rumah orang tua (yang juga masih saya tempati) sekarang.

Ingin hati beli rumah dengan tipe yang lebih besar. Namun, saya juga harus realistis. Beli rumah sesuai anggaran dan tabungan yang ada. Pokoknya jangan sampai berutang apa pun yang terjadi. Saya pun membeli rumah yang cukup sederhana. Setidaknya rumah kali ini punya halaman depan. Biar kalau ada tamu, nggak bingung mau parkir di mana.

Beli yang kecil dulu, siapa tahu nanti dapat rezeki lagi untuk beli yang lebih besar. Nggak apa kecil dulu rumahnya, yang penting bisa jadi tempat untuk kerja yang lebih tenang kalau ada proyek baru. Disyukuri dulu semuanya karena yang tak kalah penting adalah berkahnya. Syukuri sebaik-baiknya karena masih dikasih rezeki yang cukup untuk bisa beli rumah. Kali ini amat sangat perlu disyukuri karena bisa punya ruangan yang lebih tenang untuk bekerja di rumah.

Hal-Hal yang Perlu Disiapkan untuk Beli Rumah

cr: unsplash.com/@johnmoeses

Duit! Jelas kudu disiapkan sebelum yang lain, hehe. Waktu itu saya menghitung dulu tabungan yang saya punya. Mulai dari tabungan yang ada di rekening utama, reksadana yang ada, hingga invoice yang menunggu cair. Saya total jumlahnya lalu mulai cari info rumah dengan anggaran yang ada. Namun, beli rumah nggak semudah menjentikkan jari (ya iyalah ya).

1. Pajak

Punya tabungan seribu rupiah, sebaiknya jangan cari rumah seharga seribu rupiah juga. Maksudnya, ingat bahwa ada biaya lain yang perlu disiapkan selain biaya untuk menebus harga rumah. Ada pajak yang perlu kita bayar juga.

Saya sempat mencari info rumah dengan harga yang ngepres dengan jumlah tabungan yang ada. Ternyata saya salah. Sebab ada berbagai biaya lain yang perlu disiapkan seperti biaya notaris, bea balik nama, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan  (BPHTB), dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). PPN dan BPHTB ini nominalnya bisa cukup besar. Tergantung dari dasar harga pengenaan harga rumah yang dibeli.

Perhitungannya:
BPHTB = Tarif Pajak 5% x Dasar Pengenaan Pajak (NPOP – NPOPTKP)
PPN = Tarif Pajak 10 % x Dasar Pengenaan Harga

Pokoknya kalau mau beli rumah, dana yang disiapkan sebaiknya sudah mencakup biaya pajak yang harus dikeluarkan. Biar nggak kaget, hehe.

2. Cari Agen Terpercaya

Saya memutuskan untuk menggunakan jasa agen dalam proses pembelian rumah. Waktu itu saya mencari info rumah melalui situs OLX dan di situ sudah tertera agen yang bisa dihubungi. Awalnya saya chat langsung via situsnya dan kalau langsung direspons, baru saya pertimbangkan untuk menghubunginya via What’s App. Ada banyak agen yang saya hubungi waktu itu. Sampai akhirnya saya menghubungi salah satunya yang sesuai dengan info rumah yang saya cari.

Dari situ, mulai menjadwalkan untuk survei rumahnya. Ketemu langsung dan mulai membahas prosesnya. Bagaimana cara mencari agen yang terpercaya? Hm… saya sendiri sebenarnya waktu itu kurang yakin apakah agen yang saya pilih itu terpercaya. Bahkan ketika sudah mulai proses mencicil rumah pun, saya masih ketar-ketir. Gimana kalau saya ketipu? Gimana kalau ternyata agennya palsu? Ya, pokoknya cemas nggak karuan. Wis pokoke bismillah! Saya juga sempat meng-Google nama agennya dan alamat kantor agen tersebut. Memastikan bahwa orangnya memang kredibel.

Dengan bantuan agen ini, langsung bisa diatur proses pembayaran, jadwal ke notaris, dan sebagainya. Saya sendiri kurang paham bagaimana sistem kerja mereka. Yang saya tahu memang pihak developer sudah bekerjasama dengan agen properti untuk memasarkan dan mempromosikan rumah yang dijual. Sempat juga saya mau mempertimbangkan untuk beli rumah inden yang baru akan dibangun dalam waktu 1,5 tahun dengan harga yang lebih murah, tapi saat ini sedang butuh rumah yang sudah jadi untuk bisa ditempati dalam jangka waktu tidak terlalu lama. Jadi, ya sudah memantapkan diri beli rumah yang sudah jadi meski harganya lebih mahal.

3. Dokumen-Dokumen

Dari awal keinginan beli rumah muncul, saya berangan-angan beli rumah secara tunai. Langsung dibayar semua lunas dari awal, nggak perlu mencicil lama. Memang bisa saja beli secara kredit atau KPR. Bahkan bisa saja kita dapat rumah yang lebih besar dengan KPR. Cuma, saya pribadi merasa kurang nyaman jika harus menanggung utang atau menjalani proses cicilan rumah sampai puluhan tahun. Membayangkan punya rumah yang harus dilunasi selama sepuluh tahun misalnya, duh nggak kuat rasanya kalau selama sepuluh tahun itu dibuat stres dengan cicilan rumah.

Saya kurang paham dokumen apa saja yang perlu disiapkan untuk pembelian rumah dengan KPR. Dari pengalaman saya yang membeli rumah langsung dilunasi di awal dengan beberapa tahap pembayaran, yang saya siapkan antara lain Kartu Keluarga, KTP, NPWP, dan surat keterangan belum menikah. Bagi yang sudah menikah, sepertinya perlu melampirkan Surat Nikah suami istri. Karena saya belum menikah, maka saya perlu membuat surat keterangan belum menikah melalui kantor desa. Syukurlah saat itu prosesnya cepat. Pagi-pagi sebelum berangkat kerja ke kantor, mampir dulu ke balai desa, langsung bilang ke petugasnya (harus nunggu beberapa menit karena waktu itu saya datangnya kepagian, hehe), menyerahkan KTP, tanda tangan, lalu ditanda tangani oleh sekretaris desa, distempel, dan sudah!

Semua dokumen itu saya scan lalu kirim via What’s App ke agen propertinya. Tidak perlu memfotokopinya karena semua dikirim langsung ke pihak notaris. Lalu, pihak notarisnya yang mencetak semuanya untuk keperluan akta jual beli.

4. Kesiapan Mental

Ini pun tak kalah pentingnya. Ada beberapa momen yang bikin saya stres dalam proses pembelian ini. Seperti meragukan apakah sudah tepat keputusan beli rumah ini, apa rumah yang dibeli bakal bikin betah, hingga apakah nanti sudah siap dengan berbagai pengeluaran baru. Belum lagi dengan menanggapi omongan orang lain yang memojokkan.

Momen pembayaran pun bikin deg-degan sendiri. Selama ini kalau transfer uang untuk belanja online hingga beli tiket pesawat, nggak pernah sampai berjuta-juta. Ketika untuk pertama kalinya mentransfer uang dengan nominal ratusan juta, rasanya nggak karuan. Sampai kudu merem dulu sebelum mengklik tombol kirim dan konfirmasi transfer, hehe.

Setelah melunasi pembayaran pun masih harus sabar lagi. Ada yang masih perlu diperbaiki ini dan itu. Ada yang masih harus dibersihkan, dipasang, dan sebagainya. Masih perlu beli ini dan itu lagi. Baru sekitar 1,5 bulan sejak membayar DP tanda jadi, saya baru bisa pegang kunci rumahnya. Itu pun belum saya tempati langsung karena masih harus dibersihkan dan ditata kembali. Belum lagi dengan bocor sana sini yang masih harus diperbaiki. Pusing. Sabar, sabar, dan sabar.

Kesiapan menghadapi tabungan yang terkuras juga perlu dimiliki. Semua tabungan tahun lalu saya kerahkan untuk belanjaan terbesar seumur hidup saya ini. Kini setiap mengecek saldo, rasanya sedih, huhu. Tahun ini mungkin saya nggak ada rencana untuk liburan yang jauh atau membeli barang-barang mahal. Fokus dulu ngumpulin tabungan buat modal nikah, ha! Padahal jodohnya belum ada bayangan.

Semoga rezeki kita selalu dicukupkan, ya. Semoga apa yang kita beli dan miliki bisa memberi berkah dan manfaat-manfaat yang lebih besar. Semoga tahun ini, akan ada lebih banyak pintu rezeki yang terbuka untuk kita. Aamiin.

Alhamdulillah. Bismillah.