dok. Sociotraveler

Dieng Culture Festival 2019, pertama kali dapat info soal open trip untuk mengikuti acara tahunan tersebut pada bulan Maret lalu saya langsung tertarik. Saya pun mengajak seorang teman untuk ikut bergabung. Tak butuh waktu lama, kami langsung membayar DP untuk acara tersebut. Ya, sudah bayar DP dari bulan Maret untuk ikut acara bulan Agustus, hehe. Sempat khawatir apa bakal kesampaian ikut acaranya karena rencana sudah dibuat terlalu jauh. Gimana kalau pas hari H malah sakit? Atau ada acara mendadak, dan lain sebagainya? Alhamdulillah pada hari H bisa ikut acaranya sampai habis dan pulang dengan dengkul nyut-nyutan.

Meeting Point di Stasiun Tugu, Yogyakarta

Saya berangkat dari Malang pada hari Kamis, 1 Agustus 2019. Berangkat naik kereta Malioboro Ekspres dan tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta pukul 03.35. Meeting point untuk berangkat ke Dieng Culture Festival (DCF) saat itu dari Stasiun Tugu pukul 07.00. Praktis selama lebih dari 3 jam ngemper di stasiun. Semalaman naik kereta tak bisa tidur nyenyak, jadilah pagi itu muka kusut banget. Daaan… perjalanan dari Yogya ke Banjarnegara memakan waktu sekitar 6 jam dengan bus. Melewati jalan berkelak-kelok dan dasarnya saya aja yang selalu kesulitan untuk bisa tidur di dalam kendaraan, begitu tiba di Dieng rasanya badan ini letih tak karuan. Syukurlah tidak sampai mabuk darat, hehe.

Kawah Sikidang

dok. Sociotraveler

Setelah tiba di homestay dan pembagian kamar, langsung berangkat ke Kawah Sikidang. Ini pengalaman pertama saya mengunjungi Kawah Sikidang. Kesannya? Hm, entah ya. Ada beberapa spot yang tampak dipermanis dengan hiasan untuk foto-foto tapi bukannya tampak cantik, malah kelihatan cemong. Seperti tidak tertata dengan apik. Hiasan-hiasannya terasa kurang menyatu dengan alam.

Salah satu spot berbayar, hehe.

Kawah Sikidang ini paling ramai dikunjungi wisatawan. Kawah yang timbul akibat aktivitas gunung berapi Dieng ini memiliki keunikan tersendiri karena dipercaya selalu berpindah-pindah tempat. Seperti kidang (kijang) yang melompat-lompat, lokasi kawahnya konon berpindah-pindah.

Jazz di Atas Awan, Ada Mas Is

Menonton Mas Is.

Saya kurang paham dengan musik jazz. Bukan pula yang suka datang ke acara-acara musik ramai. Tapi acara Jazz di Atas Awan yang masuk dalam rangkaian DCF jelas tak boleh dilewatkan. Sekitar pukul 9 malam, saya tiba di venue panggung utama. Ada penampilan Gugun Blues Shelter dan Mas Is (ex. Payung Teduh). Cukup seru juga bisa dapat pengalaman nonton acara musik di tengah suhu yang bikin badan menggigil. Nggak nonton sampai terlalu larut. Pukul 10 malam sudah balik ke homestay karena sudah kedinginan dan butuh tidur.

Sabana di Bukit Pangonan

Matahari sudah mulai terbit.

Sabtu pagi, 3 Agustus 2019 sekitar pukul 5 pagi, saya ikut trekking menuju sabana Bukit Pangonan. Dari dulu saya memang sangat suka diajak blusukan atau trekking tapi karena sudah lama nggak melakukannya jadi waktu itu memang bikin ngos-ngosan. Tanjakan dan turunannya tidak terlalu curam, cuma memang harus usaha ekstra keras mengatur napas dan menahan suhu dingin yang bikin badan menggigil.

Begitu sampai di padang rumputnya, wah rasanya lega sekali. Terlupakanlah sejenak rutinitas harian yang rumah-kantor-rumah dan kerja-makan-tidur-kerja selama beberapa waktu belakang. Sepertinya saya memang butuh lebih banyak menghirup udara segar biar nggak gampang stres.

Matahari menyembul dari balik bukit.

Entah pagi itu suhunya berapa. Yang jelas tangan ini rasanya sampai kaku dan mati rasa. Kuku-kuku jari tangan seperti mengeras. Sudah pakai kaos rangkap dua dan celana panjang rangkap dua pun, hawa dingin rasanya masih menembus tulang.

Pinjem tangannya Suci 😀

Setelah cukup puas menikmati padang rumput, kami pun kembali turun. Saat itu saya berdua dengan teman saya, Suci untuk kembali ke bawah. Agak terpisah dari kelompok sebelumnya karena kecepatan jalan yang berbeda. Tak tahunya di tengah jalan, kami berbelok ke jalan yang lain. Memang sempat curiga dengan jalan yang dilewati. Waktu berangkat, kami melewati jalan sempit yang datar dan menembus ilalang. Tapi waktu pulang, lha kok jalan yang dilewati lebih banyak turunan. Sempat bingung tapi kami masih bisa kembali dengan selamat, hehe. Kami tidak tersesat tapi memang ternyata ada dua jalan berbeda.

Matahari mulai meninggi.
Jalan menuju sabana (waktu berangkat tidak lewat sini tapi waktu pulang nggak sengaja lewat sini karena salah belok).

Batu Pandang Ratapan Angin

Ramai banyak yang ingin berfoto dengan latar Telaga Warna.

Rencana awal ada jadwal ke Telaga Warna tapi karena ada perubahan, akhirnya langsung njujug ke Batu Pandang Ratapan Angin. Dari homestay jalan kaki ke sana sekitar 45 menit. Iya, jalan kaki karena tidak memungkinkan naik bus sebab akan kesulitan parkir dan terjebak macet.

Tidak naik sampai ke ujung atas sana karena kedua kaki ini sudah melemah,
Telaga Warna dari ketinggian.

Sore itu memang sangat ramai. Jalanan begitu padat. Untuk balik ke homestay, akhirnya saya naik ojek. Tapi nggak bisa turun pas di gang homestay karena jalan yang ditutup. Jadi, ya tetap saja harus jalan kaki lagi.

Festival Lampion

Dieng Culture Festival tahun depan sudah tidak ada lampion.

Sempat ada isu DCF tahun ini tidak ada festival lampion. Namun, ternyata syukurlah masih ada. Mulai tahun depan, tampaknya festival lampion sudah ditiadakan dari agenda Dieng Culture Festival.

Tak terbayangkan sebelumnya bahwa malam itu akan sangat ramai. Manusia ada dimana-mana, ha! Bergerombol saling dorong, ha! Kaki saya pun entah berapa kali diinjak orang-orang tak dikenal. Kesulitan masuk venue panggung utama, saya dan beberapa teman akhirnya melipir ke pinggir, mencari tempat yang agak lega untuk bisa sekadar duduk.

Banyak sekali warga lokal yang datang. Ada yang sudah bawa tikar. Ada yang tidur-tiduran, bahkan ada yang sambil sayang-sayangan, duh. Jadwal penerbangan lampion saat itu pukul 11 malam. Orang-orang yang nekat menerbangkan lampion sebelum jadwalnya akan ditegur oleh relawan. Lampion yang terbang sebelum jadwalnya pun ditembak laser dan langsung bolong lalu terhempas kembali ke daratan.

Di panggung utama, ada Isyana yang membawakan sejumlah lagu. Saya hanya bisa mendengar sayup-sayup saja. Selebihnya yang paling banter sampai ke telinga adalah lagu dari panggung sebelah yang sepertinya dinyanyikan oleh artis lokal. Nun jauh di sana ada A Whole New World yang dinyanyikan dengan begitu syahdu oleh Isyana, sementara di panggung sebelah ada Cendol Dawet yang cukup menghebohkan.

Menyalakan parafin untuk menerbangkan lampion.

Begitu kabut turun, dinginnya benar-benar menusuk sanubari. Makin sulit bernapas karena hidung yang rasanya sudah tersumbat. Menjelang tengah malam, ribuan orang berduyun-duyun menuju pintu keluar. Ada kehebohan saat keluar. Rupanya ada banyak orang yang menerobos masuk ke venue. Banyak yang ilegal. Sehingga di pintu keluar pun, petugas harus berusaha ekstra keras memeriksa id card dari satu per satu peserta. Luar biasa hectic!

Tangan sudah gemeteran karena kedinginan, susah ngambil foto yang bagus.

Ritual Pemotongan Rambut Gimbal

dok. Sociotraveler

Ritual pencukuran rambut gimbal adalah momen sakral di mana anak bajang yang berambut gimbal harus dicukur rambutnya. Si anak berambut gimbal merupakan titisan Kyai Kolodete yang juga merupakan leluhur Dieng. Dieng punya kearifan lokal yang unik dengan adanya rambut gimbal pada beberapa orang yang terlihat secara acak atau random. Rambut gimbal harus dicukur dalam sebuah ritual yang dihadiri oleh tetua adat di Dieng.

Sumber: hipwee.com/travel/ritual-cukur-rambut-gimbal

Pada ritual pemotongan rambut gimbal tanggal 4 Agustus 2019, ada 11 anak yang dicukur rambutnya. Tahapannya mereka akan dikirab lebih dahulu, kemudian rambut mereka dikeramas (jamasan), lalu lanjut ke ritual pemotongan rambut di area Candi Arjuna. Satu per satu dari mereka dipanggil dan dipotong rambutnya oleh otoritas adat terkait. Setelah dicukur, rambut gimbalnya akan hilang dan tidak akan tumbuh gimbal lagi.

Dalam ritual tersebut, setiap anak mengajukan permintaan khusus ketika rambutnya akan dipotong. Ada yang minta laptop, sepeda, kambing, es krim cokelat, dan yang paling unik adalah ada yang minta telur puyuh dan kentut ibunya. Entah apa yang dibayangkan si anak saat ia request secara khusus ingin diberi kentut ibunya sebagai syarat pemotongan rambut gimbalnya.

Bisa menyaksikan langsung ritual pemotongan rambut gimbal ini jadi pengalaman yang berkesan tersendiri. Selama ini cuma menonton dan menyaksikan di televisi. Begitu melihat langsung, rasanya luar biasa.

Bersama teman-teman open trip Sociotraveler.

Selama ritual berlangsung, hanya peserta yang memegang tiket resmi yang boleh menyaksikan. Peserta dibekali kain jarik dan caping untuk mengikuti acara tersebut. Sempat ada kehebohan saat peserta yang berada di area depan malah berdiri. Semestinya yang berada di area depan duduk agar yang berada di belakang bisa melihat ritualnya. Tapi agak susah juga sebab permukaan tanah tidak rata. Jadi, yang duduk di depan pun belum tentu bisa melihat dengan jelas. Belum lagi dengan fotografer yang tidak mematuhi aturan dan menghalangi pandangan orang-orang lain di belakangnya.

Memotret dari kejauhan.

Para fotografer sudah diberi tempat khusus untuk memotret dan mendokumentasikan acara ritual. Oh iya, selama ritual berlangsung peserta tidak boleh menerbangkan drone dan tongsis yang dipakai tidak boleh lebih dari 30 cm panjangnya.


Fotografer di “panggung” tersendiri.

Acara pemotongan rambut gimbal berakhir sekitar pukul 12 siang. Aneka hasil bumi, ketupat, dan makanan pun dibagi-bagikan ke peserta. Konon ada berkah tersendiri yang bisa didapat bila kita mendapat bagian makanan tersebut. Saya sendiri langsung balik ke homestay untuk mulai berkemas persiapan pulang.

Bakal Balik Ikut Dieng Culture Festival Tahun Depan?

Bersama teman-teman serumah 😀

Kalau ada yang bayarin, boleh deh balik lagi ke Dieng Culture Festival tahun depan, hehe. Cukup menyenangkan bisa ikut festivalnya tahun ini. Nggak menyesal sama sekali. Meski pulangnya capek dan kaki melemah karena sudah dipakai jalan lebih dari 20 ribu langkah, tetap bahagia. Sekarang saatnya balik lagi ke rutinitas harian. Kembali kerja, nabung lagi, dan meluangkan waktu lagi untuk liburan. Kudu sering-sering melihat dunia luar biar hidup nggak kerasa capek, betul begitu?

Terima kasih juga untuk tim hore Sociotraveler. Senang bisa ikut open trip ini. Owner-nya rame dan fotografernya juga seru. Sukses terus untuk kalian.