cr: pexels.com/@karolina-grabowska

Mengenal kepribadian sendiri bisa membantu kita mengondisikan keadaan yang lebih nyaman untuk bekerja. Semakin mendalami pekerjaan pun bisa membuat kita semakin mengenali kepribadian sendiri. Sejak lulus kuliah tahun 2011, dunia kerja menjadi bagian terbesar dalam hari-hari dan rutinitas hidupku. Pekerjaan dan kepribadian. Kepribadian dan pekerjaan. Keduanya pun menjadi bagian yang makin tak terpisahkan seiring waktu berjalan.

WORKING BEST, WORKING ALONE

People with the Architect personality type usually prefer to work alone or in small groups. There, they can make the most of their creativity and focus without constant interruptions from curious coworkers or supervisors who call too many meetings. Architects are unlikely to be drawn to management roles or anything that involves nonstop interaction and teamwork, often preferring more “lone wolf” jobs. They like a drawing board more than a boardroom meeting. Like so many others, Architects get along best with leaders who understand their style of working and can help advance their visions.

The other side of that coin is that Architects dislike anyone who gets ahead by playing the office politics game well or working a company’s social scene just right. They judge their coworkers by what they can do and not who they know. Architects have high standards – if they view a colleague or supervisor as being not up to those standards or otherwise ineffective, respect can be instantly and permanently lost.

People with the Architect personality type value personal resourcefulness, grit, insight, and commitment in themselves and in others. They believe that everyone should complete their work and meet the highest possible standards. If a social butterfly at work breezes through without carrying their own weight, they may find Architects using their ingenuity to find ways to stop their nonsense.

16personalities.com/intj-careers

Dalam beberapa kali usaha mencoba tes kepribadian Myers-Birggs Type Indicator, aku selalu mendapatkan hasil INTJ. Ketika membaca terkait karier, diungkapkan bahwa tipe ini paling cocok dan nyaman bekerja sendiri. Kuakui memang kondisi bekerja sendirian bisa lebih memudahkanku untuk bisa lebih fokus dan produktif. Bekerja sendirian terasa lebih membebaskan.

Semakin ke sini aku seperti merasa makin perfeksionis soal pekerjaan. Sulit merasa puas ketika menyelesaikan sesuatu. Sering merasa masih ada hal-hal yang perlu dibenahi dan diperbaiki. Bahkan punya kecenderungan ingin selalu lebih cepat dalam menepati deadline. Jika deadline sebuah pekerjaan adalah pekan depan, aku kadang malah terlalu memaksakan diri untuk menyelesaikannya dalam waktu dua atau tiga hari. Hidup sudah penuh tekanan, ini malah makin menekan diri sendiri dalam pekerjaan, hehe.

Kadang aku menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri yang berakibat bikin stres sendiri. Beberapa waktu lalu mengerjakan sebuah proyek yang cukup panjang. Tadinya sudah yakin bakal bisa menyelesaikannya dengan baik tapi dalam prosesnya malah banyak kekurangannya. Dampaknya malah menyalahkan diri sendiri karena terlalu percaya diri memasang standar terlalu tinggi.

Makin gampang merasa kesal jika pekerjaan yang sudah diselesaikan dengan baik tak membuahkan hasil yang manis. Mudah sedih jika segala sesuatu diukur sebatas dari angka-angka. Disandingkan dan dibandingkan dengan angka-angka kadang malah menurunkan semangat dan motivasi. Mau mengingkari angka-angka pun bukan hal yang mudah karena itu jadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari sebuah pekerjaan. Kalau sudah begini, perlu lebih sering puk-puk bahu sendiri biar tetap kuat dan mampu menjaga ritme kerja yang baik.

Saat pekerjaan yang dilakukan berkaitan dengan penulisan dan penyuntingan, masih bisa sambil mendengarkan musik atau bersenandung. Tapi kalau pekerjaannya fokus ke penerjemahan, energi benar-benar difokuskan untuk penerjemahan. Bekerja di tengah keramaian masih sulit untukku, tapi kalau dikelilingi white noise masih cukup mudah. Asal jangan sandingkan aku dengan ocehan-ocehan. Apalagi bila ada orang yang berbicara, mengobrol, atau bersenandung, makin sulit untukku menjaga konsentrasi. Selain itu tantangan terberatku adalah ketika flow bekerja tersendat atau disela sesuatu, susah sekali untuk mengembalikan flow tersebut. Saat sedang membuat sebuah artikel misalnya, lalu disela dengan perkara lain yang memecah konsentrasi, maka akan makin sulit untuk mengembalikan konsentrasi melanjutkan menulis. Ada saatnya bisa bekerja berjam-jam tanpa merasa bosan atau capek. Tapi ada juga baru duduk beberapa menit sudah kesulitan untuk mengawali pekerjaan.

Butuh kenyamanan dalam bekerja. Namun, karena paham betul tidak semua lingkungan dan kondisi bekerja sesuai dengan standar kenyamanan yang diinginkan, maka aku yang akan berusaha untuk mengondisikan diri agar tidak gampang capek saat bekerja. Kualitas tidur, suasana hati, dan motivasi sangat memengaruhi produktivitas kerja. Pastinya juga kondisi kesehatan yang baik. Kesehatan adalah harta yang paling berharga. Maka dari itu, beberapa waktu belakangan ini pun aku tidak terlalu ngoyo untuk mencari pekerjaan sampingan. Setidaknya untuk sementara waktu ini. Mau memperbaiki kualitas hidup dan kualitas pekerjaan dulu agar lebih baik serta tidak gampang stres.

Dari pekerjaan demi pekerjaan yang kulakukan dan kuselesaikan, kadang aku menemukan hal-hal baru dalam kepribadianku. Pernah aku merasa tidak percaya diri saat ada tawaran pekerjaan membuat esai-esai pendek terkait sebuah survei berbahasa Inggris. Karena sudah telanjur mengiyakan tawaran pekerjaan itu, maka aku pun harus bertanggung jawab. Akhirnya mengunduh banyak referensi dan informasi dari berbagai sumber. Merangkumnya dan mengambil poin-poin penting, lalu merangkainya dalam esai-esai pendek. Setelah menyelesaikannya, tak disangka mendapat feedback yang cukup melegakan. Kusadari bahwa kadang perasaan tidak percaya diri itu muncul karena rasa cemas berlebihan. Berani mencoba sesuatu sudah pencapaian tersendiri.

Semoga apa pun pekerjaan yang kita lakukan dan tekuni saat ini bisa menghadirkan makna dan banyak manfaat, ya. Mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan kepribadian, maka ada penyesuaian yang harus dilakukan. Menyeleraskan kepribadian dengan pekerjaan pun kadang perlu dilakukan agar bisa mendapatkan keseimbangan.