Pantai Tiga Warna.

Paling bahagia diajak ke pantai atau ke gunung? Sebenarnya lebih suka leyeh-leyeh di kamar sambil nonton drama Korea, hehe, tapi kalau ada yang ngajak main ya nggak nolak juga. Karena sehari-hari saat kerja kebanyakan hanya duduk, jadinya kalau ada kesempatan untuk keluyuran, langsung diiyakan selama kondisi memungkinkan.

Berawal dari ajakan seorang teman untuk patungan bayar jasa sewa mobil dan pemandu ke pantai Malang Selatan, saya pun akhirnya bisa kembali melihat birunya air laut. Dalam sehari, waktu itu kami mengunjungi tiga pantai: Pantai Tiga Warna, Batu Bengkung, dan Balekambang. Sebagai warga asli Malang, saya sendiri amat jarang pergi ke pantai. Nggak mungkin berangkat sendirian dan makin ke sini makin susah nyari teman main.

Pantai Tiga Warna

Datanglah saat weekday 🙂

Berangkat sekitar pukul 06.30, tujuan pertama kami adalah Pantai Tiga Warna. Kenapa memilih ini? Tak lain karena penasaran dan tak memungkinkan untuk bisa ke sana kalau sendirian. Karena masuk dalam wilayah konservasi, maka untuk mengunjunginya perlu ditemani pemandu. Bahkan ada sejumlah peraturan yang perlu diikuti.

Dari tempat parkir, harus berjalan sekitar 15 menit untuk sampai ke Pos 2. Di Pos ini, barang bawaan yang berpotensi sampah akan didata. Mulai dari botol minuman sekali pakai, tisu, masker sekali pakai, pembalut, camilan, obat-obatan, dan ragam bawaan yang berpotensi menjadi sampah. Petugas akan mendata semuanya dan memberikan selembar kertas untuk kita bawa. Nanti, sepulang dari pantai, kita perlu melapor kembali tapi ke Pos 1 untuk memperlihatkan kembali semua barang yang berpotensi sampah tersebut. Intinya, kita tidak boleh membuang sampah apa pun di area pantai. Yang dibawa ke pantai harus tetap dibawa hingga Pos 1. Kalau kita ketahuan membuang sampai di pantai, ada denda kalau tidak salah Rp100 ribu per item.

Bersiap jalan agak jauh lagi.
Pos 2.
Sudah ada jalurnya.
Bareng bapak pemandu.
Difotoin bapak pemandu.

Mulai dari Pos 2, kita akan ditemani pemandu. Kalau tidak salah, satu pemandu akan menemani satu kelompok beranggotakan maksimal 10 orang. Saat itu, kami berempat ditemani oleh seorang bapak pemandu. Dari Pos 2 ke Pantai Tiga Warna, butuh sekitar 35 menit berjalan kaki. Di sepanjang jalan, kita akan disuguhi pemandangan tanaman bakau dan ragam pepohonan. Karena saat itu kami berkunjung pada musim kemarau, sepanjang jalan terasa sangat kering. Ranting-ranting tumbuhan tampak begitu kurus. Panasnya pun tak terkira.

Bebaskan diri sebentar dari dunia maya. Nggak ada sinyal internet di sini.

Sesampai di Pantai Tiga Warna, pemandangan laut yang jernih dengan degradasi warna putih, hijau, dan biru langsung menyambut kita. Saat itu kami datang pada hari Rabu dan tidak dalam musim liburan. Jadinya, pantai sangat sepi. Hanya ada kami berempat, bapak pemandu, dan beberapa orang yang bercengkerama di warung. Oh iya, maksimal hanya boleh dua jam saja bermain-main di pantainya. Bapak pemandu akan membantu menjaga barang-barang kita selagi kita menyusuri tepi pantai.

Karena suasananya yang tenang, cocok sekali dijadikan tempat bengong. Ponsel pun tak mendapat sinyal internet. Sejenak menjauhkan diri dari ragam keriuhan media sosial, surel pekerjaan, dan komunikasi dari dunia luar. Suara deburan ombak pun memberi ketenangan tersendiri.

Enjoy the moment.
Pos 1.

Sekitar pukul 11.30 kami kembali ke tempat parkir. Sebenarnya, ada Pantai Gatra yang juga bisa dikunjungi dari jalur yang dilewati. Namun, karena saat itu sudah sangat terik, kami memutuskan untuk kembali ke tempat parkir saja. Jauhnya jarak untuk jalan kaki sebenarnya tidak terlalu “menyiksa”. Namun, teriknya matahari dan cuaca yang begitu kering benar-benar menguras energi. Wajib bawa air minum deh pokoknya.

This image has an empty alt attribute; its file name is IMG20191023121052-1024x768.jpg
Setiap Kamis tidak menerima kunjungan.

Hari Kamis, Pantai Tiga Warna tidak menerima kunjungan. Kata bapak pemandu, hari Kamis dijadikan hari untuk bersih-bersih area pantai. Jadi, pastikan tidak datang pada hari Kamis, ya.

Pantai Batu Bengkung

Batu Bengkung.

Setelah beristirahat sebentar menikmati es degan dan mampir ke warung untuk makan siang, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Batu Bengkung. Di sepanjang garis pantai Malang selatan ini, ada beberapa pantai yang bisa dikunjungi. Tinggal pilih saja, hehe. Karena saat itu sudah cukup capek jalan kaki pulang pergi ke Pantai Tiga Warna, kami memilih pantai yang bisa dijangkau dekat dari area parkir.

Ombaknya lebih aduhai.

Batu Bengkung ini ombaknya terlihat lebih besar. Kabarnya pemandangan saat senja atau matahari terbenam dari pantai ini sangat bagus. Waktu terbaik mengunjunginya sebenarnya sebaiknya kalau pagi ya pagi sekalian, kalau senja ya senja sekalian biar dapat pemandangan yang aduhai, hehe.

Kita bisa naik ke tebing dengan jalur yang sudah ada untuk melihat pemandangan laut dari atas. Melihat gulungan ombak dengan latar langit biru menciptakan perasaan rileks tersendiri.

Pantai Balekambang

Ada ibuk-ibuk baik hati yang menawarkan diri untuk motoin kami 🙂

Ke Pantai Balekambang, tak lain karena penasaran dengan puranya. Kalau di Bali ada Tanah Lot, maka di Malang ada Balekambang, kira-kira begitulah perbandingannya. Kalau di sebagian besar pantai tiket masuknya Rp10 ribu, tiket masuk Balekambang lebih mahal Rp5 ribu, yaitu Rp15 ribu.

Begitu sampai di Pantai Balekambang, kami disambut dengan debu. Horizon laut tidak tampak jernih karena debu yang begitu pekat. Memang beberapa hari belakangan saat itu, angin dan debu bertebangan lebih kuat dari biasanya. Di Balekambang, kami hanya melintasi jembatan dan mampir ke area pura sebentar.

Pura di Balekambang.
Ada yang perlu diperhatikan, ya.

Sore harinya, kami langsung kembali ke Malang Kota. Selama di pantai, saya tak menceburkan diri sama sekali ke air laut. Malas jika harus repot-repot mandi atau ganti baju lagi. Akhirnya, saat pulang waktu itu badan terasa amat sangat lengket karena keringat.

Masih banyak pantai yang bisa dijelajahi dan dieksplorasi di Malang Selatan ini. Paling enak memang menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju ke sana. Bisa ditempuh dengan sepeda motor juga karena jalannya sudah cukup mulus. Namun, kalau tidak mau capek di jalan, paling pas memang sewa mobil dan menggunakan jasa sopir.