cr: unsplash.com/@emmamatthews

Lagi berusaha mengurangi aktivitas di media sosial, tapi rasanya susah sekali. Entah kenapa beberapa waktu belakangan ingin menjauh sejenak dari aktivitas scrolling linimasa media sosial. Sayangnya, kegiatan ini seperti sudah jadi bagian dari rutinitas sehingga untuk menghentikannya langsung tidaklah mudah. Saya pun mencoba mengambil langkah yang termudah dulu. Menonaktifkan notifikasi media sosial.

Apakah menonaktifkan notifikasi ini berhasil mengurangi penggunaan media sosial? Hm, sebenarnya kalau mau langsung “total”, sekalian saja menghapus aplikasinya dari ponsel. Namun, saya belum sanggup melakukannya karena masih ada kebutuhan untuk sesekali mengintip media sosial. Setidaknya dengan tidak mendapat notifikasi, saya bisa lebih mudah mengontrol diri.

Setiap kali ada muncul notifikasi, ada semacam perasaan keharusan untuk segera mengecek dan membukanya. Entah notifikasi berita yang lagi trending, teman yang baru saja mengunggah story baru setelah sekian lama tidak aktif, hingga sorotan atas isu atau perdebatan yang sedang panas. Kalau mendapat notifikasi baru, kadang nggak tahan untuk langsung membukanya.

Everyone’s like sheep on social media; like, one person starts making noise, and everyone’s like, ‘Hey, yeah!’ and then you got a whole bunch of people making noise at you.

EARL SWEATSHIRT

Setiap kali membuka media sosial, rasanya seperti digempur banyak suara. Dipapar berbagai isu dan perdebatan terpanas hingga unggahan foto baru dengan berbagai komentar yang menyertainya kadang bikin pusing sendiri. Memang ada banyak hal positif yang bisa didapat di media sosial. Cuma saat ini sepertinya sedang dalam tahap butuh menjaga jarak sejenak dari keriuhan itu.

Sungguh tak menyenangkan ketika perasaan iri atau cemburu muncul hanya karena melihat sebuah foto. Oke, mungkin hal ini masih kekanak-kanakkan. Ya, saya paham betul bahwa membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain itu kurang baik. Masalahnya setiap kali buka media sosial, ada situasi atau kondisi yang tak bisa terelakkan. Ibarat sudah tahu di luar sedang hujan, tapi kita tetap nekat keluar rumah tanpa membawa payung atau mantel. Ujung-ujungnya ya kehujanan dan basah semua.

I myself get nervous when I write something on social media. I make sure I don’t write anything wrong.

disha patani

Menyenangkan memang bisa meluapkan segala sesuatu melalui media sosial. Melaporkan dan memamerkan hal-hal terkecil pun jadi semacam kebahagiaan tersendiri. Saya pun kadang tak bisa menahan diri untuk mengunggah hal-hal yang sebenarnya nggak penting. Namun, setelah itu jadi dilanda rasa cemas. Kira-kira siapa ya yang baca status saya? Siapa yang meninggalkan komentar? Siapa yang sudah baca tapi dengan sengaja tak berkomentar? Ada yang tersinggung nggak ya dari yang saya tulis? Atau bahkan apakah orang yang saya sindir bisa merasakan sindirian itu? Hehe, makin nggak karuan kan jadinya.

Mungkin saat ini memang saya butuh mengambil jeda terlebih dahulu dari aktivitas di media sosial. Walau masih susah untuk menahan diri, tapi saya akan coba untuk mencoba menata kembali prioritas utama dalam hidup sebelum tenggelam atau terlalu berlarut-larut dalam keriuhan media sosial yang masih belum penting untuk saya.

The hardest part of living without social media was remembering that my little life was enough, so I could just stay there and live it without asking for anyone else’s permission or validation. I realized that for me, posting is like asking the world, ‘Do you ‘like’ me?’

Glennon Doyle Melton

Untuk sementara ini, saya akan coba untuk menata kembali prioritas hidup. Mungkin suatu waktu nanti saya akan lebih aktif menggunakan media sosial untuk hal-hal yang lebih baik. Entah untuk kembali menyambung komunikasi dengan teman-teman dekat, mengunggah karya, atau memperluas jejaring untuk urusan pekerjaan. Namun, untuk saat ini saya akan menonaktifkan dulu notifikasi media sosial di ponsel.