Skip to content

Merawat Hari

cr: pexels.com/@cottonbro

“Hidup ini mempunyai irama yang janggal. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk bisa menyadari hal ini. Sekian dekade. Bahkan berabad-abad. Irama yang tidak mudah. Bagaimanapun, irama itu tetap ada. Kecepatannya berubah dan turun-naik. Di dalam struktur ada struktur, dan di dalam pola tersimpan pola. Sungguh mengagumkan.”

(How to Stop Time, hlm. 316)

Beberapa hari lalu saya membaca novel How to Stop Time. Sejak membaca karya Matt Haig yang berjudul Reasons to Stay Alive, tiap kali ia menerbitkan buku baru dan sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia, saya langsung berusaha untuk mencarinya. Sebagai penyintas bunuh diri, ia pun menulis buku (nonfiksi dan fiksi) yang temanya tak jauh-jauh dari soal kehidupan dan makna hidup. Tema yang ia angkat ini pun selalu menarik untuk diikuti.

How to Stop Time menceritakan tentang kisah seorang pria bernama Tom. Ia tampak seperti pria berusia 41 tahun tapi sebenarnya usianya sudah lebih dari 400 tahun. Anageria, itulah kondisi yang diidap Tom. Sel-sel tubuhnya berbeda dari sel-sel tubuh orang kebanyakan. Sel tubuhnya mengalami proses penuaan yang sangat lambat. Ia bahkan bisa saja hidup hingga ribuan tahun.

Memiliki kesempatan menjalani hidup lebih lama bukan jaminan akan mendapat hari yang senantiasa diwarnai kebahagiaan. Bahkan tetap saja, selama apa pun waktu yang kita punya, hidup akan selalu menghadirkan kejutan. Baik kejutan menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Rasanya sulit untuk bisa selalu menjadi yang paling ahli mengatasi setiap persoalan dan permasalahan hidup setiap waktunya.

Sungguhlah tidak terasa tahun 2021 sebentar lagi akan berakhir. Seperempat kedipan lagi sudah akan berganti tahun. Sungguh ini waktu kok berlalu semakin cepat saja.

Keseharian selama setahun belakangan masih tetap berpusat di rumah saja. Bekerja dari rumah dan menghabiskan cuti juga di rumah saja. Situasi pandemi masih bikin cemas dan was-was. Belum bisa merasa tenang untuk keluar rumah. Bahkan tiap kali pergi ke minimarket, kadang masih deg-degan rasanya.

Hari-hari yang berjalan biasa saja… Justru itu hari-hari yang perlu semakin banyak disyukuri.

cr: pexels.com/@nida-5079840

“Kau tidak bisa memilih hendak lahir di mana. Kau tidak bisa memilih siapa saja yang takkan meninggalkanmu. Kau tidak punya banyak pilihan. Hidup mengalami pasang-surut yang tidak bisa diubah, sama seperti sejarah. Bagaimanapun, masih ada tempat di dalamnya untuk menentukan pilihan. Untuk membuat keputusan.

(How to Stop Time)

Tak banyak orang yang saya temui dalam keseharian ini. Meskipun begitu, masih bisa bertemu ibuk bapak di rumah adalah sebuah kemewahan tersendiri. Bisa sesekali mengobrol dengan teman dan sahabat juga sebuah anugerah. Masih bisa bekerja dengan rekan-rekan yang sudah seperti saudara sendiri pun adalah sesuatu yang tak bisa dinilai dengan uang. Masih bisa mengetahui kabar orang-orang yang pernah saya kenal atau pernah mengenal saya pun tetap perlu disyukuri.

Mungkin belum banyak perubahan yang lebih baik pada hari-hari belakangan ini. Namun, bisa bertahan dan mampu sampai ke titik ini… sudah lebih dari cukup.

Hari-hari yang dilalui mungkin monoton (dan mungkin ini juga yang menyebabkan waktu terasa berlalu sangat cepat), tapi masih bisa bekerja dan tidak pernah kelaparan perlu lebih sering disyukuri. Harapan dan ekspektasi mungkin masih banyak yang belum jadi kenyataan, tapi masih bisa tetap melangkah ke depan dan menjalani hari dengan mendapat tidur yang cukup tetap perlu disyukuri juga.

Orang-orang di sekitar kita mungkin berubah. Situasi dan keadaan di luar sana tak lagi sama. Emosi dan perasaan yang hadir juga naik turun.

I just need to let it go, waitin’ on a miracle
Guess that’s just the way it goes, easy come, easy go
I just need to let it go, turn it down and lay low
It’s just the way it goes, easy come, easy go

(Imagine Dragons, Easy Come Easy Go)

Ada hari-hari yang berjalan dengan cara yang “aneh”. Pernah dalam satu waktu rasanya banyak hal yang saya lakukan justru malah memperburuk keadaan. Niatnya mau membersihkan kulkas, tapi ketika kulkas sudah bersih dan sedang menatanya kembali, eh malah menumpahkan kuah rujak di dalamnya, jadilah kerja dua kali untuk membersihkannya. Saat badan rasanya capek semua, dan mencoba untuk memperpanjang jam tidur, yang terjadinya malah pusing nggak karuan. Ketika ada teman yang curhat dan saya mencoba untuk memberinya saran/masukan, lalu saya yang disudutkan itu malah bikin mood sendiri hancur. Ketika ada kerabat yang menginap di rumah dan mencoba untuk membelikan makanan yang enak, eh malah ada pesanan yang tak sesuai harapan.

Pernah juga menghadapi hari-hari yang rasanya nggak bersemangat untuk melakukan apa pun. Bahkan hiburan dan aktivitas yang tadinya sangat disukai terasa menjemukan. Mungkin bosan? Kalau sudah begini, yang biasanya dilakukan adalah menjadwalkan hari untuk melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Memanjakan diri? Hm, entah ya. Pokoknya makan makanan yang disuka. Tidur sebanyak yang dimau. Membatasi diri untuk mengamibil jeda sejenak dengan media sosial selama beberapa waktu. Membatasi komunikasi yang dirasa tidak terlalu penting. Bisa juga sekadar menghabiskan waktu bengong sambil maraton serial drama (lah? bengong sambil nonton? hehe).

Sebenarnya rindu untuk bepergian. Ingin sekali kembali merasakan perasaan deg-degan sekaligus tak sabar untuk menjelajahi tempat baru.

cr: pexels.com/@punchbrandstock

Now I’m lying in my bed
End of a long day
Headed the wrong way down that highway of dreams
When you’re a little unsure of what you’re headed for
The end of the road ain’t as close as it seems

Til The Right One Comes Lyrics – John Mayer

Merawat hari-hari yang dilalui, masing-masing dari kita pasti punya cara sendiri. Ada yang mungkin lebih memilih untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ada yang memilih untuk mencari dan menekuni hobi baru, atau ada yang kembali melakukan hobi lama yang sudah lama tak pernah dicoba lagi. Ada yang meluangkan waktu untuk saling curhat meski hanya melalui pesan teks atau panggilan telepon. Semua hal kita lakukan sebisa mungkin untuk bisa tetap menjaga kewarasan selama menjalani hari-hari yang tak selalu mudah ini.

Hari-hari yang biasa saja… Hari-hari yang justru perlu lebih banyak disyukuri.

Kita pun masih sering dihantui dengan overthinking. Masih sering mengkhawatirkan atau mencemaskan hal-hal yang di luar kontrol atau kendali kita. Bahkan masih sering memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu kita pikirkan. Hari-hari yang sebenarnya biasa-biasa saja malah terasa penuh beban dan tekanan. Well, take a deep breath. Kalau lagi banyak pikiran yang nggak jelas, kadang kita perlu untuk kembali mengatur napas. Kembali merasakan napas kita sendiri. Perlahan-lahan mengingatkan diri sendiri bahwa this too shall pass.

Masih ada rencana-rencana yang ingin terlaksana. Masih ada harapan dan keinginan untuk jadi kenyataan. Masih ada perubahan-perubahan yang dinantikan. Hari-hari yang dilalui masih akan memberi secercah asa.

Kita tak bisa menghentikan waktu. Tak bisa kembali ke masa lalu, pun tak bisa mengintip cerita di masa depan. Yang ada saat ini adalah hari ini. Hari-hari yang masih bisa kita lalui itulah yang kita miliki saat ini. Masih dipinjami kehidupan… ini sudah lebih dari cukup untuk membuat kita senantiasa tergerak melakukan hal-hal yang masih bisa kita lakukan.

Published inJOURNAL

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *