cr: pexels.com/@fotografierende

Cukupkanlah
Ikatanmu
Relakanlah yang tak seharusnya untukmu

Yang sebaiknya kau jaga
Adalah
Dirimu sendiri

sulung, kunto aji

Untuk bisa merasa cukup, butuh latihan sendiri. Beberapa waktu belakangan kadang saya merasa tertekan sendiri ketika terlalu berambisi menginginkan sesuatu yang tidak realistis. Menginginkan mendapat lebih banyak proyek baru padahal tubuh dan pikiran sebenarnya sedang butuh istirahat. Ingin mendapat lebih banyak penghasilan tapi sebenarnya yang sedang dibutuhkan adalah sedikit jeda untuk liburan. Selalu ingin mendapatkan sesuatu yang lebih. Lebih banyak, lebih berlimpah, dan lebih hebat dari orang lain.

Rasanya tak pernah puas melakukan sesuatu. Selalu merasa ada yang hal yang lebih tinggi yang harus dicapai. Terlebih ketika mulai sawang sinawang atau membandingkan diri sendiri dengan orang lain, wah tak habis-habisnya kita selalu merasa kurang. Kita selalu tampak kurang jika dibandingkan orang lain. Meski mungkin apa yang kita dapat sebenarnya sudah cukup, rasanya selalu saja kurang jika melihat ada orang lain yang tampak memiliki sesuatu yang sedikit lebih.

“That same night, I wrote my first short story. It took me thirty minutes. It was a dark little tale about a man who found a magic cup and learned that if he wept into the cup, his tears turned into pearls. But even though he had always been poor, he was a happy man and rarely shed a tear. So he found ways to make himself sad so that his tears could make him rich. As the pearls piled up, so did his greed grow. The story ended with the man sitting on a mountain of pearls, knife in hand, weeping helplessly into the cup with his beloved wife’s slain body in his arms.”

Khaled Hosseini, The Kite Runner
cr: pexels.com/@alena-shekhovtcova-827912

Seberapa banyak hal yang kita butuhkan untuk merasa cukup? Berapa banyak uang yang kita perlukan untuk merasa tenang? Mungkin, ya mungkin saja kita akan benar-benar merasa cukup saat berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Menikmati yang ada. Mensyukuri semua yang sudah diterima. Lalu, lanjut mengambil langkah-langkah baru untuk melaju ke depan.

Ada sebuah momen yang baru-baru ini begitu membekas dalam benak. Sore itu ketika baru duduk di kursi 2E (di tengah) untuk penerbangan menuju Surabaya, pramugara yang bertugas menawarkan saya untuk pindah ke kursi 2A (dekat jendela). Saat itu ada pasangan ibu dan anak yang kursinya terpisah (2A dan 2D). Maka, supaya ibu dan anak itu bisa tetap berdekatan, kursi 2A mereka ditukarkan dengan 2E saya. Saya pun dengan senang hati mengiyakan karena sebenarnya saya kurang nyaman mendapat kursi di tengah.

Saat itu tubuh rasanya sudah sangat lelah. Namun, saya begitu menikmati perjalanan pulang waktu itu. Melihat daratan, laut, semarak awan, hingga kerlip lampu yang menghampar. Begitu menenangkan bisa menikmati itu seorang diri. Di situ rasanya saya menemukan momen bisa merasakan kenyamanan hadirnya perasaan cukup. Bisa berlibur sejenak setelah melewati minggu-minggu panjang penuh pekerjaan dan tenggat menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Hari-hari yang berat dan melelahkan seolah bisa termaafkan. Walau saya menyadari bahwa ke depannya mungkin akan ada hari-hari yang lebih berat untuk dilalui, pada momen itu saya mencoba untuk membiarkan perasaan hangat mengalir. Walau hanya sebentar, saya ingin bisa menikmati kehadiran perasaan cukup tersebut.

“Learn from yesterday, live for today, look to tomorrow, rest this afternoon.”

 Charles M. Schulz, Charlie Brown’s Little Book of Wisdom

Semoga kita selalu diberi kecukupan setiap waktu. Saat ingin punya rumah, diberi rezeki cukup untuk beli. Saat merencanakan pernikahan, diberi rezeki yang cukup untuk syukuran. Saat butuh ini dan itu, diberi rezeki yang cukup dari berbagai pintu. Mensyukuri yang ada untuk mendapat berkah yang semoga semakin berlimpah.