cr: /unsplash.com/@dawidliberadzki

Akhir pekan kali ini bisa bernapas sedikit lega. Setelah sekitar 1,5 bulan ini berlompatan dari satu deadline ke deadline lainnya, hari ini bisa sedikit merilekskan tubuh dan pikiran. Kemampuan mengatur waktu dengan baik memang sangat penting untuk bisa memenuhi setiap deadline pekerjaan, Apalagi bila masih ada kesibukan dengan pekerjaan kantor, mampu mengatur waktu sebaik dan sebijak mungkin benar-benar diperlukan. Yang tak kalah penting adalah menjaga ritme kerja. Soalnya, kalau ritme kerja berantakan, wah rasanya susah untuk menjaga kewarasan diri.

Proyek pekerjaan yang baru saya selesaikan sebenarnya tidak terlalu berat. Malah sebenarnya sangat seru dan menyenangkan. Setelah sebelumnya menerjemahkan film horor, saya mendapat pekerjaan menerjemahkan separuh bagian dari sebuah drama seri Korea. Drama yang masuk dalam salah satu favorit saya dan pernah saya tonton waktu dulu pertama kali tayang. Begitu tahu dapat tugas ini, rasanya nggak sabar untuk bisa mengerjakannya.

Hambatannya waktu mengerjakan proyek tersebut adalah waktu dan energi tubuh. Pagi sampai sore masih harus ngantor, praktis untuk bisa mengerjakannya adalah pada malam hari. Tapi ketika energi sudah terkuras habis dan kecapekan, mengerjakannya jadi terasa kurang maksimal. Setiap akhir pekan pun saya gunakan untuk fokus mengerjakan terjemahannya. Setiap kali selesai menerjemahkan satu episode, saya cek lagi dan lagi. Setidaknya harus bisa memastikan tubuh dan pikiran dalam keadaan masih fit setiap kali mengedit dan mengecek keselarasan penerjemahannya. Menerjemahkan sesuatu selalu menguras pikiran. Setiap kali menerjemahkan sesuatu, otak ini kadang rasanya berasap, hehe. Tapi ada kepuasan sendiri tiap kali merasa berhasil menerjemahkan sesuatu dengan semaksimal mungkin. Tidak mudah tapi tantangannya seru.

Sempat juga bahu kanan kembali terasa sakit. Karena kebanyakan mengetik, terlalu lama di depan monitor komputer dan laptop, dan kurang olahraga, otot-otot tangan dan bahu sempat sakit sekali. Bukan sekadar nyeri, tapi benar-benar sakit. Leher dan bahu sebelah kanan sempat susah sekali untuk digerakkan. Biasanya saya menggunakan Counterpain untuk mengatasi nyeri otot karena kelelahan. Tapi kalau nyerinya sudah sampai tahap sakit yang banget-banget, saya pakai Voltaren. Koyo panas pun jadi penyelamat tersendiri untuk punggung yang nyeri. Kalau sedang banyak deadline, ketiganya jadi teman penyelamat yang paling setia, haha. Ya, bagaimana lagi, agar ritme kerja tetap terjaga dengan baik, otot-otot tubuh harus bisa diajak kerja sama meski dipaksa kerja rodi juga, sih.

Rupa-rupa di tengah deruan deadline 😀

Buku catatan atau yang lebih tepatnya disebut sebagai buku penuh coretan wajib ada di meja dekat laptop setiap kali bekerja. Karena kemampuan untuk mengingat sesuatu kadang terbatas akibat pikiran yang penuh dan stres, menulis dan membuat catatan untuk hal-hal penting perlu dilakukan supaya ritme kerja terjaga.

Biar nggak gampang ngantuk, minum kopi pun perlu dilakukan. Saya sendiri berusaha agar nggak terlalu ketergantungan pada kopi. Maksimal minum kopi cukup segelas saja sehari. Tapi kalau dirasa masih kuat nahan ngantuk, ya nggak perlu ngopi.

Adakalanya pikiran sangat jenuh dan buthek banget rasanya. Kalau sudah begini, perlu cari variasi lain. Saya biasanya mengalihkan pikiran sejenak dengan menonton variety show, nonton film, atau bahkan bikin kue donat. Hehe, di tengah kesibukan pekerjaan yang harus segera diselesaikan, saya pun sempat-sempatnya bikin donat. Meski hasilnya agak bantat, tapi nggak apa-apa tetap enak dibuat camilan sendiri.

Semaksimal mungkin nggak begadang. Tapi justru ini yang susah untuk dikondisikan. Pernah suatu hari tubuh sudah capek dan butuh istirahat. Tapi karena masih ada pekerjaan yang belum kelar, akhirnya kembali duduk manis di depan laptop. Saking tenggelamnya dalam pekerjaan yang sedang dilakukan, sampai “nggak sadar” waktu sudah makin larut. Akhirnya bablas sampai lewat tengah malam. Sebenarnya waktu sedang bekerja, nggak begitu kerasa capeknya. Tapi efeknya terasa keesokan paginya. Badan rasanya remuk redam dan otak rasanya “berkabut”. Di sini, pentingnya mengondisikan waktu seefisien mungkin biar kondisi badan nggak sampai ambruk.

Biar lebih semangat mengejar deadline, saya menyiapkan hadiah untuk diri sendiri. Bukan hadiah yang gimana-gimana, sih. Cuma satu cup es krim saja. Jadi, saya sengaja beli lalu disimpan di dalam kulkas. Es krim itu baru boleh dimakan kalau pekerjaan sudah beres semua. Nggak istimewa tapi setidaknya bisa bikin mood terjaga hingga garish finish saja.

Menjaga mood di tengah deruan deadline juga bukan hal mudah. Gampang marah dan uring-uringan sudah menjadi efek samping dari situasi itu. Makanya sebisa mungkin saya menghindari aneka drama kehidupan kalau sudah dapat pekerjaan berdeadline. Soalnya satu masalah kecil bisa membuat suasana hati berantakan dan berakibat pada hasil pekerjaan yang kurang maksimal.

Ke depannya semoga bisa lebih mengondisikan kesibukan dan semua hal yang berkait dengan pekerjaan. Bila saatnya tiba, mungkin saya perlu fokus pada satu bidang pekerjaan saja biar tidak kebingungan saat harus juggling antara satu hal dengan hal lainnya. Mungkin perlu meninggalkan satu hal supaya lebih maksimal di hal lainnya. Untuk saat ini, masih berupaya semaksimal mungkin menjaga kesehatan tubuh dan pikiran biar lebih bahagia.