cr: pexels.com/@tamba09

Ada hari-hari di mana rasanya malas untuk melakukan apa pun. Bahkan aktivitas yang tadinya menyenangkan jadi terasa membosankan. Seharian hanya ingin bermalas-malasan. Pokoknya istirahat penuh dengan tidak melakukan apa-apa. Namun, saat sedang ada tenggat pekerjaan yang harus dipenuhi, tentu saja tak bisa cuma golar-goler begitu saja. Mood harus benar-benar bisa dikondisikan biar tidak berujung ngamuk-ngamuk sendiri, hehe.

Tiap orang jelas punya caranya sendiri dalam bekerja. Masing-masing punya cara sendiri untuk menjaga produktivitas kerja tetap terjaga. Ketika ada tenggat pekerjaan baru yang harus dipenuhi di tengah rutinitas masih harus ngantor, mau tak mau saya harus memaksakan diri untuk bisa lebih disiplin dalam mengatur waktu. Meski kadang jadwal kerja yang dibuat nggak selalu bisa terpenuhi dengan baik, sih.

Membuat Catatan

Saya punya satu buku khusus tempat menuliskan berbagai coretan untuk setiap proyek penerjemahan. Setiap kali mendapat tenggat baru, langsung saya catat. Terkadang saya buat juga rincian soal mulai kapan pekerjaan harus dicicil supaya tenggat terpenuhi dengan baik. Mudah untuk membuat jadwal, tapi tak selalu mudah untuk bisa memenuhi setiap “janji yang dibuat untuk diri sendiri”.

Harus Mendapat Tidur Berkualitas

Ini yang masih cukup sulit untuk didapatkan setiap hari. Ketika rutinitas ngantor bersatu padu dengan kejaran tenggat pekerjaan lain, wah rasanya susah untuk menghindari keharusan untuk melembur. Akibatnya, tidur sering kemalaman dan efeknya sungguhlah tidak baik untuk keesokan harinya. Bahkan pernah saking “terhanyutnya” mengerjakan sebuah pekerjaan pada malam, jadi bablas lewat tengah malam. Tidur cuma sebentar, lalu keesokan harinya masih harus ngantor pagi. Efeknya, mood benar-benar berantakan. Tubuh dan pikiran seperti berada di dua dimensi berbeda. Jika sudah begini, rasanya tidak punya tenaga untuk sekadar tersenyum, heu. Mendapat tidur berkualitas ini sangatlah penting buat saya, meski sampai sekarang masih amatlah sulit mendapatkannya.

Mengondisikan Lingkungan Kerja yang Nyaman

Kalau di kantor, mungkin masih bisa dikondisikan sebab terpengaruh dengan atmosfer kudu kerja. Kalau di rumah, hm… sebenarnya lebih nyaman kerja di rumah. Namun, untuk kondisi saya sekarang rasanya kerja di rumah malah tambah stres. Ketika para tetangga berisik mulai memasang musik keras-keras, menggosip keras-keras, dan bikin gaduh, duh rasanya sulit untuk bisa berkonsentrasi bekerja di rumah. Malam hari atau tengah malam bisa cukup ideal untuk bekerja karena lebih tenang, tapi akibatnya saya tidur kemalaman dan mungkin “butuh waktu” untuk bangun lebih siang. Tapi ketika subuh-subuh sudah ada tetangga yang berisik dan memasang musik keras-keras, bangun tidur benar-benar bikin pusing. Stres pun berlipat. Mood bisa berantakan tak karuan.

Menghindari Hal-Hal yang Buang-Buang Waktu

Membatasi diri dari mengakses media sosial. Berhenti mengikuti berita-berita yang nggak penting. Bahkan membatasi interaksi yang terlalu menguras energi. Sejumlah hal yang buang-buang waktu harus benar-benar dibatasi atau dihindari. Bahkan saya bisa semakin amat sangat menghemat waktu untuk berbicara demi menjaga pasokan energi tubuh biar tak “cepat habis”. Saya jadi sangat malas untuk ngobrol. Basa-basi pun ogah. Saat masih harus juggling antara pekerjaan kantor dan pekerjaan sampingan-yang-lebih-menantang, saya berusaha sebisa mungkin untuk mendahulukan prioritas yang lebih penting.

Makan Es Krim, Ngemil, dan Nonton Film

Saat pikiran sudah amat jenuh, penting untuk melakukan sesuatu sebagai “pelarian”. Makanan bisa jadi “pelarian” sejenak. Pernah, karena merasa burnout, saya makan mi instan super pedas. Efeknya terjadi keesokan harinya, perut sakit tak karuan. Duh, sudah tahu punya perut sensitif, masih saja bandel. Makan es krim, menyiapkan camilan enak, dan sesekali meluangkan waktu untuk nonton film atau nonton acara ragam (variety show) Korea bisa jadi selingan untuk menjaga kestabilan mood. Karena sebagian besar teman dekat sudah punya kesibukan masing-masing, seringkali agak sulit untuk menjadwalkan acara hangout demi melepas stres. Sehingga, cara terinstan untuk mengembalikan mood ya dengan sesuatu yang lebih mudah terjangkau.

Saya merasa kondisi paling ideal untuk menjaga mood dan produktivitas kerja adalah dengan tidak berlebihan dalam bekerja. Jam kerja tak lebih dari 12 jam sehari. Tidur cukup. Masih bisa senang-senang dengan cukup. Jangan lagi kerja-di-kantor-pulang-kerja-lagi-di-rumah. Akhir pekan semestinya digunakan untuk istirahat atau liburan, bukannya melembur pekerjaan meski kadang bekerja bisa jadi pelarian tersendiri dari rasa galau, ha!

cr: pexels.com/@prateekkatyal

“I don’t like work–no man does–but I like what is in the work–the chance to find yourself. Your own reality–for yourself not for others–what no other man can ever know. They can only see the mere show, and never can tell what it really means.”

Joseph Conrad, Heart of Darkness

Masih ada target besar yang masih diperjuangkan. Untuk mencapainya memang mungkin tak semudah membalikkan telapak tangan. Saat ini, masih berusaha mencoba melakukan yang terbaik dan terus berdoa semoga selalu diberi kesehatan, lebih banyak kesempatan, dan rezeki yang berkah. Bekerja memang capek. Bikin stres dan tertekan. Namun, jika ini adalah cara untuk membuat hidup lebih bermanfaat, mengapa tidak disyukuri? Ehm, ini sih saya menasihati diri sendiri yang kadang masih sering nggak bersyukur dengan setiap kesempatan yang ada.

Jadi, kira-kira apa cara terbaik untuk menjaga mood kerja supaya tetap produktif bekerja dan tak berujung cakar-cakaran atau bikin segalanya makain berantakan? Ada tips sendiri?