endawia.com

Passionately in Love with Magical Words

Menjadi Penerjemah Sulih Teks alias Subtitler, Apa Suka Dukanya?

cr: unsplash.com/@catherineheath

Bagaimana cara menjadi penerjemah sulih teks alias subtitler? Ada banyak caranya, tapi bukan itu yang akan saya bahas di sini, hehe. Saya hanya mau berbagai sedikit pengalaman menekuni pekerjaan sebagai penerjemah sulih teks. Suka dukanya. Enak nggak enaknya. Sedih bahagianya. Serta, kesan pribadi melakoni pekerjaan ini.

Pengalaman ini pastinya berbeda dengan pengalaman yang didapatkan oleh penerjemah lain, terlebih yang sudah bertahun-tahun menekuninya. Saya hanya merangkum saja sejumlah pengalaman pribadi terkait pekerjaan yang seru ini. Mulai dari yang agak sedihnya dulu saja kali, ya.

1. Membuat Otak “Berkabut”

Pekerjaan menerjemahkan ini ibarat menyelam ke samudera luas. Agak lebay? Tak apa, hehe. Membuat padanan yang tepat untuk sebuah kalimat bisa cukup rumit. Untuk bisa menerjemahkan satu kata, kadang harus menemukan satu kata yang benar-benar pas dari berbagai kata yang memiliki arti sama. Seperti demi mendapatkan tangkapan yang tepat, harus menyelam cukup jauh.

Pada awal saya mencoba pekerjaan ini, saya butuh waktu satu jam untuk menerjemahkan teks berdurasi satu menit. Saat itu langsung panik, kalau untuk satu menit butuh waktu satu jam, maka untuk film berdurasi 60 menit bakal butuh waktu 60 jam? Saat itu karena masih baru, memang masih belum mendapat ritmenya. Lama kelamaan, setelah agak terbiasa sudah jauh lebih cepat dari itu. Bahkan pernah dalam satu hari bisa menyelesaikan satu episode berdurasi lebih dari 60 menit.

2. Harus Mematuhi Aturan Shot Change dan Reading Speed

Sering terjadi, sudah menemukan kalimat terjemahan yang pas untuk sebuah teks, tapi ternyata jumlah hurufnya kebanyakan. Melanggar aturan soal shot change dan reading speed. Jika hal ini terjadi, maka harus bisa memutar otak untuk membuat parafrase yang tepat. Mengotak-atik sebuah kalimat bisa butuh waktu bermenit-menit bahkan sampai terus kepikiran seharian, hehe.

Dalam menerjemahkan subtitle, kita memang tak bisa sekadar menerjemahkan kalimat dengan padanan yang tepat. Namun, juga harus mengatur frame demi frame. Harus bisa “memotong” kalimat dengan tepat sesuai dengan visual dan pergantian adegan dalam tayangan. Harus bisa meracik kata-kata yang bisa menyatu dengan cerita dan narasi yang disampaikan.

3. Kudu Fokus, Fokus, dan Fokus!

Pakai headphone, duduk di depan laptop, tangan mengetik sana-sini, dan berlangsung selama berjam-jam. Kudu benar-benar fokus dan teliti. Setelah selesai mengerjakan satu episode, harus dicek lagi dan lagi memastikan tidak ada kesalahan. Agak menantang juga, apalagi kalau yang diterjemahkan adalah film horor, kudu mengumpulkan nyali untuk menontonnya lebih dari satu kali.

Menurut saya, kondisi paling ideal untuk bisa menerjemahkan subtitle dengan lebih baik adalah kondisi tubuh harus benar-benar fit. Tidak sedang mengantuk atau terlalu capek. Di ruangan yang tenang. Tidak diganggu orang lain. Tidak disibukkan dengan bolak-balik mengintip lini masa media sosial. Perut dalam kondisi cukup kenyang. Serta dengan mood yang stabil. Semoga suatu waktu nanti saya bisa bekerja dengan kondisi ideal seperti itu.

cr: pixabay.com/users/Rodeen_M-8943135/

4. Bisa Sekaligus Menyalurkan Hobi

Jujur saja dulu saat masih agak muda, saya bisa maraton nonton drama Korea dari sore sampai subuh. Dalam keadaan mengantuk pun, bisa bertahan nonton sebuah drama dari episode awal hingga akhir. Tapi itu dulu. Eh, tapi sekarang masih sering juga nonton film, drama, dan acara ragam (variety show) sampai malam meski tidak seekstrem dulu lagi.

Menjadi penerjemah sulih teks, saya berkesempatan menikmati sejumlah tayangan yang seru. Hitung-hitung, bisa menyalurkan hobi nonton sekaligus dibayar. Sekali dayung, dua pulau terlampaui begitulah kira-kira. Bagi yang hobi nonton film atau drama berbahasa asing, pasti tahu betul rasanya ketika mendapati ceritanya bagus tapi subtitle-nya jelek, bikin ngamuk, ya kan? Sebagai penikmat acara berbahasa asing, saya tahu betul pentingnya subtitle yang baik. Sehingga saat mengerjakan penerjemahan sulih teks, saya pun mencurahkan sisi perfeksionis dalam diri ini, ha!

5. Menambah Wawasan Baru

Dua bulan lalu, saya mendapat tugas melakukan quality control atau semacam bertugas untuk mengedit sebuah seri dokumenter. Kualitas penerjemahannya yang dikerjakan oleh rekan yang bertugas sebagai penerjemah seri itu sudah cukup bagus. Sehingga, sangat memudahkan saya untuk fokus menyempurnakan penerjemahannya semaksimal mungkin. Yang menyenangkan dari menonton acara dokumenter adalah bisa menambah wawasan baru. Bisa sekaligus belajar hal-hal baru, Sangat menyenangkan.

Hingga saat ini, saya pernah terlibat dalam pengerjaan subtitle drama dan film dari sejumlah genre. Mulai dari komedi romantis, serial remaja, film horor, seri dokumenter, dan detektif. Ada keinginan bisa menerjemahkan film dan drama action, seperti Vagabond dan John Wick, hehe pasti seru. Siapa tahu dalam waktu dekat akan dapat proyek penerjemahan yang lebih menyenangkan.

Menjadi penerjemah sulih teks alias subtitler pun ada sisi sedih dan bahagia sendiri. Sedih saat bahu dan punggung sakit tiada tara karena duduk berjam-jam serta jarang olahraga. Sedih saat dikira nggak bekerja karena “kerjaannya” hanya duduk manis di depan laptop sambil pakai headphone (padahal otak sedang berkecamuk nggak karuan, hehe). Di sisi lain, bahagianya juga ada. Bahagia ketika invoice cair setelah sebuah task selesai dituntaskan.

Setiap pekerjaan pasti ada suka dukanya sendiri. Namun, selama bisa dinikmati dan memberi kepuasan batin, rasanya seberat apa pun sebuah pekerjaan akan dilakoni juga. Terlebih jika bisa menambah penghasilan, wah ini jelas jadi motivasi yang hebat, ya kan?

Previous

Ambisi dan Semesta

Next

Lebah yang Sibuk

2 Comments

  1. Wah, aku nggak tau kalau serumit itu. Tapi aku sering juga nemu subtitle yang langsunng asal auto translate lewat google translate. kadang ancur sih translatannya. kayaknya nggak ada proofreading, hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén