cr: pexels

Sudah sekitar tiga bulan ini saya tinggal di rumah sendiri. Sendiri dalam arti ya sendirian dan dalam arti di rumah yang dibeli pakai nama sendiri. Sebenarnya belum ada rencana dekat menempati rumah ini karena masih banyak hal yang harus dibenahi. Hanya saja karena sebuah keadaan, akhirnya tanggal 1 Maret saya menempati rumah ini. Rumahnya sederhana saja tapi harapannya semoga rezeki dari Allah ini bisa memberi barokah bagi banyak orang. Selama sekitar tiga bulan ini saya kembali belajar untuk mengurus diri sendiri (meski ya nggak sepenuhnya melakukan semua sendiri).

Mengurus diri sendiri memang merepotkan, hehe. Entah kenapa rasanya berbeda saja antara tinggal di kost dan tinggal di rumah sendiri. Dulu saat tinggal di kost (walau nggak lama), setidaknya yang diurus lebih sedikit. Sementara kalau di rumah sendiri walau rumahnya mungil, ada hal-hal yang rasanya lebih banyak untuk diurus. Meski belum punya dapur sendiri, tapi membersihkan rumah setiap hari cukup melelahkan. Menyikat lantai kamar mandi pun perlu rutin setidaknya sekali seminggu. Belum lagi kalau mendadak ada masalah terkait air atau listrik, bingung sendiri sudah. Lalu, kalau ada tamu datang sementara saya sedang ada di kamar mandi, rasanya langsung panik, heu. Pernah suatu pagi, ada kurir datang mengantarkan paket tepat di saat saya sedang di kamar mandi. Mau nggak mau harus buru-buru keluar kamar mandi untuk menerima paketnya. Nggak ada orang lain di rumah, jadi banyak hal harus ditangani sendiri. Oh dan tadi pagi dibuat kaget dengan seekor tikus yang akhirnya kena jebakan. Beberapa waktu lalu sempat melihat ada tikus yang berkeliaran di dekat tempat cuci piring. Lalu, bapak memasang jebakan tikus dan baru tadi pagi akhirnya tikusnya tewas di tempat. Sempat mencium bau bangkai dan ternyata itu bangkai tikus (kayaknya dia tewas semalam), saya langsung begidik sendiri. Langsung nutup hidung serta menahan mual dan segera melepas tikusnya dari jebakan dan memasukkannya ke kantong kresek. Kreseknya langsung pakai dua lapis.

Sebenarnya tinggal di sini nggak seratus persen sendirian. Bapak dan ibuk masih rutin datang (lha wong jarak rumah sekarang dan yang dulu cuma sekitar 1 km saja). Untuk urusan makanan pun saya masih bergantung pada masakan ibu karena di rumah ini belum ada dapur jadi belum bisa memasak sendiri, kecuali masak nasi pakai magic com. Tapi ya tetap saja melakoni rutinitas sendirian kadang masih cukup merepotkan. Nggak ada yang bisa diajak ngobrol atau saling bantu mengerjakan sesuatu di rumah setiap saat.

Lalu muncul pikiran mengurus diri sendiri saja susah, gimana kalau nanti mengurus “orang lain”? Dalam hal ini yang dimaksud adalah suami dan anak-anak. Saya sering menonton YouTube atau acara yang menggambarkan rutinitas orang-orang yang entah karena keadaan atau pilihan menjalani hidup seorang diri. Ada yang memang masih harus hidup sendiri karena situasi yang dihadapinya. Ada juga yang memutuskan untuk terus hidup sendiri demi kebahagiaannya. Ya, tiap orang punya pilihan masing-masing. Hidup sendiri selalu ada tantangan sekaligus keseruannya sendiri. Mengatur banyak hal sendiri jelas menantang. Menghabiskan waktu dengan hal-hal yang disukai sendiri pun seru.

Apakah akan sulit hidup bersama orang lain? Berbeda sih kasusnya kalau hidup dan tinggal bersama orangtua. Karena sejak lahir bersama orangtua, nggak pernah ada pikiran merasa cocok atau tidak cocok tinggal bersama mereka. Sebab itu terjadi secara alami dan begitu saja. Tapi kalau untuk hidup berumah tangga, hm…

Bersama seseorang yang tadinya terasa asing lalu hidup satu atap, apakah situasinya akan aneh? Membayangkan ada orang lain di dalam kamar pun rasanya seperti sesuatu yang canggung sekali. Tapi ya mungkin karena memang belum mengalaminya sendiri. Pastinya bisa diatasi dan dihadapi pada saat sudah waktunya nanti. Untuk sekarang nikmati saja yang ada dulu. Syukuri saja semua yang masih bisa dilakukan dan dijalani.

Sepertinya ini jadi latihan tersendiri. Perlu belajar benar-benar mengurus diri sendiri supaya nanti ketika saat sudah tidak sendiri, tidak menambah kerepotan atau masalah baru. Perlu menguasai kemampuan mengurus diri sendiri dengan lebih baik supaya kalau sudah tak sendiri bisa menjalani hidup yang lebih stabil (?). Pokoknya nggak perlu mengeluh dengan keadaan yang sekarang. Nggak perlu mempermasalahkan situasi dan kondisi yang dihadapi sendiri saat ini. Semua kebutuhan tercukupi, bisa tidur nyenyak, bisa bekerja dengan baik, bisa bebas mengatur waktu melakukan apa saja sendiri, semua itu perlu disyukuri. Hal-hal yang sepintas tampak biasa sebenarnya adalah hal-hal yang istimewa. Allah akan mudahkan semuanya.

Ketika memutuskan untuk membeli rumah, sempat pusing dengan sejumlah pertimbangan. Salah satunya adalah perkara uang. Rasanya tabungannya nggak cukup untuk bisa beli rumah tapi bisa saja cukup untuk alternatif lain, seperti beli tanah atau membangun rumah dari tanah milik bapak. Belum lagi dengan kekhawatiran soal tabungan “masa depan”. Kalau uang tabungan saat ini dipakai untuk beli rumah, bakal nggak ada tabungan untuk menikah meski ya belum ada calonnya, tapi tetap saja kekhawatiran itu ada. Setelah mempertimbangkan ini itu akhirnya memutuskan untuk beli rumah. Alhamdulillah Allah kasih jalan.

Pengalaman pertama beli rumah pun cukup stres, hehe. Karena ini pengalaman “belanja” terbesar yang pernah saya lakukan, rasanya was-was sekali. Bahkan ternyata masih ada banyak hal hingga kerikil-kerikil masalah yang harus dihadapi. Sungguh menguras tenaga. Sebenarnya ada alasan sentimental sendiri soal keputusan beli rumah sendiri meski belum menikah. Ada pengalaman yang cukup tidak mengenakkan pada momen pindah rumah beberapa tahun yang lalu. Melihat sendiri bagaimana perjuangan bapak dan ibu memiliki rumah sendiri membuat hati rasanya tak tega. Setiap kali ingat momen itu, selalu saja sedih. Setidaknya dengan punya satu rumah lagi, ibuk dan bapak bisa kapan saja tinggal di sini. Bahkan mungkin bisa beristirahat lebih baik di lingkungan yang lebih tenang. Jadi, akhir tahun lalu bisa dibilang saya memaksakan diri beli rumah. Semoga rumah ini membawa berkah. Sekarang, tinggal perbanyak doa dan usaha saja untuk menjemput rezeki-rezeki baru dari Allah SWT. Yakin saja Allah akan mudahkan segalanya dan bantu semuanya.

Kembali ke persoalan mengurus diri sendiri. Dengan tinggal sendiri, saya jadi lebih memahami kebutuhan-kebutuhan yang saya perlukan serta hal-hal apa saja yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Sempat ada keinginan untuk mendekorasi kamar atau menghias ini dan itu. Namun, karena masih ada kebutuhan yang lain, akhirnya uangnya ditabung dulu. Sempat ingin mempercantik ini dan itu, tapi ternyata yang saya perlukan hanya sesuatu yang fungsional. Mau beli banyak barang tapi lagi-lagi perlu mengingatkan diri soal anggaran dan kebutuhan. Ternyata dengan memiliki sesuatu yang tampak tak banyak, itu sudah sangat cukup dan memadai.

Mungkin yang perlu saya perbaiki lagi adalah soal membangun rutinitas sehat. Selama 1,5 bulan belum berani berolahraga karena masih harus melatih lutut kanan yang baru dioperasi untuk bisa pulih. Saat itu cuma bisa memperbanyak jalan saja di dalam rumah. Sekarang alhamdulillah lutut sudah bisa ditekuk, tapi memang masih perlu berhati-hati biar nggak cedera lagi. Ada rencana untuk bisa rutin berolahraga tiap pagi. Setidaknya bisa lebih rutin bangun pagi dan membangun kebiasaan sehat. Mengurus diri sendiri tak jauh-jauh dari perkara menjaga kesehatan.

Semoga semua kesempatan yang ada saat ini bisa saya manfaatkan dengan baik. Terus mengingatkan diri untuk selalu bersyukur. Kalaupun mengeluh, setidaknya nggak lama-lama mengeluhnya.