cr: unsplash.com/@clemono2

Dalam sebuah orientasi kegiatan kampus yang dulu pernah saya ikuti, lutut sebelah kanan pernah cedera. Sendi lutut seakan sempat lepas sepersekian detik dan menimbulkan rasa sakit yang amat sangat. Saking sakitnya saat itu air mata menetes. Pulang pun dengan lutut yang kemudian tampak membiru. Sejak saat itu sampai sekarang, kadang lutut kanan tiba-tiba “ngeklik” sendiri dan sakitnya bisa bikin nangis lagi. Ketika terasa sakit lagi, seringkali yang muncul adalah kekhawatiran akan kesulitan berjalan lagi. Bagaimana jika tak bisa berjalan jauh? Bagaimana jika malah akan makin merepotkan orang lain saat harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain?

Kini sudah memasuki tahun 2020. Ah, ya… waktu berlalu semakin cepat. Hari demi hari berlalu tanpa kita sadari. Selama tahun 2019, satu pelajaran penting yang saya pelajari adalah soal kemampuan mengayun langkah. Mencoba untuk mengayun langkah dan tetap berjalan di tengah berbagai pilihan yang kita punya dan hal-hal yang ada di luar kendali kita.

Ada beberapa hal baru yang saya coba di tahun 2019. Langkah kaki saya arahkan ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Saya tarik tubuh ini merasakan pengalaman-pengalaman yang asing. Melihat dan merasakan berbagai hal baru dengan membuat ayunan langkah yang belum pernah diambil sebelumnya.

Tentu saja ada rasa takut. Takut bila akan terluka lagi. Takut bila tiba-tiba cedera yang sama akan muncul kembali. Namun, kaki tetap harus melangkah. Walau pernah mengambil jalan yang salah atau pernah mengalami cedera yang belum sembuh total, setidaknya dengan begitu kita bisa lebih awas dan berhati-hati dalam melangkah.

cr: unsplash.com/@itstamaramenzi

Kita pernah salah langkah. Sulit memang untuk bisa memaafkan diri sendiri atas pilihan di masa lalu yang ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita. Namun, kita masih punya pilihan untuk mengayunkan langkah kaki ke arah baru yang jadi pilihan kita saat ini.

Dari pengalaman lutut kanan yang pernah cedera dan sampai sekarang kadang bisa sakit kembali, saya perlu lebih berhati-hati saat menggerakkannya. Apalagi bila ada rencana untuk melakukan perjalanan jauh, sebisa mungkin saya perlu memastikan lutut saya masih bisa diajak untuk melangkah. Seringkali, karena sebuah pengalaman tak menyenangkan, kita jadi bisa lebih berhati-hati ke depannya.

Ada banyak harapan yang saya gantungkan di tahun 2020. Target-target baru kembali saya pasang untuk diusahakan terwujud tahun ini. Entah apakah semuanya akan terwujud sesuai rencana, tapi yang pasti saya perlu meyakini bahwa segala sesuatunya selalu mengikuti skenario terbaik-Nya. Kita perlu mengusahakan yang terbaik sesuai dengan kemampuan kita. Sisanya biar Pemilik Semesta ini yang memberikan hasil akhirnya.

cr: unsplash.com/@soyalidiaz

Ada saatnya kita perlu beristirahat. Mengistirahatkan diri kita dan berhenti sejenak. Melambatkan langkah lalu berhenti untuk mengambil jeda. Berusaha untuk mengumpulkan energi kembali untuk bisa mengayun langkah dengan lebih baik lagi.

Ada banyak momen yang cukup melelahkan di tahun 2019. Berbagai rasa cemas menghampiri. Bahkan pernah dilanda malam-malam tak bisa memejamkan mata karena pikiran yang terasa begitu penuh. Sadar bahwa tubuh perlu istirahat tapi sulit sekali rasanya untuk menjinakkan isi pikiran. Kadang bila sudah seperti ini diri ini berkata sendiri, “Untuk saat ini istirahat saja dulu, biar besoknya masih ada energi untuk bisa cemas lagi.” Hehe, agak aneh memang tapi kadang itu cukup berhasil.

Ketika ada deadline baru yang harus dipenuhi, kadang rasanya ingin segera menyelesaikannya secepat mungkin. Ingin memfokuskan energi menyelesaikan pekerjaan itu saat itu juga. Padahal itu sebenarnya tidak realistis. Kadang kita memang terlalu keras pada diri sendiri. Memvorsir energi dan pikiran untuk pekerjaan dengan mengabaikan kebutuhan untuk istirahat. Kesehatan tubuh tetaplah jadi prioritas penting.

Ada harapan yang jadi nyata melebihi ekspektasi. Ada langkah-langkah baru yang ternyata membawa saya ke pintu-pintu penuh kejutan. Walau dalam perjalanannya, saya sempat merasa kelelahan dan rasanya ingin menyerah saja, tapi saya berusaha untuk menjaga ritmenya. Yang penting terus berjalan, melangkah perlahan tak apa-apa asalkan tidak menyerah begitu saja di tengah perjalanan.

Namun, ada juga hal-hal yang tak sesuai dengan keinginan. Ada jalan yang belum bisa dijelajahi karena pintunya belum teruka. Ada masa seolah sudah siap untuk membuka pintu itu, tapi ternyata pintu itu masih terlalu berat untuk dibuka. Mungkin saya masih perlu memperkuat langkah kaki, menyiapkan mental untuk lebih tegar lagi, supaya ketika sudah waktunya bisa menapaki jalan itu, saya tidak gampang terjatuh lagi. Semoga melalui kemurahan hati-Nya, pintu-pintu yang sebelumnya tertutup bisa terbuka di tahun yang lebih baik.

cr: unsplash.com/@takahiro

Perjalanan baru masih akan membentang di hadapan kita. Pintu-pintu yang belum terbuka masih menunggu kita untuk menemukan kuncinya. Ayunan langkah kaki kita masih perlu diperkuat untuk bisa membuat setiap perjalanan lebih bermakna.

Saat ternyata arah yang kita ambil salah, kita perlu mengayunkan kaki ke arah yang baru. Saat ternyata kita tersesat karena sebuah langkah yang menuju arah yang kita kira benar, kita mungkin harus kembali ke titik awal. Tak apa. Selama kita masih bisa mengayunkan langkah, jalan-jalan baru masih akan terbuka untuk kita.

Kemungkinan untuk jatuh, cedera, dan terluka kembali saat melangkah jelas masih ada. Bahkan lutut kanan saya masih sering sakit karena cedera yang terjadi lama sekali. Akan tetapi, tetap berjalan dan mengayun langkah adalah hal penting dan perlu untuk terus dilakukan. Tak mungkin hanya bisa berdiam diri sementara hidup terus berputar. Pada tahun yang baru ini, semoga kita bisa menemukan arah yang lebih baik. Bisa membuka pintu-pintu baru dan mengayunkan langkah kita dengan lebih kuat. Dipertemukan dengan yang sudah lama dinanti. Diarahkan ke jalan-jalan yang lebih indah lagi.