cr: unsplash.com/@cbpsc1

Film horor sama sekali bukan film favorit saya. Baik film horor lokal maupun film horor luar, nggak pernah berani nonton sendirian. Nonton The Wailing sama adek, saya berulang tutup mata karena takut. Film horor terakhir yang ditonton, Pengabdi Setan di bioskop pun entah berapa kali tutup mata karena takut juga, hehe. Saya sebenarnya tidak suka dengan sensasi “bikin jantungan” seperti dari adegan-adegan semacam hantu yang mendadak muncul. Belum lagi dengan suara-suara lirih yang bikin bulu kuduk merinding. Wajah-wajah hantu yang mengerikan juga bikin ngeri.

Setelah sekian lama tidak menonton film horor, sekitar dua minggu lalu dapat pekerjaan menerjemahkan subtitle film horor. Wah, tantangan baru nih.

Saya mendapat notifikasi di email bahwa sebuah judul film horor berbahasa Melayu diserahkan pada saya untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Filmnya berbahasa Melayu tapi sudah disertai dengan template bahasa Inggris jadi cukup memudahkan saya untuk menerjemahkannya. Tadinya mau menolak tapi karena sepertinya tidak terlalu sulit, saya kerjakan saja. Syukurlah tenggat waktunya pun cukup lama jadi bisa agak tenang mengerjakannya.

Mengganti “Jam Kerja”

Biasanya saya mengerjakan penerjemahan subtitle pada malam hari. Karena siang sampai sore masih ngantor, jadi untuk menyelesaikan pekerjaan sampingan lebih sering dilakukan pada malam hari. Tapi waktu mengerjakan penerjemahan subtitle film horor, saya mengubah “jam kerja”. Malam hari terlalu takut sendirian menonton filmnya, akhirnya saya mengerjakannya pada pagi hari.

Pagi hari sebelum mandi dan berangkat kerja, saya langsung buka laptop. Mengerjakan bagian awal filmnya cukup deg-degan. Takut kalau tiba-tiba wajah hantunya mendadak muncul di monitor. Tapi ya sedikit demi sedikit, setelah memahami alur ceritanya, proses pengerjaan hingga akhir film cukup lancar.

Hantunya Nggak Cerewet

Salah satu “keuntungan” menerjemahkan film horor sepertinya adalah karena keberadaan hantunya itu sendiri. Hantunya nggak cerewet, jadi nggak terlalu banyak teks yang perlu diterjemahkan. Biasanya memang film horor menciptakan sensasi ngeri dan takut dari permainan visualnya. Meski begitu, mendengarkan teks singkat dari audionya yang diucapkan oleh si hantu dengan nada lirih memanggil-manggil tetap bikin merinding juga.

Karena filmnya berbahasa Melayu, cukup membantu juga mencari padanan dalam bahasa Indonesia yang tepat. Selain terbantu juga dengan template bahasa Inggris yang sudah ada pastinya. Alur ceritanya pun sebenarnya tidak terlalu rumit. Meski begitu, saya perlu beberapa kali mengecek dan memastikan terjemahannya benar. Memastikan tidak ada typo dan teks terjemahannya muncul sesuai dengan timing pada audio dan shot change. Ujung-ujungnya, saya harus menonton filmnya lebih dari satu kali. Baru kali ini nonton film horor yang sama lebih dari satu kali, hehe.

Selesai Lebih Cepat dari Perkiraan

Rasa takut ternyata ada efek positifnya. Karena nggak mau berlama-lama melihat hantu nongol di film, saya berusaha mengerjakan penerjemahan subtitle sesegera mungkin. Nggak mau nunda-nunda lagi. Kudu segera diselesaikan biar nggak kebayang-bayang hantunya. Akhirnya ketika bisa punya waktu di akhir pekan yang lowong, saya langsung melanjutkan penerjemahan. Nggak sampai sore, eh kok udah selesai? Mungkin karena adrenalin terpacu, jadinya memunculkan semangat sendiri untuk bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa ditunda-tunda.

Pengerjaannya jadi lebih cepat dari yang saya perkirakan sebelumnya. Pada dasarnya kalau tidak ditunda-tunda, pekerjaan bisa lebih cepat selesai sih ya. Pertama kalinya punya pengalaman menerjemahkan subtitle film horor ternyata cukup menarik. Hampir setahun nyemplung ke dunia subtitling, sudah pernah nerjemah untuk sejumlah episode mulai dari acara dokumenter, drama Korea, serial yang agak komedi, hingga serial remaja, baru kali ini dapat film horor. Semoga ke depannya bisa dapat bagian nerjemah subtitle film-film dan serial yang lebih seru.