cr: pexels.com/@themarkdalton

408. Setelah dioperasi waktu itu, saya rawat inap di kamar nomor 408. Tak ada sesuatu yang istimewa dari nomor tersebut. Sampai kemudian saya ingat bahwa kamar yang saya tempati di hotel waktu berlibur ke Kuala Lumpur tahun lalu bernomor sama: 408. Setelah saya cek di galeri foto ponsel, benar ternyata memang nomornya sama. Apakah ini kebetulan? Hm, tampaknya memang kebetulan. Tapi ternyata ingatan saya tidak salah.

Bicara soal ingatan dan memori, kadang ada hal-hal dalam hidup yang selamanya tak terlupakan. Momen-momen yang sebagian memang berkesan, tapi ada juga yang entah karena alasan apa tak pernah bisa hilang dari ingatan.

Nomor 408.

Samar-samar ada beberapa hal yang masih saya ingat dari masa kecil saya. Momen saat menjenguk ibu yang baru melahirkan adik. Saat itu adik yang masih bayi dibedong dan saya hanya menyentuh kakinya. Momen bertabrakan saat naik sepeda roda dua dengan seorang teman, saat itu kelopak mata kanan saya sampai bengkak dan entah kenapa ada bagian yang terasa hilang (semacam amnesia?) yang tak bisa saya ingat. Anehnya, saya ingat momen kecelakaan itu, tapi sama sekali tidak ingat momen setelah kecelakaan dan cara saya bisa kembali ke rumah waktu itu. Yang saya ingat sepeda teman saya hancur lebur dan tak bisa dipakai lagi saat itu.

Masih teringat jelas momen saat masih kecil ketika saya meminta sesuatu ke ibu, ibu akan menjanjikannya untuk kapan-kapan memenuhinya karena tak bisa didapatkan langsung. Teringat jelas juga momen saat bapak mengantar saya ke sekolah dengan membonceng saya di sepeda roda duanya pada pagi hari. Ada juga momen saya pernah dikunci di kamar mandi karena tak berhenti menangis ingin dibelikan sepeda baru, heu.

Momen diusili di sekolah juga sebagian masih saya ingat. Momen masuk SMP dan saat itu bapak sampai menggadaikan televisi di rumah untuk membayar biaya masuk. Masih teringat jelas saat itu saya menunggu lama di sekolah dan ternyata waktu itu bapak belum ada uang untuk membayar biaya masuk ke SMP. Teringat jelas juga masa-masa ngotot minta diantar sampai ke sekolah karena hampir terlambat padahal bapak juga harus segera dinas. Momen diterima masuk kuliah lewat jalur SPMB. Momen wisuda yang terasa terburu-buru karena siang harinya setelah wisuda harus ke stasiun untuk kembali ke Bandung karena waktu itu saya baru diterima kerja seminggu di sebuah kantor penerbitan di Bandung.

Begitu banyak momen yang tak terlupakan. Berbagai macam memori masih membekas dalam ingatan. Akhir-akhir ini, momen-momen baru yang terjadi tidak bisa dibilang membahagiakan untuk diingat selamanya. For the first time in my life, I saw my dad crying. I saw my mom and dad got shocked because of something unexpected happened. I got stuck and confused not knowing what to do. I tried to fix the situation but I felt I was the one who should’ve have been blamed in the first place. In the end, I just needed to calm myself and not showing how much I’ve been hurt.

Salah satu momen tersedih yang terjadi awal tahun ini adalah saat saya harus menjalani operasi. Hanya ada bapak dan ibu yang mengantar dan menemani. Ibu yang menemani saya empat hari tiga malam penuh di RS. It broke my heart seeing my mom laying on the floor at night because she had to keep me company. I couldn’t do anything in that situation because I was on bed rest. Rasanya saya sangat bersalah membuat ibu harus berada di situasi seperti itu. Tapi saya juga tak bisa berbuat apa-apa. Tak pernah juga mau atau meminta untuk sakit. Belum bisa membahagiakan, saya malah makin merepotkan bapak dan ibu. Bapak pun jadi orang yang harus kesana kemari mengurus semua hal yang berhubungan dengan administrasi RS dan mencarikan barang-barang atau kebutuhan yang diperlukan. Entah apa jadinya saya jika tak ada bapak dan ibu. Entah harus bagaimana jika tak ada bapak dan ibu. Selama masa pemulihan pun, saya bergantung penuh pada mereka. Tak ada saudara lain yang dekat saat ini, hanya kepada mereka berdua saya meminta bantuan. Semoga Allah senantiasa memberi umur panjang dan kesehatan untuk ibu dan bapak. Semoga Allah tidak memberi saya sakit lagi supaya tak merepotkan ibu dan bapak lagi.

Kejadian dan situasi yang paling menyedihkan biasanya yang akan paling diingat dan melekat kuat dalam ingatan. Memori kita seakan menebal dengan sendirinya jika berhubungan dengan momen-momen sedih. Dan memori itu akan sering muncul dengan sendirinya di saat-saat tak terduga. Ah, semoga ke depannya akan ada lebih banyak memori yang lebih baik untuk diingat dan dikenang.

Ketika serangkaian momen kembali memenuhi memori kadang sulit untuk menenangkan diri. Begitu banyak kilasan kejadian yang meminta perhatian. Cara ingatan kita bermain-main di dalam otak kadang cukup bikin pusing juga. Sampai kemudian berandai-andai ingin rasanya hanya memori baik dan menyenangkan saja yang terekam. Supaya bisa selalu tersenyum setiap hari. Tapi ya itu tampaknya mustahil. Ada hitam dan putih. Ada gelap dan terang. Ada memori membahagiakan dan menyedihkan. That’s how life works.