cr: pexels.com/@fotios-photos

Mana yang lebih susah, memahami orang lain atau memahami diri sendiri? Mungkin untuk bisa memahami orang lain harus memahami diri sendiri terlebih dahulu. Bisa jadi dengan memahami orang lain kita jadi bisa lebih memahami diri sendiri. Lebih mudah menghakimi daripada memahami. Lebih sulit memiliki kebesaran hati daripada membiarkan perasaan menghakimi menguasai hati.

Seseorang yang kita pikir sudah kita pahami dengan baik bisa jadi mendadak berubah menjadi orang lain. Seseorang yang sebelumnya terasa begitu dekat dengan kita bisa tiba-tiba berubah menjadi orang asing. Kita tak pernah bisa mengetahui isi hati seseorang. Pun kita tak akan mampu menyelami perasaan dan memahami diri seseorang dengan sepenuhnya. Hal ini tak terlepas dari kenyataan bahwa orang lain pun mungkin banyak yang masih kesulitan memahami diri kita sendiri.

Kadang kita merasa tak ada orang yang memahami kita. Sampai kemudian kita sadar bahwa justru orang terdekat yang selama ini ada di sisi kitalah yang sebenarnya paling memahami kita. Orang-orang yang sudah dengan jelas mengorbankan banyak hal untuk kita itulah yang sesungguhnya bisa memahami kita. Setidaknya mereka tidak menuntut atau menghakimi kita dengan memojokkan keberadaan kita. Mereka ada begitu saja. Mereka hadir tanpa banyak kata. Kehadiran mereka baru terasa saat usia kita makin bertambah. Sebab di balik bertambahnya usia kita, usia mereka pun semakin menua.

Kita seringkali melihat ornag-orang yang jauh dari hadapan kita. Melihat sosok orang yang begitu asing dan tak kita kenal. Lalu menghakimi hidup kita sendiri. Menghakimi diri kenapa hidup kita tak sebaik mereka? Kenapa hidup kita tak seindah yang mereka punya? Kenapa hidup orang lain selalu tampak lebih bersinar dibandingkan hidup kita? Mudah sekali bagi kita menghakimi diri sendiri tanpa memahami keadaan dengan utuh.

Maaf. Satu kata tersebut sulit untuk bisa dihadirkan dengan ikhlas saat kita masih terlalu menghakimi seseorang. Kata tersebut sulit untuk dihadirkan saat belum bisa benar-benar memahami keadaan. Walaupun tidak mudah untuk memahami sebuah keadaan dengan seutuhnya, setidaknya menghapus sedikit keinginan untuk menghakimi bisa kita lakukan. Kita terlalu larut dalam perasaan dan keinginan untuk menghakimi sampai mata hati ini tertutup. Sampai hati ini rasanya sudah tertutup.

Memiliki kebesaran hati nyatanya tidak mudah. Harus ada ujian berat yang harus ditaklukkan. Harus ada masalah besar yang harus bisa diatasi dengan cara yang lebih dewasa. Perlu upaya yang tidak sebentar untuk bisa benar-benar menguasai cara yang tepat dalam memahami seseorang dan keadaan. Sampai kemudian tersadar bahwa sebenarnya mudah saja melakukannya saat kita bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang sederhana. Tak perlu mendramatisasi keadaan. Meski memang untuk bisa sampai pada titik itu, harus ada banyak anak tangga yang perlu ditaklukkan terlebih dahulu.

Memahami diri sendiri pun kadang masih terlalu rumit. Sebentar merasakan sesuatu. Sebentar kemudian mengubah sesuatu. Tadinya sudah yakin akan sesuatu, tiba-tiba berubah menginginkan yang berbeda. Kadang merasa baik-baik saja. Namun, tak jarang pula merasa begitu lelah luar biasa. Memahami keinginan sendiri pun bisa begitu membingungkan. Jika sudah sampai pada titik ini, maka yang diperlukan adalah menemukan jalan untuk kembali. Kembali berada di jalur yang benar.

Rasa sedih, kesal, kecewa, dan terluka, semua itu sungguh membuat hidup terasa begitu muram. Saat mengalaminya, rasanya sudah kehilangan harapan. Rasanya sudah putus asa pada keadaan. Untuk bisa kembali menjernihkan pikiran dan menyadarkan diri, tampaknya memang perlu jujur terlebih dulu pada diri sendiri. Perlu memahami diri sendiri. Jujur dengan perasaan dan emosi diri sendiri terlebih dahulu. Dengan cara itu, tak ada lagi ruang untuk menghakimi diri atau keadaan. Kebesaran hati dan jiwa pun bisa menempati ruang yang lebih lapang.

Kebesaran hati. Semakin bertambah usia, semakin besar tuntutan untuk bisa memiliki hati yang lebih besar. Sebab masalah-masalah baru datang silih berganti. Berusaha memahami keadaan dan diri sendiri. Berhenti menghakimi hal-hal yang berada di luar jangkauan diri. Memaklumi diri yang tak selalu bisa memahami orang lain, sekalipun orang tersebut adalah seseorang yang tadinya berada satu lingkaran dengan kita. Jika kemudian dia memutuskan untuk keluar dari lingkaran tersebut dan itu bisa membuatnya lebih bahagia, maka relakan. Lingkaran yang ada mungkin makin mengecil tapi mau bagaimana lagi. Butuh kebesaran hati untuk bisa menjaga lingkaran yang tersisa. Memahami situasi yang ada. Berhenti menghakimi persoalan-persoalan yang sudah sebaiknya tak diungkit lagi. Fokus pada memperbaiki diri dan menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan yang diinginkan oleh hati.

Perlu kembali mengingatkan diri bahwa ada orang-orang yang sudah sejak dulu menyerahkan sebagian besar hatinya untuk kita. Mereka yang selalu hadir untuk kita. Mereka yang juga ingin kita bahagia. Mereka yang juga akan kesulitan dan ikut kepikiran jika kita memiliki masalah. Mereka yang sering menyembunyikan kesedihan mereka sendiri demi memperlihatkan keadaan yang tampak baik-baik saja. Maka untuk mereka juga, kita perlu bisa belajar memahami. Kita perlu berhenti terus menghakimi. Saatnya kita juga belajar memiliki kebesaran hati. Demi mereka yang senantiasa hadir di sisi kita, kita perlu paham bahwa memiliki kebesaran hati itu merupakan sebuah kebutuhan. Bahkan itu adalah kebaikan. Kebaikan untuk diri kita sendiri.

Hari-hari yang akan kita lalui masih menyimpan banyak kejutan. Tetap yakinkan diri bahwa Sang Pemilik Semesta akan memberikan kejutan-kejutan terindah untuk kita. Hanya Dia yang bisa membantu dan memandu kita untuk bisa memiliki kebesaran hati tanpa terlalu banyak menghakimi. Lebih memahami lagi bahwa kita akan baik-baik saja selama yakin bahwa Allah SWT akan memberikan skenario terbaik dalam jalan hidup kita.